Nasib Landmark 'Welcome to Batam' Terancam, Sekda Batam: Tanyakan Sama Pak Wali

Nasib Landmark

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Jefridin. (Foto. Batamnews.co.id).

Nurjali

Batam, Batamnews - Kontroversi mengenai landmark "Welcome to Batam" di Bukit Clara semakin memanas. Landmark yang menjadi simbol kebanggaan Kota Batam selama lebih dari satu dekade ini kini terancam oleh pembangunan kawasan komersial dan hunian baru yang digagas oleh pengembang properti di sekitarnya. 

Proyek bernama "The Living Peak" ini direncanakan mencakup hotel, apartemen, ruko, serta museum seni, dan telah memulai pematangan lahan di bawah area landmark tersebut.

Namun, alih-alih memberikan klarifikasi, Sekretaris Daerah Kota Batam, Jefridin, justru menghindari pertanyaan media mengenai dampak pembangunan proyek tersebut terhadap landmark ikonik kota. 

Dalam wawancara singkat dengan batamnews.co.id, Jefridin terlihat meninggalkan lokasi dengan tergesa-gesa sambil memberikan jawaban singkat, "Tanyakan saja sama pak wali," sebelum berlalu dari para wartawan, Minggu, 27 Oktober 2024.

Baca juga: Festival Kompang Meriahkan HUT ke-24 PT PLN Batam dan HLN ke-79 di BCS Mall

Sejak awal bulan ini, pembangunan The Living Peak telah menimbulkan kekhawatiran, terutama dari masyarakat dan wisatawan yang menganggap landmark "Welcome to Batam" sebagai bagian dari identitas kota. 

Banyak yang khawatir bahwa bangunan tinggi dari proyek ini akan menghalangi pemandangan dan merusak estetika landmark yang telah menjadi daya tarik wisata sejak dibangun pada 2010.

Amin, seorang wisatawan yang melintas di Bukit Clara, mengungkapkan kekesalannya. "Dari sini saja sudah mulai agak menutupi ikonnya, sayang banget ya," ujarnya sambil menunjuk ke arah pembangunan yang berlangsung di bawah landmark tersebut.

Landmark "Welcome to Batam" memiliki sejarah panjang dan bermakna bagi masyarakat. Dibangun dengan anggaran Rp472,4 juta dari APBD Kota Batam pada 2010, landmark ini dirancang untuk mendukung program Visit Batam 2010 dan menandai Batam sebagai gerbang utama bagi wisatawan internasional, termasuk pengunjung dari Singapura dan Malaysia yang tiba melalui Pelabuhan Feri Internasional Batam Centre.

Sebelum landmark ini berdiri, Bukit Clara bahkan pernah terancam akan diratakan oleh proyek perumahan, namun pengerukan akhirnya dihentikan, menyelamatkan lokasi yang kini menjadi salah satu spot ikonik dan favorit bagi wisatawan.

Saat ini, pembangunan The Living Peak memunculkan kekhawatiran akan mengubah wajah kawasan Bukit Clara secara signifikan. 

Baca juga: Pelantikan 169 Guru Penggerak di Batam: Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Merdeka Belajar

Meski diproyeksikan untuk membawa fasilitas modern dan menarik wisatawan, kehadiran proyek tersebut dikhawatirkan justru mengurangi daya tarik visual landmark "Welcome to Batam" yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Batam.

Namun, hingga kini pihak Pemkot Batam belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana pengembangan di sekitar landmark tersebut. 

Ketiadaan sikap resmi dari Pemkot Batam menambah pertanyaan publik mengenai masa depan landmark ini di tengah pesatnya pembangunan kawasan komersial dan hunian.

Apakah ikon "Welcome to Batam" dapat bertahan di tengah perkembangan kota atau justru akan tersingkir oleh proyek komersial? Hanya waktu yang akan menjawab.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :