Tagihan PLN Bulan Juni Melonjak, Lho Kok Bisa?

Tagihan PLN Bulan Juni Melonjak, Lho Kok Bisa?

Rafki Rasyid.

DALAM tulisan kali ini saya akan memposisikan diri sebagai pengamat. Karena kalau pengamat harus bisa mengambil posisi netral tidak boleh memihak. Karena di sini ada pertentangan yaitu antara PLN dengan pelanggannya/masyarakat. Walaupun sebenarnya saya adalah pelanggan yang terkena dampak dari melonjaknya tagihan PLN tersebut. Tapi sebagai pengamat wajib hukumnya untuk netral supaya bisa memandang persoalan dengan jernih. 

Bulan Juni 2020 ini banyak ibu-ibu (mungkin bapak-bapak juga ya?) yang pusing melihat tagihan listriknya melambung tinggi. Ada yang masih bisa ditolerir ada pula yang naik gila-gilaan sampai membuat tensi darah juga naik. Bahkan kabarnya ada yang sampai mencapai 1.000% kenaikannya. Owalah memang gila kalau sampai segitu ya?

Supaya tidak naik tensi dan daya tahan tubuh melemah akibat stres dan marah-marah, maka kita tentunya harus melihat persoalan ini dengan fikiran jernih dan suasana hati yang dingin dan tenteram. Jadi virus Covid-19 tidak gampang menyerang.

Kenaikan tagihan ini tidak hanya terjadi terhadap pelanggan Bright PLN Batam tapi juga terjadi terhadap pelanggan PLN (persero). Lho apa bedanya? Tentu saja beda, kalau Bright PLN Batam itu swasta maka PLN (persero) itu sahamnya dipegang sama pemerintah. Jadi kalau kita membaca nama perusahaan ada kata ‘persero’ dalam tanda kurung berarti sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Sekadar tambahan pengetahuan saja. 

Lah lalu bagaimana dengan kenaikan tagihan yang gila-gilaan tadi? Lho ya sabar dong. Ini mau dijelaskan. Pokoknya jangan stres dan cegah diri supaya jangan gampang marah. Karena selain bisa menyebabkan gampang terserang virus akibat daya tahan tubuh melemah, stres dan marah-marah juga bisa menyebabkan stroke dan penyakit lainnya. 

Oke mari kita pakai logika sederhana ya. Ketika memasuki era pandemi Covid-19, PLN itu tidak menurunkan orang untuk mengecek meteran ke rumah-rumah. Pelanggan diminta foto sendiri meterannya lalu kirim ke PLN. Lah tentunya banyak pelanggan yang nggak mau dan nggak tahu. Akibatnya tidak banyak yang mengikuti cara baru PLN ini. Jadi datanya darimana kalau ternyata data meteran tidak lengkap? Ya tentunya pakai ilmu kira-kira dong.

Jadi pemakaian listrik bulan Desember, Januari, Februari dihitung rata-ratanya. Tagihan rata-rata selama tiga bulan itulah yang dipakai untuk memperkirakan tagihan bulan Maret. Misal nih kalau dari bulan Desember tahun 2019 hingga Februari tahun 2020 tagihan kita sebesar Rp 300.000 maka untuk bulan Maret kita juga ditagih Rp 300.000. Lah padahal kita mulai Maret sudah diimbau untuk work from home dan banyak himbauan “ baiknya di rumah saja”. Jelas kalau banyak orang di rumah saja maka tagihan listriknya akan naik dong. Tapi sama PLN hanya ditagih sama dengan tagihan bulan-bulan sebelumnya. Ini berlangsung sampai bulan April dan Mei tahun 2020.

Nah ketika pembatasan sosial sudah agak longgar pada bulan Mei, PLN mulai menurunkan pasukan untuk mencatat meteran ke rumah-rumah. Jadi terlihat berapa angka dan data di meteran sesungguhnya. Misalkan akibat di rumah saja, tagihan kita bulan Maret, April, dan Mei harusnya sudah naik sebesar 50%. Artinya seharusnya ditagih Rp 450.000 mulai bulan Maret, PLN malah nagih Rp 300.000. Kekurangan tagihan ini terakumulasi akhirnya di bulan Juni ketika data meteran yang sesungguhnya masuk ke PLN. Jadilah tagihan bulan Juni menjadi 450 + 150 +150 +150 = Rp 900 ribu. Bayangkan kenaikkannya jika dihitung dengan kebiasaan membayar sebelumnya yang hanya Rp 300.000 naik sekitar 200%. Bikin kaget? Ya jelas kaget dong. Apalagi di tengah Pandemi ini pendapatan pada turun akibat WFH ataupun dirumahkan bahkan ada yang di PHK. Lalu kita musti bagaimana dong?

