Kisah Almarhum Epi RM Pangek Ombilin Semasa Hidup: Gemar Bergaul dan Sikap Altruisme
Arlon Veristo Anggota DPRD Kota Batam saat melayat ke Rumah Duka Tokoh Minang uda Epi.
Batam, Batamnews - Sebuah duka mendalam melanda keluarga besar perantau Minangkabau. Pada Jumat, 17 Mei 2024, salah seorang tokoh suku Minangkabau di Batam, Alfian Muslim, yang akrab disapa Uda Epi, pemilik Rumah Makan (RM) Pangek Ombilin, berpulang ke Rahmatullah di usia 61 tahun di RS Mayapada, Jakarta Selatan.
Uda Epi diketahui meninggal di Jakarta setelah berjuang melawan penyakit jantung yang telah menyebabkan komplikasi pada organ dalam tubuhnya. Uda Epi, seorang pria kelahiran Lintau, Tanah Datar, Sumatera Barat, merantau ke Batam pada tahun 1990-an.
Sejak muda, Uda Epi dikenal sebagai orang yang supel, mudah bergaul, dan memiliki sikap altruisme (kepedulian yang tinggi terhadap orang lain) oleh orang-orang di sekitarnya maupun perantau Minangkabau.
Pada malam Tahlilan dan Yasinan setelah Uda Epi dikebumikan pada Sabtu, 18 Mei 2024, malam, Batamnews.co.id berkesempatan mewawancarai istri Uda Epi, Mida, di kediamannya, Bengkong Jaya, Bengkong, Batam.
Baca juga: Mengenal Ustadz Adam, Mantan Musisi Bertato yang Kini Berdakwah Hingga Ke Luar Negeri
Mida menceritakan bagaimana sosok Uda Epi semasa hidup dan perjuangannya bersama membangun usaha RM Pangek Ombilin yang cukup terkenal di Batam.
Uda Epi, kata Mida, dahulunya bukanlah seorang pengusaha seperti yang dikenal sekarang. Pertama kali ia mengenal Uda Epi ketika dirinya masih bekerja di pabrik di Kawasan Muka Kuning dan tanpa sengaja bertemu dengannya saat pulang kerja.
"Saat itu, beliau adalah supir pribadi dari salah satu bos kontraktor di Batam. Aku terpikat oleh kegantengan Uda Epi. Pertemuan pertama itu akhirnya berlanjut, dan dalam waktu sekitar 6 bulan kami pacaran dan langsung menikah," kenang Mida.
Awal menikah, Mida menceritakan asam garam kehidupan bersama Uda Epi. Dahulu mereka masih mengontrak di sebuah rumah petak di sekitar Sei. Panas, Batam.
"Uda Epi suka sekali menampung kawan-kawannya yang dari kampung datang ke Batam. Nama Uda Epi mulai dikenal oleh perantau Sumatera Barat karena banyak orang yang ditampung ini menyebarkan kabar dari mulut ke mulut," ungkapnya.
Berkat jiwa sosial Uda Epi yang tinggi, akhirnya banyak orang-orang yang ditampung ini memberikan kabar kepada orang-orang Minangkabau lainnya, dan di situlah nama Uda Epi mulai dikenal.
"Dulu itu mungkin yang menginap di rumah orang dari kampung sekitar 10-12 orang. Setiap hari aku masak untuk mereka, dan ada juga yang sakit aku rawat. Aku hanya satu-satunya wanita di rumah, selebihnya kawan-kawan Uda Epi. Ada juga yang sekarang sukses di Batam dan ada yang sudah kembali ke kampung," bebernya.
Baca juga: Toko Muda Pengusaha Pesisir Hasim Terima Penghargaan Anugerah Batam Madani Bidang Sosial
Membangun Usaha RM Pangek Ombilin Tahun 2007
Usaha RM Pangek Ombilin dimulai pada tahun 2007. Bermodal keahlian memasak yang dimiliki Mida dan masakannya yang diminati oleh teman-teman Uda Epi, ia terdorong untuk mencoba berniaga demi memperbaiki keadaan ekonomi usai memutuskan resign dari perusahaan asuransi.
"Pada waktu itu, aku resign dari perusahaan asuransi dan memang sudah ada niat mencoba berniaga RM Padang. Kebetulan, ada seorang ibu-ibu yang buka usaha masakan Padang menawarkan kiosnya di area Sei. Panas. Harga kiosnya waktu itu Rp 3 juta. Aku merasa itu harga yang sangat murah, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kios itu. Kiosnya dua lantai," ujarnya.
