Round Up

Kisah Tragis 'Si Topeng Monyet' Batam Berakhir di Ujung Senapan 

Kisah Tragis

ilustrasi.

Muhammad Ikhsan

DOR.. Tembakan senapan angin warga menembus dada monyet berbaju hitam itu. Entah diberi nama siapa ia oleh tuannya. Namun yang jelas, warga di sejumlah perumahan di Batam Center sempat dibikin resah.

Kita kasih saja nama hewan itu wukong. Terlihat keliaran di Perumahan Frensiana Garden, Bida Asri, Modena Residen, Perumahan Lavender dan lainnya. Namanya monyet, kelakuan Wukong bikin warga takut. 

Melompat dari atap ke atap. Merusak sangkar burung dan mengacak acak jemuran warga. Tak jarang Wukong mengejar-ngejar anak-anak kecil. Para orangtua pun cemas. Seperti kejadian di Perumahan Bida Asri 2. Wukong mencakar seorang bocah. Tak hanya itu seorang balita 4 tahun di Perumahan Modena Residen digigit.

Marisa, seorang warga menceritakan, tetangganya dan balita mereka datang ke rumahnya. Saat baru masuk pintu, tiba-tiba ada seekor monyet datang dan menyerang kaki kanan balita itu.

"Robek dalam, sampai dagingnya sedikit tercecer keluar di betisnya karena digigit. Kaki kanan calar. Akhirnya dibawa ke RS Awal Bros," terangnya.

Kondisi balita tersebut ternyata cukup parah. "Malam pendarahan lagi, akhirnya balik lagi dijahit ke RSAB. Tapi sangat disayangkan stok suntik rabies udah lama kosong dan tidak tahu kapan ada lagi. Begitu kata dokter di UGD," ucapnya.

Hewan topeng monyet lepas

Seekor monyet menyatroni sejumlah perumahan di kawasan Dotamana, Batam Kota. (Foto: ist/batamnews)

Dari sebuah video yang kemudian viral, tampak seorang pawang topeng monyet tampil di sebuah perumahan di Batam. Monyet itu dipakaikan pakaian serupa mirip yang dikenakan Wukong. 

Entah video itu Wukong saat masih bersama pawangnya, atau itu monyet lain. Namun diduga kuat, Wukong adalah piaraan pawang topeng monyet. 

Biasa bermain menghibur dan mengundang gelak tawa anak-anak. Namun semenjak lepas, Wukong menjadi momok. Ia menjadi lebih liar. Mungkin saja, Wukong itu stres berpisah dengan tuannya.

 

Kesenian topeng monyet melibatkan seorang pawang yang melatih monyetnya untuk melakukan berbagai aktivitas yang meniru tingkah laku manusia, misalnya mengenakan pakaian, berdandan dan pergi belanja. Monyet yang digunakan di Indonesia biasanya adalah spesies Macaca Fascicularis atau biasa disebut juga crab eating monkey atau long tailed monkey.

Monyet yang melakukan atraksi-atraksi ini diiringi dengan musik yang dimainkan olah satu atau beberapa orang. Alat musik yang dimainkan biasanya berupa gendang kecil yang dimainkan dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain memegang tali pengikat monyet. 

Pertunjukan ini dimainkan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di daerah kawasan permukiman.Kegembiraan anak-anak ini menjadi rezeki bagi rombongan topeng monyet. Uang saweran dari warga merupakan sumber nafkah mereka menghidupi keluarga.

Berbaju hitam

Lathifa Makmurini , warga Perumahan Frensiana Garden, RW 52, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota menduga Wukong adalah monyet piaraan yang lepas. Ia memiliki baju berwarna hitam bergaris puting di pinggir. 

"Monyet berbaju hitam itu lalu lalang dari setiap gang di perumahan. Sangat mengganggu aktivitas warga dan juga merusak tanaman warga," ucapnya.

Ia menyebutkan warga sudah beberapa kali mencoba menangkap monyet tersebut, hanya saja tak berhasil.  "Kami coba menelfon Damkar tapi mereka bilang tidak bisa, karena tidak punya alat untuk menangkapnya," aku Lathifa.

