Mandi Safar, Budaya Turun Temurun Melayu di Lingga

Mandi Safar, Budaya Turun Temurun Melayu di Lingga

Mandi safar di Lingga (Foto: Ruzi/Batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Lingga - Tradisi Mandi Safar yang sering dilakukan masyarakat Kabupaten Lingga merupakan salah satu tradisi budaya turun temurun yang perlu dilestarikan.

Ketua III Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, Datok H Nadar H Muhammad  Ali mengatakan, untuk tahun ini, Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan dan LAM kembali melakukan tradisi mandi safar di Lubuk Papan yang berada di Komplek Istana Damnah Daik Lingga dengan melakukan penyiraman secara simbolis kepada anak-anak.

"Kegiatan yang kami taja dari Dinas Kebudayaan bekerja sama dengan LAM Lingga ini, merupakan kegiatan yang sudah sejak lama dilakukan di Lingga, dimana sultan-sultan zaman dahulu juga telah melakukan kegiatan ini," kata dia kepada Batamnews.co.id, Rabu (15/11/2017) kemarin.

Ia melanjutkan, kegiatan yang dilakukan turun temurun ini, menurutnya merupakan budaya yang harus tetap dilestarikan di Bunda Tanah Melayu Daik Lingga. 

"Kegiatan mandi safar ini bermakna yang cukup luar biasa, karena sesuai denga pemahaman kami orang Melayu yang identik dengan islam, mandi safar ini telah menganjarkan kita supaya banyak istighfar, bersalawat, membaca dan banyak melakukan silaturahmi, sebagaimana diketahui orang tua bahwa didalam surat tahliqah dan tajul mulk bahwa pada hari arba'a terakhir, Allah swt akan menurunkan bala dari alam luhul mahfuz ke alam dunia," jelasnya.

Dengan demikian, ia mengajak bersama masyarakat Lingga seluruhnya bersama bermohon kepada Allah swt agar kegiatan mandi safar tersebut dapat untuk membersihkan diri, serta memberaihkan jiwa menjadi lebih tenang dan terhindar dari malapetaka.

"Mudah-mudahan kita terhindar dari bala bencana, setelah kita melakukan tradisi mandi safar ini. Air ini kita ambil dari tujuh aliran sungai. Atau air sulung dan ditaruh wapaq. Semua mahluk yang menyebutkan kalimat Allah pasti akan berjaya," ujarnya.

Biasanya, tradisi mandi safar dilakukan masyarakat Lingga pada Rabu terakhir bulan Safar dalam hitungan tahun Hijriah.

Sebagaimana diketahui, tradisi mandi safar yang dilakukan di Komplek Istana Damnah ini dilakukan dengan penyiraman secara simbolis kepada beberapa anak-anak pria dan wanita oleh Asisten II Setda Lingga, Ketua TP PKK Kabupaten Lingga, Ketua MUI Lingga, serta beberapa tokoh tua adat lainnya.

(ruz)