Cikal bakal RM Pangek Ombilin merupakan warisan dari ibu yang menawarkan kios kepada Mida.
"Aku melanjutkan usaha ibu itu. Pangek Ombilin adalah nama usaha ibu ini. Akhirnya aku diajari cara-cara memasak dan sistem berniaga oleh ibu tersebut," kata Mida.
Setelah sekitar sebulan belajar dengan ibu tersebut, Mida akhirnya mengerjakan sendiri usaha RM Pangek Ombilin.
"Pesan ibu itu, belanja di pasar tak boleh lebih dari Rp 400 ribu untuk modal satu hari. Jika modal Rp 400 ribu ini dapat laku hingga Rp 600 ribu, berarti usaha masakan Padang ini sudah bisa dikatakan berhasil," ungkap Mina.
Ternyata, membangun usaha itu tidak semulus yang dibayangkan. Jatuh bangun selama 3 tahun merintis usaha dirasakan Mida, hingga ia terpaksa berhutang dan menggadaikan hartanya untuk mempertahankan usaha ini.
Selama 3 tahun yang berat ini, peran Uda Epi sangat sentral. Dengan pergaulan Uda Epi yang luas, ia sering mengajak teman-temannya untuk makan siang di warung. Pelan-pelan Mida mendapatkan hasil dari jerih payahnya membangun usaha masakan Padang.
"Tahun 2009, akhirnya napas aku agak lega, warung sudah mulai ramai dikunjungi orang. Aku bisa melunasi utang-utang dan mulai merekrut karyawan. Dulu selama 3 tahun aku hanya berdua dengan kakakku yang membangun usaha ini. Capeknya luar biasa," kenang Mida.
Seiring berjalannya waktu, RM Pangek Ombilin berkembang pesat dan kini bisa beromset Rp 20-30 juta sehari.
"Alhamdulillah, berkat bersyukur dan mungkin juga karena Uda Epi yang suka membantu banyak orang. Pelan-pelan doaku dikabulkan Allah SWT satu persatu, dan ada saja orang-orang baik yang datang mendukung kami," terangnya.
Putra sulung Uda Epi, Fhinki, juga mengungkapkan hal serupa. Sebelum Uda Epi berpulang, ia sering dimintai tolong oleh ayahandanya untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang tidak ia kenal.
"Papa itu dari dulu tidak mengerti menggunakan mobile banking atau semacamnya. Saya sering dimintai tolong oleh papa untuk mentransfer uang kepada orang-orang. Katanya itu saudara atau kawannya. Sempat saya curiga kenapa papa suka sekali seperti itu, tapi pada hari pemakaman beliau dan Tahlilan tadi saya baru sadar mengapa papa sangat dicintai dan disukai oleh banyak orang. Banyak hikmah yang saya ambil dari papa," ungkapnya.
Pandangan Sahabat Uda Epi
Salah satu sahabat Uda Epi, Arlon Veristo (Anggota DPRD Kota Batam), yang turut hadir pada malam Tahlilan dan Yasinan, juga sempat diwawancarai oleh Batamnews.co.id.
"Saya kenal beliau sejak muda di kampung halaman, Lintau, Tanah Datar, Sumatera Barat. Beliau adalah seorang pekerja keras dan pejuang. Beliau salah satu tokoh dari Sumatera Barat yang berasal dari Lintau. Kami sangat kehilangan," ujar Arlon Veristo.
Arlon Veristo meminta kepada seluruh masyarakat Batam dan keluarga besar Minangkabau di Batam untuk mendoakan beliau agar wafat dalam Khusnul khatimah dan ditempatkan di surga di sisi Allah SWT.
"Duka ini tentu tidak boleh berlarut, dan kita dukung anak-anak beliau untuk saling mengingatkan dan menguatkan," pesannya.
Arlon Veristo juga mengingatkan momen-momen dirinya dengan Almarhum ketika sama-sama berjuang dari rantau di kota Batam.
"Saya dan beliau masuk ke Batam sekitar tahun 90-an. Beliau dulu dari supir taksi, supir bis, kami orang Minang itu solid di rantau. Kami sudah sangat dekat sekali. Intinya kita doakan Almarhum Khusnul khatimah," tutupnya.
Kepergian Uda Epi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan keluarga besar perantau Minangkabau di Batam. Uda Epi meninggalkan istri, Mida, dan tiga anak tercinta, Fhinka, Fhinki, dan Vita.
Banyak kisah dan pelajaran hidup yang dapat diambil dari sosok Uda Epi. Semoga Almarhum diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan ketegaran menghadapi ujian ini. Al-Fatihah. (CR 1)

Komentar Via Facebook :