Mau Dibongkar, Warga Korban Penggusuran Tanjunguma Berjaga-jaga di Musala

Mau Dibongkar, Warga Korban Penggusuran Tanjunguma Berjaga-jaga di Musala

Warga yang bertahan di musala daerah penggusuran Tanjung Uma. (foto: yud/batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Beredar kabar bahwa musala yang berada di daerah penggusuran Bukit Timur, Tanjunguma, Batam akan digusur dan sempat terjadi kehebohan, Rabu (1/11/2017) sekitar pukul 11.00 WIB.

Dari pantauan di lokasi saat ini keadaan di sana sudah kondusif. Tampak beberapa warga masih berjaga di musala.

Saat ditemui, Jay Yusuf ketua gerakan korban penggusuran membenarkan kejadian tersebut. Kejadian bermula saat polisi datang untuk bertugas di sana, setelah itu datang satu orang warga di dekat sana yang diiringi oleh belasan pemuda yang diduga preman. Pria itu berinisial Ab.

"Tiba-tiba dia datang dan memperlihatkan surat pernyataan kalau ia adalah pendiri musala ditandatangani oleh Bambang, ingin membongkar musala itu,” ujarnya kepada Batamnews.co.id.

Menurut Jay, pria yang datang diakui ada peran dalam pembangunan musala tapi dengan membawa seorang caleg yang gagal. Caleg itu hanya ikut menyumbang material saja.

“Ada dulu memang peran dia, tapi tidak peran seratus persen. Padahal pada saat dia menyumbang, keadaan musala sudah hampir selesai,” ujar Jay.

Jay melanjutkan bahwa musala ini adalah tempat beristirahat bagi warga dan anak-anak di kawasan itu yang masih belum diganti kerugiannya oleh pihak pengelola tanah.

"Masyarakat kan menjaga musala ini kan sebagai tameng, selain untuk bertahan dari panas dan hujan, juga sebagai bentuk deal-dealan nih. Kalau mau bongkar ini ya bayar kami yang adil,” kata dia.

Ia mengakui tadi juga sempat terjadi kejar-kejaran antara warga dengan pria yang datang itu. Bahkan satu orang warga pingsan karena emosi tidak mendapatkan Ab.

“Masyarakat ini yang kejar-kejaran sama, pak Iman ini pingsan ni saking emosinya. Ditahan sama yang lain. Jadi karena gak dapat itu, emosi sudah dipuncak ya akhirnya pingsan,” ujarnya lagi.

Jay juga mengatakan bahwa warga yang masih bertahan di lokasi, adalah sebagai bentuk perlawanan karena belum adanya ganti rugi terhadap beberapa warga di sana.

“Jika mau keluarkan kami ya bayar, begitu juga dengan musala,” kata dia.

(yud)