Uniknya Star Plus, Lahir Sebagai Titisan Koes Plus
Band Star Plus diundang manggung di Tanjungpinang saat pisah sambut Kajati Kepri. (Foto: Yogi/Batamnews)
RIBUAN orang malam itu benar-benar seperti menyaksikan pertunjukan band Koes Plus. Band lawas tanah air yang melegenda.
Beberapa tamu awalnya dibuai dengan lagu Koes Plus yang bertajuk “Nusantara,”. Semua ikut bernyayi sembari bergoyang.
Memang, tembang-tembang nostalgia itu bukan dinyanyikan Koes Plus lagi, tetapi band pelestari. Mereka menyebutnya dengan nama Starplus.
Tidak hanya soal nama, dari pakaian hingga karakteristik bermain musik mereka samakan. Sesekali cara mereka berinteraksi dengan penonton juga seperti Koes Plus.
Setelah lagu 'Nusantara', lagu kedua tidak kalah hitz pada zaman orde lama kala itu 'Bis Sekolah'.
“Bis sekolah yang ku tunggu ku tunggu, tiada yang datang,” begitu sepengal lirik dan semua penonton ikut bernyanyi di acara pisah sambut Kepala Kejati Kepri di Hotel CK Tanjungpinang, Selasa (22/1/2019). Semua terbuai seolah-olah Koes Plus kembali dan bernyanyi.
Awal Mula Berdiri Star Plus
Star Plus merupakan satu dari ratusan band pelestari Koes Plus. Hampir di seluruh tanah air Koes Plus memiliki band pelestari. Bahkan beberapa kali mereka saling berkumpul bersama.
Salah satu band yang sudah lama melestarikan kembang Koes Plus yaitu Starplus. Band ini sudah eksis membawakan lagu nostalgia sejak 2010 silam.
Batamnews.co.id mendapatkan kesempatan mengenang Koes Plus melalui cerita personel Starplus. Mereka pun sangat terbuka dan senang bercerita banyak hal soal Koes Plus.

Band Star Plus saat manggung. (Foto: Yogi/Batamnews)
Tatok, sang vokalis sekaligus gitaris Starplus bercerita bagaimana dirinya dan Starplus mulai mencintai Tony Kuswoyo dan kawan-kawan.
Tatok sudah sejak kecil mengenal tembang Koes Plus sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Ia bercerita, orang tuanya juga suka dengan lagu Koes Plus. Lagu-lagu lawas itu sudah familiar di telinga mereka.
Ketika belajar kesenian lagu daerah, Tatok malah menyanyikan lagu Koes Plus. Ia tidak dimarahi ketika itu, bahkan gurunya justru menyukai penampilan Tatok.
Ia kemudian disuruh melanjutkan lagu-lagu Koesplus lainnya. “Rupanya guru saya suka lagu Koes Plus juga, dia main gitar saya nyanyi,” cerita Tatok.
Ketika itu, popularitas tembang Koes Plus hingga buku-buku SD. “Saat itu saya sering dengar lagu mari-mari, pelangi dan lainnya,” ujar Tatok.
Semenjak itu Ia terus mengidolakan band tersebur. Bahkan ia selalu menunggu pertunjukan konser Koes Plus.
Suatu ketika sebelum pertunjukan di Jakarta, Koes Plus diarak keliling kota. Totok dengan semangat menerobos keruman untuk melihat secara langsung Koes Plus. “Saya lari ke pinggir jalan dengan semangatnya, pengen lihat,” ujar dia.
Tatok sangat mengidolakan Koes Plus, terutama Jhon Koeswoyo. Ia kemudian terus belajar teknik bermain gitar dan selalu menyanyikan tembang Koes Plus.
Tatok bermimpi bisa berjumpa dengan personnel Koes Plus, bernyanyi dan ngobrol bersama.
Hingga tumbuh dewasa muncul ide membuat Star Plus bersama kawan-kawannya. “Semua sudah tercapai,” ujar Tatok.
Menurut mereka Koes Plus adalah band yang memiliki karakter. Dengan empat anggota, yang masing-masingnya memiliki karakter bernyanyi dan bermain musik sendiri.
Karakter atau format itu harus tepat. “Itu salah satu keistimewaan Koes Plus,” kata Tatok.
Saat Tatok dan personel Star Plus lainnya sedang begitu mencintai sang idola. Tiba-tiba satu persatu personel Koes Plus berpulang pergi meninggalkan para pengemarnya.
“Mereka meninggalkan kita, kami berduka sedalamnya-dalamnya,” kata Toto.
Koes Plus pertamanya adalah band persaudaraan disebut Koes Bersaudara. Karena semua personel merupakan keluarga Koeswoyo.
Ketika masih bernama Koes Bersaudara, personel band ini sempat dipenjara pada masa Presiden Soekarno.
Kemerdekaan Koes Bersaudara terbelenggu aturan pemerintah saat itu. Mereka tidak boleh menyanyikan lagu barat.
Padahal di awal berkarya, mereka sudah membawakan lagu barat seperti lagu The Beatles. Ketika ditangkap Koes Bersaudara tetap bernyanyi dipenjara.
Beberapa lagu mereka berhasil diciptakan dipenjara seperti tembang “Balada Kamar 15”.
Koes Bersaudara pun bubar. Masuk dramer baru Murri ketika itu nama diganti Koes Plus.
Setelah itu Koes Plus bangkit. Mereka sering mangung dipembukaan acara band-band luar. “Disitulah ngetop,” katanya.
Sejak itu Koes Plus terus maju, mereka disebut merupakan Band paling banyak membuat lagu, hampir sampai 1000 lagu ketika itu di dunia.
“Sekarang mereka sudah meninggalkan kita tapi sudah menjadi legend. Sampai kapanpun akan di kenang,” katanya.
Bahkan Tatok bercerita band-band terkenal saat ini seperti Gigi, Boomerang dan lainnya mengapresiasi Star Plus. Karena band mereka juga terinspirasi dari Koes Plus.
“Pada jamannya mereka baru muncul itu belajar kepada Koes Plus,” kata Tatok.
Tatok akan selalu menjadi pelestari tembang Koes Plus baginya musik band legendaris itu adalah dunianya dan kawan-kawan yang lain.
(Yogi Eka Sahputra)
Komentar Via Facebook :