Kala Natal Semakin 'Populer' di Arab Saudi

Kala Natal Semakin

Foto: AP/Amr Nabil

Riyadh, Batamnews - Perayaan Natal sepertinya semakin populer di Arab Saudi. Mengutip Arab News, sejumlah dekorasi Natal bahkan menghiasi tempat-tempat keramaian di pusat kota negeri Raja Salman itu.

Menurut sejumlah warga asing di sana, Natal dulu dirayakan ketat dan tertutup. Namun tidak sekarang lagi.

"Anda mendengar cerita tentang orang yang menyelundupkan pohon Natal dan merayakannya secara pribadi," kata Sydney Turnbull, warga AS yang sudah tujuh tahun tinggal di Arab Saudi.

Baca juga: Saudi Buka Pintu Bagi WNI, Jemaah RI Sudah Bisa Umrah Lagi

"(Namun) tahun ini khususnya, mungkin merupakan tampilan Natal yang paling umum. Dari melihat kafe dan restoran berubah menjadi negeri ajaib musim dingin, manusia salju berhiaskan permata, dekorasi dan ornamen dan Starbucks yang menawarkan minuman liburan dalam cangkir bertema yang sama dengan yang dimiliki teman dan keluarga saya di rumah (AS)," jelasnya.

Ia pun mengatakan lebih banyak rekannya sesama ekspatriat merayakan Natal di Arab Saudi secara terbuka. Mereka bisa duduk dan makan siang, sesuatu yang sebelumnya mereka lakukan tertutup.

Hal sama juga dikatakan seorang warga Italia, Enrico Catania. Menurutnya, kini Arab Saudi semakin terbuka dan membuatnya merasa betah.

Ia mengaku semuanya dimulai sejak 2015. Ada pelonggaran dari sebelumnya yang tak diizinkan sama sekali.

"Kami selalu menikmatinya dengan orang-orang terdekat dan tersayang, tetapi ada pelonggaran yang nyata sejak 2015 dalam merayakan budaya yang hampir tidak diizinkan pada periode sebelumnya," kata Catania.

"Saya akan mengatakan meskipun secara umum dan dalam beberapa waktu terakhir, kesadaran dan penerimaan kebiasaan budaya seperti itu meningkat meskipun ada perbedaan budaya," tambahnya lagi.

Bukan hanya warga asing, warga asli Arab Saudi juga turut merayakan Natal. Ashwag Bamhafooz, ibu rumah tangga Arab Saudi asal Jeddah, mengaku diundang untuk merayakan Natal bersama teman-teman suaminya dari Filipina.

"Keluarga ibu saya, meskipun mereka Sunni Lebanon, merayakan Natal dan saling memberi hadiah," kata Bamahfooz.

"Saya merasa tidak apa-apa merayakan Natal dan Tahun Baru seperti kita merayakan tahun Hijriah," jelasnya lagi.

Sementara itu, seorang warga Arab Saudi yang mengajar bahasa Inggris di Princess Nourah University, Muneera Al-Nujaiman mengatakan ada batasnya dalam toleransı. Bukan berarti warga juga harus merayakan Natal.

"Saya sangat percaya dengan toleransi budaya, artinya kita mengizinkan orang-orang untuk merayakan agama mereka di Arab Saudi. Namun, saya tidak merayakannya karena hal itu tidak mencerminkan identitas agama atau budaya saya," ujarnya.

Al-Nujaiman mengaku menolak larangan orang-orang Nasrani merayakan Natal. Apalagi di negara mayoritas non-Muslim, ia juga mendapat kebebasan menjalankan agama.

Baca juga: Arab Saudi Butuh 20.000 Perawat Profesional Asal Indonesia

"Ketika saya ada di negara mereka, saya diberi kebebasan untuk berdoa dan beribadah. Tetapi menerima bukan berarti merayakan," ujarnya.

Revolusi budaya sudah dilakukan sejak Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) menjadi pemimpin de facto negeri itu. Tahun ini, mengutip Wall Street Journal, film Natal juga diizinkan beredar, seperti "Father Christmas Is Back".

Sebelumnya MBS melakukan sejumlah cara untuk mendiversifikasi pemasukan negara yang semula dari migas. Wisata merupakan salah satunya.

(fox)