Kazakhstan Mencekam, Presiden Perintahkan Tembak Mati Perusuh

Kazakhstan Mencekam, Presiden Perintahkan Tembak Mati Perusuh

Kerusuhan di Kazakhstan. (Foto: Pavel Mikheyev/Reuters via Jerusalem Post)

Almaty - Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev menolak seruan untuk melakukan pembicaraan dengan pengunjuk rasa, setelah kerusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya meletus selama beberapa hari terakhir.

Sebaliknya, ia bersumpah untuk melenyapkan 'bandit bersenjata' dan memberdayakan pasukan keamanan untuk menembak mati tanpa peringatan.

Tokayev, saat menyampaikan pesan kasar, juga menyatakan "terima kasih khusus" kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah aliansi militer yang dipimpin Moskow mengirim pasukan ke Kazakhstan untuk membantu menangani krisis.

Seorang koresponden AFP mengklaim bahwa pasukan keamanan bertindak untuk menutup daerah-daerah strategis di Almaty - kota terbesar di Kazakhstan dan pusat insiden kekerasan baru-baru ini - dan melepaskan tembakan ke udara jika ada yang mendekat.

Situasi di tempat lain di sekitar kota dipandang sebagai 'kota terbengkalai' dengan bank, supermarket, dan restoran tutup.

Beberapa toko kecil masih beroperasi tetapi makanan siap terjual dalam waktu singkat.

Tokayev mengatakan ketertiban telah dipulihkan di sebagian besar Kazakhstan, setelah protes meletus minggu ini untuk memprotes kenaikan harga minyak yang mengarah ke kekerasan yang meluas.

“Teroris terus merusak properti dan menggunakan kekuatan bersenjata pada warga sipil.

"Saya telah memerintahkan tim otoritas untuk menembak mati tanpa peringatan," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Dia pada saat yang sama menggambarkan desakan pihak asing untuk mengadakan negosiasi tentang kerusuhan itu, sebagai 'omong kosong'.

"Kita menghadapi bandit-bandit bersenjata dan terlatih, baik lokal maupun asing. Bandit-bandit itu bersama teroris. Karena itu, mereka harus dimusnahkan. Ini akan segera dilakukan," katanya.

Kazakhstan saat ini menghadapi krisis terbesar dalam beberapa dekade, telah lama dilihat sebagai salah satu bekas republik Soviet yang paling stabil di Asia Tengah. 

(dod)