Banyak yang menumpahkan kekesalannya melalui berbagai media sosial ada juga yang langsung menyerbu kantor PLN minta penjelasan. Ya wajar saja sih masyarakat kaget dengan kenaikan yang begitu fantastis. Tapi tetap harus berfikir jernih dan berhati dingin dong ya. 

Nah PLN harus bagaimana dong? PLN (persero) melakukan penghitungan ulang tagihan bulan Juni ini untuk meminimalisir kesalahan. Kabarnya ada sekitar 4,3 juta pelanggan se-Indonesia yang mengalami lonjakan tagihan bulan Juni ini. Mereka sisir lagi satu per satu dan hitung ulang mana tahu kesalahan hitung ada di PLN. Pelanggan yang hitungan meterannya sudah pas ditawari keringanan untuk membayar tagihan yang melonjak itu dengan cara dicicil selama tiga bulan.

Lalu bagaimana dengan Bright PLN Batam? Kita belum lihat ada kebijakan seperti itu dari Bright PLN Batam. Padahal sudah dipanggil rapat oleh Pemko Batam dan DPRD Kota Batam. Wali kota sudah menyarankan supaya masyarakat dipermudah dan listriknya jangan sampai diputus. Jawaban Bright PLN Batam sih masih akan membawa ke rapat internal? Kita tunggu saja hasilnya ya. 

Sebenarnya Bright PLN Batam tidak perlu harus menunggu dipanggil-panggil oleh pemerintah dan wakil rakyat untuk mengatasi persoalan ini. Masalah seperti ini sudah bisa diprediksi oleh orang-orang pintar yang ada di Brigth PLN Batam tersebut. Sayangnya langkah antisipasinya terlalu lambat. Sudah ribut dulu baru gerak. Jangan mentang-mentang monopoli nasib pelanggan diabaikan begitu saja. 

Seharusnya sejak awal Bright PLN Batam menyurati setiap pelanggannya yang ada di Batam mengingatkan akan ada lonjakan tagihan akibat banyak yang di rumah saja. Lalu ketika data pencatatan meteran sudah masuk harus dijelaskan betul kronologis mengapa tagihan tersebut membengkak pada bulan Juni ini kepada SETIAP pelanggan dengan mengirim surat resmi. Tidak hanya menjelaskan di media masa ataupun kepada aparat pemerintah ketika dipanggil rapat. Jadi pelanggan seluruhnya paham dan tidak stres serta marah-marah lagi kepada Bright PLN Batam. 

Lalu ada juga ibu-ibu yang bilang kalau dia rajin menyampaikan foto meterannya kepada PLN Batam tapi masih saja mengalami lonjakan tagihan yang gila-gilaan? Bagaimana itu Pak? Nah itu dia. Kesalahan bisa saja ada pada PLN ketika mencatat ataupun menginput data meteran. Makanya supaya persoalan ini jernih PLN harus menghitung ulang semuanya dan menyampaikan rincian perhitungan selama tiga bulan terakhir kepada masing-masing pelanggan. Hitungan ulang sudah dilakukan oleh PLN (persero) tapi belum terdengar dilakukan oleh Bright PLN Batam. 

Entah mengapa PLN (persero) yang jumlah pelanggannya puluhan juta orang kok relatif lebih cepat ambil keputusan ya? Sementara Bright PLN Batam yang jumlah pelanggannya hanya ratusan ribu saja terkesan lama ambil keputusan dan lambat memberikan penjelasan. 

Intinya di masa pandemi Covid-19 ini kita jangan suka marah-marah dan jangan sampai stres. Karena akan menurunkan imunitas tubuh. Kalau imun sudah turun maka tidak hanya virus Covid-19 yang bakal masuk, virus lainnya pun akan berlomba-lomba menyerang tubuh kita. Jadi mari kita jaga tubuh tetap sehat dan hindari marah-marah apalagi kesal hanya karena tagihan listrik yang bengkak.

Penulis: Rafki Rasyid
Pengamat Ekonomi Batam


Berita Terkait