Hingga September, Tiga Investor Kabur dari Batam dan Telantarkan Buruh

Hingga September, Tiga Investor Kabur dari Batam dan Telantarkan Buruh

PT Nagano Drilube Indonesia di kawasan industri Batamindo, salah satu perusahaan yang manajemennya kabur dari Batam.

Batam - Tiga investor di Batam kabur meninggalkan sejumlah masalah. Lagi-lagi, buruh menjadi korban akibat ulah manajemen perusahaan yang tak bertanggung jawab ini.

Panglima Garda Metal FSPMI Kota Batam Suprapto menyebut setidaknya dalam delapan bulan terakhir hingga September 2018 ada tiga investor yang kabur dari Batam.

"Salah satu dari ketiga investor yang kabur itu adalah tempat saya bekerja," kata Suprapto, Selasa (11/9/2018).

PT Artana Karya Indonesia di Sei Panas adalah investor pertama yang kabur dari Batam pada Februari 2018 lalu. Sebanyak 35 buruh kehilangan pekerjaan dan hanya diberikan pesangon 1,5 bulan gaji.

Kemudian PT Hantong Precision Manufacturing di Batuampar yang pemiliknya tiba-tiba kabur, sepekan menjelang Hari Raya Idul Fitri pada Juni 2018 lalu.

"PT Hantong inilah tempat saya bekerja," imbuh Suprapto.

Perusahaan yang bergerak di bidang moulding dan telah beroperasi sejak 18 tahun lalu ini, pemiliknya kabur ke Singapura setelah menarik semua dana perusahaan di bank.

"Ada Rp500 miliar dana perusahaan yang dibawa kabur dan sebagian sebetulnya untuk membayar Tunjangan Hari Raya (THR) buruh," kata dia.

Terakhir adalah PT Nagano Drilube Indonesia di kawasan industri Batamindo yang menutup operasi dan manajemennya kabur ke Jepang.

Menyikapi hal ini, Suprapto telah mencoba menghubungi pihak-pihak terkait seperti BP Batam dan Pemko Batam.

"Saya sudah kirim pesan ke Kepala BP Batam dan Wali Kota Batam," ujarnya.

Menurut dia, seyogyanya investasi adalah untuk dapat memperbaiki ekonomi baik secara makro ataupun mikro adalah sangat bagus dan ada kalanya investor ada yang baik dan buruk.

"Nah, pimpinan di daerah seperti Kepala BP Batam dan Wali Kota Batam harusnya memiliki formulasi dan memberikan perhatian khusus agar kasus kaburnya investor tak terulang lagi," kata Suprapto.

(dod)
 


Berita Terkait