https://www.batamnews.co.id

Celana Dalam Ini Dilengkapi Bluetooth, Apa Fungsinya?

Celana dalam yang dilengkapi bluetooth. (Foto : grid.id)

SEBUAH rencana penelitian di National University Hospital (NUH) Singapura ingin membuat penemuan baru celana dalam "pintar" bisa membantu para penderita masalah kandung kemih. 

Mampukah keberadaan celana dalam " pintar" menolong orang-orang dengan persoalan kandung kemih untuk menyadari manfaat besar dari latihan otot panggul? 

Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk menahan urin di tengah aktivitas, seperti melompat, bersin, batuk, atau saat mengangkat benda berat.

Dikembangkan oleh perusahaan teknologi Belanda, LifeSense Group, celana dalam berteknologi tinggi ini menggunakan kombinasi material yang menyerap dan sensor Bluetooth yang dipadukan dengan aplikasi program latihan.

Dengan demikian, para penderita "kebocoran urin" dapat melakukan serangkaian latihan untuk otot panggul, dan memantau kemajuannya, demi memperbaiki persoalan yang dideritanya.

Celana dalam ini dibuat dalam dua versi, baik untuk wanita dan pria, yang diberi nama julukan Wil dan Carin. 

Laman Today Online memberitakan, proses perekrutan responden untuk penelitan NUH ini akan dilakukan mulai bulan Oktober mendatang.

Diperkirakan riset ini akan memakan waktu selama dua tahun. Demikian dikatakan Doktor Fiona Wu, salah satu konsultan di departemen urologi, Rumah Sakit NUH. 

Disebutkan, akan ada sekitar 50 pasien, baik yang merupakan pasien di RS NUH, maupun penderita yang dirujuk ke NUH Urology Centre, akan direkrut.

Selama masa percobaan, seluruh peserta akan dipantau melalui sebuah aplikasi yang terkoneksi dengan celana dalam "pintar" tersebut, yang dikoneksikan melalui piranti Bluetooth yang bisa dilepas pasang.

Dengan bantuan piranti tersebut, akan terdeteksi kondisi kebocoran urin yang dialami pasien dalam kondisi real time.

Celana dalam ini dibuat dengan bahan yang cepat kering, yang diperkirakan mampu meyerap 10ml cairan setiap kali terjadi kebocoran, dan bisa menampung 100ml cairan selama masa 24 jam.

Dengan demikian, para penderita masalah saluran kemih dapat tetap nyaman melewati hari mereka dengan celana dalam yang terasa kering.

Begitu penjelasan dari Doktor Valer Pop, yang menjabat sebagai Chief Executive dari LifeSense Group.

“Sensor yang tertanam di dalam celana selanjutnya akan mengirimkan informasi nirkabel ke dalam aplikasi yang tertanam di ponsel."

"Selanjutnya aplikasi itu akan memberikan peringatan kepada si pasien untuk melakukan latihan dasar panggul (kegel)," sebut Pop.

Data yang terkumpul dapat digunakan untuk melacak perkembangan pasien, sekaligus menjadi dasar untuk melakukan langkah lanjutan pada penderita persoalan ini.

Ketika nanti penelitian NUH ini rampung, diharapkan para pasien sudah mampu menjadikan aplikasi tersebut sebagai bagian dari hidup mereka.

Data dari pantauan "celana dalam" itu dapat dipakai sebagai alat untuk mengambil tindakan perawatan, hingga mencapai kepulihan, demikian dikatakan Wu.

“Akan menjadi lebih mudah bagi pasien untuk berkomunikasi dengan dokter, dan semoga ini bisa mendorong mereka untuk lebih aktif melakukan terapi kegel lebih rutin." "Hanya dengan tindakan itu para pasien akan mampu memperbaiki kondisi mereka," sambung Wu.

Dia menegaskan, pasien wajib melakukan pelvic floor exercises secara rutin untuk mempertahankan efek positif yang terjadi pada kondisi mereka.

Kegel umumnya disebut sebagai cara penanganan yang konservatif bagi mereka yang menderita persoalan kandung kemih.

Namun sesungguhnya, menyasar otot yang tepat dalam latihan yang dilakukan secara rutin, masih menjadi tantangan besar bagi para pasien.

Salah satu keuntungan yang didapat dengan penggunaan celana dalam "pintar" ini adalah memungkinkan penggunanya untuk melacak kemajuan mereka sendiri.

ni akan menolong mereka untuk termotivasi melakukan kegel dengan lebih baik.

“Melakukan pelvic floor exercises selama 10 menit setiap hari selama 6-8 hari sungguh bukan merupakan hal yang mudah."

"Menjadi mampu memantau kemajuan yang telah oleh penderita itu sendiri, mungkin akan memacu mereka untuk lebih tertib dalam melakukan terapi tersebut," kata dia.

Sebuah penelitian di Singapura mengungkap, sebanyak lebih dari 40 persen perempuan dan lima persen lelaki di negeri itu, mengalami persoalan kandung kemih. 

The NUH Urology Centre saat ini mencatat, 120-150 pasien, setiap bulan datang dengan beragam keluhan masalah kemih.

(aiy)