Catatan Hari Jadi Kota Batam ke-195
Hari Jadi Batam Momentum Mengingat Kejayaan Sejarah Melayu Batam
H. Bahktiar, Ketua DPW PKS Kepri. (Foto: istimewa)
Oleh: H. Bahktiar Lc. MA
PADA Rabu, 18 Desember 2024, baru saja kita memperingati Hari Jadi Batam (HJB). Saya kebetulan diundang dalam agenda Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRD Kota Batam. Memperingati Hari Jadi Batam (HJB) tentu tidak bisa kita pisahkan dari sejarah masa lalu yang identik dengan kejayaan sejarah kerajaan Melayu Kesultanan Riau Lingga.
Merujuk dari berbagai referensi sejarah Kota Batam, bermula pada tahun 1829 ketika Sultan Abdulrahman Syah, penguasa Kesultanan Riau-Lingga, bersama Yang Dipertuan Muda Riau VI, Raja Jakfar, memberikan mandat kepada Raja Isa untuk membuka dan memimpin wilayah Nongsa, yang terletak di utara Pulau Batam. Nama “Nongsa” sendiri berasal dari nama julukan Raja Isa, yaitu Nong Isa, yang kemudian diabadikan menjadi nama daerah tersebut.
Sebagai pemimpin wilayah, Raja Isa mendirikan kampung pertama di Nongsa, yang menjadi cikal bakal peradaban Batam. Di bawah kepemimpinannya, kawasan ini mulai berkembang sebagai tempat pemukiman strategis yang mendukung aktivitas maritim, perdagangan, dan pertahanan Kesultanan Riau-Lingga. Raja Isa juga memantapkan pengelolaan sumber daya lokal, seperti hasil laut dan hutan, yang menjadi komoditas penting di wilayah Selat Malaka.
Peran Raja Isa dalam Sejarah Batam
Mengutip berbagai referensi dari laman-laman online terkait sejarah Batam disebutkan bahwa Raja Isa, putra dari Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau V, dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah awal Batam. Kepemimpinannya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik wilayah, tetapi juga pada pembentukan identitas budaya dan keagamaan masyarakat setempat. Di bawah kepemimpinan Raja Isa, Islam berkembang pesat di Batam, yang menjadi bagian integral dari tradisi Melayu.
Setelah wafatnya Raja Isa pada tahun 1831, Batam tetap menjadi wilayah penting dalam Kesultanan Riau-Lingga. Wilayah ini kemudian dibagi ke dalam beberapa unit administratif yang disebut “Wakilschap” untuk mengelola pemerintahan lokal, sementara pusat kekuasaan Kesultanan berada di Pulau Penyengat.
Kejayaan Islam dan Budaya Melayu
Kesultanan Riau-Lingga, di mana Batam termasuk di dalamnya, merupakan salah satu pusat kejayaan Melayu dan Islam di Asia Tenggara. Wilayah ini memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam, dengan masjid dan madrasah yang menjadi pusat pendidikan agama. Pada saat yang sama, adat istiadat Melayu berkembang pesat dengan nilai-nilai Islam sebagai landasannya.
Tradisi Melayu di Batam dan Kepulauan Riau tetap dilestarikan hingga kini, mulai dari seni budaya hingga hukum adat. Peran Kesultanan Riau-Lingga dalam membangun identitas Melayu dan Islam memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan masyarakat modern di wilayah ini.
Hari Jadi Kota Batam dirayakan setiap tanggal 18 Desember, sebagai penghormatan terhadap sejarah pembentukan wilayah ini pada tahun 1829. Dalam peringatan ini, masyarakat dan pemerintah setempat mengadakan berbagai kegiatan budaya dan ziarah ke makam Raja Isa di Nongsa. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang refleksi sejarah, tetapi juga wujud penghormatan kepada nilai-nilai budaya dan agama yang diwariskan oleh nenek moyang.
Sejarah Hari Jadi Kota Batam, peran Raja Isa, dan kejayaan Islam Melayu merupakan warisan yang harus terus dihormati dan dijaga. Melalui pemahaman ini, masyarakat Batam dapat melanjutkan tradisi keagamaan dan kebudayaan yang telah menjadi identitas yang tak terpisahkan, sekaligus menjaga semangat persatuan dan kemajuan. Dengan warisan sejarah yang kaya, Batam tidak hanya menjadi pusat ekonomi modern, tetapi juga simbol kejayaan Melayu dan Islam yang abadi.
Dari aspek sejarah kejayaan Melayu kita perlu mengambil beberapa pelajaran berharga diantaranya: Pertama, Pendirian Permukiman Awal di Nongsa. Raja Isa membuka dan mengembangkan kampung pertama di wilayah utara Pulau Batam yang kemudian dikenal sebagai Nongsa (dari nama julukan Raja Isa, yaitu Nong Isa). Pendirian kampung ini menjadi awal dari perkembangan pemukiman di Batam yang sebelumnya lebih banyak digunakan sebagai tempat persinggahan para pedagang dan pelaut.
Kedua, Pemantapan Kekuasaan Melayu di Batam. Dengan mandat dari Sultan Abdulrahman Syah dan Yang Dipertuan Muda Riau VI, Raja Jakfar, Raja Isa berhasil memantapkan kekuasaan Melayu di kawasan Batam. Pemerintahan ini menciptakan struktur administrasi awal untuk mengelola wilayah Batam sebagai bagian dari Kesultanan Riau-Lingga.
Ketiga, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Maritim. Batam, yang terletak strategis di jalur perdagangan Selat Malaka, menjadi wilayah penting untuk pengawasan maritim dan perdagangan. Raja Isa memanfaatkan posisi ini untuk mendukung kegiatan ekonomi, seperti perdagangan hasil laut dan sumber daya alam.
Keempat, Penyebaran Budaya dan Islam. Sebagai seorang pemimpin dalam Kesultanan Riau-Lingga, Raja Isa berperan dalam memperkuat tradisi Melayu dan penyebaran Islam di kawasan Batam dan sekitarnya. Nilai-nilai adat Melayu, yang berlandaskan pada prinsip Islam, terus diwariskan dan dilestarikan, menciptakan identitas budaya lokal yang kuat.
Kelima, Landasan Administrasi Lokal. Di bawah kepemimpinan Raja Isa, kawasan Batam menjadi salah satu wilayah administrasi (wakilschap) dalam Kesultanan Riau-Lingga. Ini menciptakan landasan awal bagi pengelolaan administrasi yang terorganisir, yang menjadi cikal bakal sistem pemerintahan di Batam saat ini.
Keenam, Warisan Sejarah dan Kehormatan Lokal. Meski Raja Isa memerintah dalam konteks lokal, kepemimpinannya dikenang sebagai masa awal pembangunan Batam. Warisan ini dihormati oleh masyarakat melalui peringatan Hari Jadi Batam dan ziarah ke makam Raja Isa setiap tahun, yang menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan budaya setempat.
Capaian Raja Isa tidak hanya membawa dampak langsung pada masa pemerintahannya, tetapi juga membentuk fondasi sejarah dan budaya yang terus dihormati hingga kini di Batam dan Kepulauan Riau. Semoga dari ingatan sejarah kejayaan Melayu ini kita semua bisa berkolaborasi untuk membawa Batam maju tanpa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal dan sejarah kejayaan kerajaan Melayu masa lalu.
Penulis adalah Ketua DPW PKS Kepri sekaligus Wakil Ketua III DPRD Provinsi Kepri

Komentar Via Facebook :