Mengharukan, Dalif Bawa Toga dan Seikat Bunga ke Makam Ibu Usai Wisuda

Dalif saat mengunjungi makam sang ibu usai diwisuda. (Foto: Adi/Batamnews)

WISUDA adalah hal sakral bagi para mahasiswa. Momen tersebut menjadi tanda kesuksesan menyelesaikan program studi pendidikan tinggi yang mereka jalani. Tak jarang momen ini mempresentasikan keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya. Begitupun bagi mahasiswa, wisuda adalah hal membanggakan yang dipersembahkan bagi kedua orangtua.

Selain prosesi di kampus, biasanya para wisudawan akan merayakan momen ini bersama teman dan keluarga. Mereka pastinya juga mengabadikan foto kelulusan dengan orang-orang terdekat. Kebersamaan pun dirayakan bersama keluarga. Bak hari besar untuk sebuah langkah awal menapaki dimensi kehidupan selanjutnya.

Namun hal berbeda dirasakan Dalif Renaldi, wisudawan Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, STIE Pembangunan Tanjungpinang. Sesekali ia melirik barisan kursi tamu yang diduduki para orang tua mahasiswa. Kursi tamu undangan untuk dirinya hanya diisi keluarga almarhum sang ibu.

Mendapat gelar wisuda Dalif mengaku punya perasaan bahagia yang bercampur aduk. Ia terkenang pesan sang ibu semasa hidup. Memori wisuda membawa pikirannya sejenak hanyut dalam roda waktu yang beputar mundur ke belakang. Masa dimana sang ibu masih hidup dan memintanya menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa menyerah.

Kendati suasana di dalam gedung kian riuh dengan ucapan selamat dan tawa canda para mahasiswa lainnya. Dalif pun selalu terngiang-ngiang nasihat sang ibu.

Saat teman-temannya mengabadikan foto kelulusan dengan ibu dan ayah mereka. Dalif yang sehari-hari beraktivitas ternak bebek itu akhirnya bergegas meninggalkan kerumunan ratusan mahasiswa lainnya.

Anak sulung tiga bersaudara itu pergi dengan membawa toga dan seikat bunga menuju makam sang ibu. Ia ditemani beberapa orang keluarga lainnya. Tampak Dalif menggantungkan Toganya di makam sang ibu. Kalau saja ibunya masih hidup, mungkin ia akan memeluk haru Dalif di momen wisuda itu.

"Dulu ibu berpesan untuk tetap gigih meneruskan pendidikan, waktu itu pas kelas 2 SMK," kata Dalif, Kamis (28/2/2019).
 
Kehilangan ibu justru semakin membuatnya gigih dan semangat menyelesaikan pendidikan  tinggi. Apalagi ia sejak kecil sudah ditanggal sang bapak yang tak tahu rimbanya. Ayah Dalif seorang pelaut meninggalkan ibunya saat Dalif masih teramat kecil, bahkan untuk mengingat wajah sang ayah.

Ia akhirnya dibesarkan seorang diri oleh ibu yang tak pernah mengeluh dalam membesarkan anak-anaknya. Mungkin ibu adalah segalanya waktu itu. Namun seiring waktu berputar, sang ibu yang menderita sakit akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa beberapa tahun silam.

Untungnya Dalif yang saat itu mulai beranjak dewasa cukup tegar menjalani hidup tanpa ayah dan ibu. Masa remaja pun digunakannya dengan kerja keras. Tak ingin bersantai-santai ria, Dalif menggarap pekerjaan sebagai peternak bebek.

"Kawan-kawan yang belum wisuda harus tetap semangat. Setidaknya kalian masih ada orangtua yang bisa memberikan semangat. Selagi ada orang tua bahagiakanlah,'' ujarnya memberikan motivasi kepada rekan-rekannya yang masih belum menyelesaikan tugas akhir skripsi di STIE Pembangunan Tanjungpinang.

(Afriadi)