https://www.batamnews.co.id

Mahasiswa Tuding Kepala Disdik Kepri Bagi-bagi Proyek

Mahasiswa berorasi di depan Kantor Dinas Pendidikan Kepri memprotes dugaan mark-up pengadaan laptop. (Foto: Sutana/batamnews)

Tanjungpinang - Gabungan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Pemerhati Kebijakan (FMPK) Provinsi Kepri menuding kinerja Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kepri Muhammad Dali tak beres.

Di tangan Dali, lanjut mahasiswa, Disdik Kepri semakin hancur dan menjadi bancakan oknum tertentu dalam menggarap proyek.

"Selain lebih kental dengan bagi-bagi proyek, juga ajang bancakan korupsi bagi oknum tertentu," kata salah satu mahasiswa dalam orasinya di depan Kantor Disdik Kepri di Dompak, Selasa (7/7/2020).

Menurut mahasiswa, Disdik Kepri selama ini memperoleh anggaran sebesar 20 persen dari total APBD Provinsi Kepri. 

Namun, besarnya kucuran anggaran tidak diimbangi dengan kinerja yang baik dan memunculkan pertanyaan hal yang sudah dilakukan dan dikerjakan oleh Dinas Pendidikan Kepri, untuk masyarakat khususnya untuk kemajuan dunia pendidikan.

"Apa yang sudah dikerjakan Disdik selama ini? Justru kami melihatnya program dan kebijakan hanya untuk bagi-bagi proyek," teriak orator yang diamini oleh rekan-rekannya.

Mahasiswa juga mengatakan, Dali harus bertanggung jawab penuh dengan adanya dugaan mark up pengadaan laptop ini. Sebab, kepala dinas merupakan Pengguna Anggaran (PA) yang harus bertanggungjawab penuh apabila ada kelalaian dan juga kerugian dari pengadaan laptop serta proyek lainnya.

"Dali harus bertanggungjawab, jangan sembunyi. Temui kami di luar, Dali harus dicopot dari jabatannya," teriak massa yang mendapat pengawalan ketat dari kepolisian ini.

Sementara, upaya Kasi Kurikulum PKLK Disdik Kepri Elmi untuk mengajak mahasiswa berdialog ditolak. Elmi beralasan Dali sedang  ada kegiatan di luar kantor, sehingga tidak bisa menemui mahasiswa.

"Saya ditugaskan Pak Kadis untuk menerima dan menemui adik-adik mahasiswa. Untuk menerima apa yang akan disampaikan dalam aksi ini," kata Elmi.

Selain itu tegas Elmi, aksi ini kurang pas waktunya, sebab Disdik sedang sibuk dengan PPDB. Sehingga, banyak pejabat dan termasuk Kadis tidak ada di tempat.

"Kurang pas waktunya, kami sedang sibuk dan Kadis tak ada ditempat. Saya mewakili Pak Kadis, kalau mau audensi akan saya terima," ujar Elmi.

Mahasiswa menolak untuk audensi dengan pejabat lain, sebab mahasiswa beralasan surat aksi ini sudah disampaika jauh hari.

"Kami minta langsung bertemu dengan Kadisdik, kalau tidak kami akan bertahan di sini. Kami juga akan mendatangi Kejati dan aparat hukum lainnya untuk mengusut kasus dugaan mark up pengadaan laptop ini," teriak massa aksi ini.

(sut)