Karena meresahkan, menurutnya sebagian warga jadi khawatir keluar rumah dan buka pintu. "Warga jadi takut buka pintu takut monyetnya masuk. Karena kami di sini dan perangkat RT juga kebingungan gak bisa nangkapnya. Kami harap pemiliknya yang merasa kehilangan monyet bisa jemput ke sini," ucap dia saat itu.

Dayat, warga Perumahan Modena, monyet yang mengenakan baju itu tak hanya menyerang anak-anak, namun juga orang dewasa. Ia sempat hendak digigit kala menangkap hewan itu.

"Kaki saya mau digigit. Kaki saya sudah dipegangin sama monyet itu, tapi saya diemin terus pelan-pelan saya pegang bagian pundak  akhirnya saya lepas lagi karena berisiko," kata dia, Rabu siang.

Namun Dayat tidak berani memukul atau melukai monyet tersebut, lantaran ia khawatir monyet tersebut milik seseorang atau peliharaan. Sehingga setelah ditangkap, monyet tersebut kembali dilepaskannya, meskipun nyaris menggigit kakinya.

 

Selain itu, dia juga takut akan terlibat masalah jika memukul monyet tersebut. Seperti adanya kasus-kasus yang melukai hewan yang berbuntut hingga pidana.

"Takut saya, nanti kalau dipukul atau dilukai, malah jadi masalah. Karena ada saya lihat orang lukai kucing malah kena masalah," katanya lagi.

Mati ditembak

Wukong sebelumnya terlihat berkeliaran di kawasan Perumahan Grand BSI. Monyet mengenakan baju hitam tersebut berada di atas atap sebuah TK.

Warga juga sempat melakukan perburuan untuk menangkap monyet itu. Hanya saja, monyet itu dapat kabur dan menghilang.

Warga akhirnya berinisiatif memburu Wukong. Riwayatnya pun tamat. Ia ditembak menggunakan senapan angin pada Rabu (11/1/2023) sekira pukul 16.00 WIB di belakang Perumahan Lavender (sampingan sama Perumahan Modena).

BKSDA Catat Ada 15 Kasus Konflik Satwa dan Manusia

Sejumlah kasus konflik satwa dengan manusia ditemukan di Batam, Kepulauan Riau dalam beberapa waktu belakangan.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah II Batam menyatakan telah menangani 15 kejadian interaksi negatif antara manusia dengan monyet ekor panjang di Kota Batam. 

Kepala Seksi BKSDA wilayah II Batam, Decky Indra Prasetya mengatakan sebagian besar kejadian yang ditangani tersebut berada di kawasan permukiman, terutama permukiman yang berbatasan dengan kawasan hutan atau permukiman yang sebelumnya merupakan kawasan hutan. 

“Dan ada 2 kasus yang kami tangani karena manusia yang memelihara monyet ekor panjang secara ilegal,” ujarnya, Sabtu (14/1/2023). 

 

Adapun permukiman yang terjadi interaksi negatif antara monyet ekor panjang dengan manusia berada di wilayah Nongsa, Batam Centre dan Tiban, seperti di Perumahan Citramas Indah, Kantor Polda Kepri, Bandara Hang Nadim, PT Ecogreen Oleochemical, Baloi Indah, dan Tiban Housing.

Dari interaksi negatif yang ditangani oleh BKSDA wilayah Batam, jumlah monyet yang berinteraksi negatif dengan manusia sebanyak 54 ekor, dan sebanyak 40 ekor diantaranya berhasil direlokasi. “Sisanya monyet tersebut melarikan diri ke kawasan hutan terdekatnya,” kata dia. 

Pihaknya juga menyimpulkan penyebab monyet ekor panjang yang mendekati permukiman, di antaranya karena perubahan habitat yang masif, pembukaan kawasan berhutan menjadi terbuka tanpa memperhatikan kondisi ekosistem yang sudah terbentuk pada lokasi tersebut. 

Selanjutnya karena keterbatasan habitat pakan di alam, terutama pada kawasan yang berubah dari hutan menjadi kawasan terbuka. Hal ini membuat monyet terkurung atau terenclave pada lokasi tersebut. 

Selain itu, kebiasaan manusia yang memberikan pakan kepada monyet baik langsung atau tidak. Seperti kondisi tempat pembuangan sampah yang tidak tertutup, tanaman buah-buahan yang berbeda di permukiman dan manusia yang sengaja memelihara monyet. 

VIDEO DARI BATAMNEWS :



Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait