Pilkada Kepri 2020 Bakal Panas

Birgaldo Sinaga (Foto:dok.pribadi)

Pilkada serentak 2020 sudah memasuki babak awal.  Tahap penjajakan calon-calon potensial kepala daerah sudah masuk bursa.

Provinsi Kepri adalah salah satu provinsi yang ikut Pilkada Serentak 2020. Kebetulan Provinsi Kepri dan Kota Batam berbarengan waktunya.

Peta kekuatan partai politik di pileg lalu tidak ada yang dominan. Tidak ada satu partai yang bisa mengusung calonnya sendiri. Harus berkoalisi.

Menariknya pilkada Kepri kali ini minus incumbent gubernur. Gubernur terpilih 2015, Drs. HM Sani hanya menjabat 3 bulan saja. Gubernur Sani meninggal dunia di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta, pada 8 April 2016.

Sani digantikan oleh wakilnya Nurdin Basirun. Nurdin menjadi orang nomor 1 di Kepri. Boleh dibilang Nurdin adalah orang yang paling beruntung. Nurdin digadang-gadang sebagai calon terkuat pilkada Kepri 2020.

Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Dulu dapat keberuntungan kali ini Nurdin ketiban sial. Pada 10 Juli 2019 lalu Nurdin tertangkap OTT KPK. Nurdin diduga terlibat suap pada proyek reklamasi. Nurdin yang menjabat Ketua DPW Partai NasDem Kepri langsung dicopot dari struktural partai.

Sepeninggal Nurdin yang ditahan di rutan KPK, Wakil Gubernur Isdianto didapuk menjadi Pelaksana tugas (Plt) Gubernur.  Isdianto yang notabenenya adik kandung Sani tetiba menjadi orang nomor satu Kepri.

Santer terdengar Isdianto telah masuk menjadi kader PDI Perjuangan. Ia diproyeksikan akan menjadi sekondan Soerya Respationo pada Pilkada 2020.

Soerya Respationo disebut-sebut King Maker yang menjadikan Isdianto menjadi wakil gubernur. Untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Nurdin Basirun yang saat itu sempat menjadi polemik. Persis seperti posisi wagub DKI Jakarta yang ditinggal Sandiaga Uno.

Suka tidak suka, konstelasi politik lokal Kepri berubah.  Isdianto yang diproyeksikan sebagai calon wakil gubernur 2020 berpasangan dengan Soerya bisa-bisa berpaling. Dalam politik kekuasaan itu begitu menggoda.

Tidak berapa lama lagi begitu status Nurdin Basirun naik menjadi terdakwa,  Itu artinya Isdianto bakal dilantik menjadi gubernur definitif di istana tidak lama lagi. Menjadi gubernur tentu lebih bernilai dibanding wakil gubernur.

Dinamika politik Kepri ini tentu membuat tokoh-tokoh potensial parpol bergejolak.  Sebut saja Walikota Batam Rudi yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPW NasDem Kepri bakal berpikir ulang atas masa depan karir politiknya. 

Ada dua pilihan bagi Rudi. Naik kelas ikut Pilgub Kepri atau tetap bertarung di Pilwako Batam. Pilihan-pilihan ini tentu akan dihitung matang. Bisa juga atas perintah DPP NasDem, Rudi diminta bertarung di tingkat provinsi. Ini soal gengsi.

Peta kekuatan tokoh politik di Kepri tidak banyak berubah. Orangnya itu-itu saja. Saya mengelompokkan para calon kuat bursa Pilkada Kepri ini punya basis klan masing-masing. Ada nama Soerya Respationo, Isdianto, Rudi, Huzrin Hood, Ansar Ahmad dan Ismeth Abdulah.

Batam adalah tolok ukur. Siapa yang memenangi Batam peluang menjadi Kepri 1 terbuka lebar. Batam punya jumlah pemilih sebesar 53 persen. Ini tentu sangat sexy.

Dari data hasil survey, Rudi unggul tipis atas Soerya Respationo. Selisihnya satu digit. Keduanya punya basis massa tradisional yang kuat. Rudi didukung pemilih etnis Melayu. Soerya dari Jawa. Sisanya etnis Batak, Tionghoa, Minang, Flores dll menjadi ceruk perebutan yang bakal berlangsung ketat.

Jika Rudi tidak maju Kepri 1, tentu sulit mencari lawan sepadan Soerya Respationo. Bisa jadi Soerya bakal melenggang mudah duduk di Dompak. Itu andai tokoh lain yang muncul tidak ada yang sekuat Soerya. 

Misalnya Ansar Ahmad, ia lebih memilih konsentrasi di Senayan. Atau juga Isdianto rela menjadi cawagub Soerya meskipun sisa 2 tahun periode Isdianto menjabat gubernur definitif.

Pertarungan menuju Kepri 1 tinggal hitungan bulan.  Kasak kusuk, utak atik gatuk dan lobby-lobby sedang berlangsung. Hitungan simulasi siapa calon Kepri 2 juga menentukan kemenangan. Kalkulasi plus minus di atas kertas masih dihitung.

Berkaca pada Pilkada Kepri 2015, siapapun calon yang ikut pertarungan nanti kudu hati-hati. Percaya diri itu penting tapi over confidence bisa membuat tergelincir.

Siapa yang bisa mengelola kekuatan akar rumput dan tokoh berpengaruh di media sosial akan memberi peluang lebih besar bagi kemenangan. Isu-isu kampanye juga menentukan pemilih perkotaan.

Kita sebagai warga Kepri tentu punya pengalaman dalam memilih. Dan tentu saja rekam jejak dalam memenangkan Jokowi-Maruf Amin menjadi barometer bagi kita dalam memilih calon terbaik nantinya. Artinya, pasar pemilih Jokowi-Maruf itu sangat menentukan kemenangan.  Pasalnya Jokowi-Maruf menang 54 persen di Kepri.

Selamat memasuki pesta demokrasi Pilkada Kepri 2020

Salam perjuangan penuh cinta

Oleh: Birgaldo Sinaga