Singapura Longgarkan Pembatasan Aktivitas Pekerja Asing

Singapura Longgarkan Pembatasan Aktivitas Pekerja Asing

Merlion Park, salah satu landmark Singapura yang menjadi tujuan favorit pelancong. (Foto: ist)

Singapura - Mulai hari ini, pekerja asing di Singapura tidak memerlukan izin khusus untuk keluar dari asramanya masing-masing, setelah dua tahun menjalani berbagai pembatasan akibat Covid-19.

Namun, para aktivis mengkritik keputusan untuk mempertahankan beberapa pembatasan yang bersifat 'represif'.

Seorang perwakilan dari kelompok lokal yang mendukung pekerja asing, Organisasi Kemanusiaan untuk Migrasi Ekonomi, Desiree Leong, menyambut baik penghentian kondisi exit pass tetapi mengecam pembatasan yang tersisa sebagai 'menindas'.

"Untuk warga di sini (selain tenaga kerja asing), tidak ada lagi pembatasan pergerakan. Cukup sulit untuk memahami alasan pemberlakuan beberapa pembatasan terhadap tenaga kerja asing," katanya dikutip Berita Harian dari AFP, Jumat (24/6/2022).

Sekitar 300.000 pekerja asing, sebagian besar dari Asia Selatan, tinggal di asrama di negara itu, di mana mereka biasanya berbagi kamar dan tidur di ranjang susun.

Gedung kompleks asrama yang luas terkena dampak wabah COVID-19 dan pada awal pandemi, seluruh pekerja diperintahkan untuk menjalani jam malam.

Alhasil, fokus yang sebelumnya jarang diberikan kepada pekerja asing juga mendapat perhatian para aktivis hak asasi manusia karena kondisi kehidupan yang buruk dan upah yang rendah.

Bagi sebagian besar penduduk di Singapura, pembatasan pergerakan yang ketat hanya diberlakukan untuk waktu yang singkat, tetapi bagi sebagian besar pekerja asing, mereka diperintahkan untuk tetap tinggal di asrama masing-masing kecuali untuk pergi bekerja atau melakukan tugas yang berhubungan dengan pengiriman.

Pihak berwenang secara bertahap melonggarkan pembatasan dengan mengizinkan pekerja asing untuk mengunjungi 'pusat rekreasi' yang dibangun khusus dan meluncurkan skema yang memungkinkan mereka untuk mengajukan 'pintu keluar' khusus untuk mengunjungi daerah-daerah tertentu.

Mulai hari ini, pekerja industri termasuk sektor konstruksi dan pemeliharaan tidak lagi memerlukan izin untuk meninggalkan asrama masing-masing.

Namun, karena pihak berwenang di Singapura masih menerapkan langkah-langkah kontrol yang ketat, mereka harus mengajukan izin untuk mengunjungi empat lokasi populer pada hari Minggu dan hari libur nasional, dengan 80.000 tiket tersedia setiap hari.

Seorang juru bicara Kementerian Sumber Daya Manusia mengatakan kepada AFP bahwa langkah itu diambil untuk mengendalikan jumlah masuk yang diperkirakan tinggi di daerah tersebut.

“Meskipun kami mengizinkan kunjungan masyarakat, tetap perlu waspada karena epidemi belum berakhir,” katanya.

(dod)