Direct Billing Pelabuhan Batu Ampar Resmi Berlaku, Biaya Logistik Bisa Turun 30 Persen
Suasana sosialisasi transformasi Pelabuhan Batu Ampar di Batam, Selasa (30/6/2026). Dalam forum tersebut, jajaran Badan Pengusahaan (BP) Batam, PT Batam Terminal Petikemas, dan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) membahas penerapan sistem pembayaran langsung (direct billing) yang dinilai mampu menekan biaya logistik hingga 30 persen.
Batam, Batamnews — Badan Pengusahaan (BP) Batam resmi memperkenalkan sistem pembayaran langsung atau direct billing di Pelabuhan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Langkah ini disebut sebagai babak baru dalam transformasi pelabuhan yang selama ini diharapkan pelaku usaha logistik.
Sistem ini memungkinkan perusahaan jasa pengurusan transportasi dan pengirim barang membayar jasa terminal tanpa melalui perantara.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kota Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan sistem itu sudah lama dinanti. Menurutnya, selama ini perusahaan tidak bisa bertransaksi langsung dengan operator terminal.
Baca juga: Tak Perlu Birokrasi Panjang, Warga Batam Kini Bisa Daftar Bansos Secara Online
Mereka selalu melalui pihak kedua atau ketiga. Akibatnya, ada tambahan biaya dari setiap rantai perantara.
"Dengan direct billing, margin itu kita potong," ujar Yasser dalam sosialisasi yang digelar di Batam, Selasa, 30 Juni 2026.
Ia memperkirakan sistem baru ini bisa menekan biaya operasional logistik antara 10 hingga 20 persen. Bahkan, potensi penghematan maksimal mencapai 30 persen. Efisiensi itu tidak hanya dirasakan pengusaha jasa pengiriman, tetapi juga pemilik barang karena biaya logistik tidak membengkak.
Selain soal biaya, Pelabuhan Batu Ampar juga mulai berbenah dari sisi pelayanan. Empat unit Ship-to-Shore Crane kini dioperasikan untuk mempercepat bongkar muat kapal dan penarikan kontainer dari lapangan penumpukan. Yasser menilai alat berat itu akan sangat membantu aktivitas pelabuhan ke depan.
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menyebut perubahan ini bagian dari komitmen menuju tata kelola yang transparan dan akuntabel. Ia mengatakan seluruh pembayaran layanan terminal dilakukan langsung kepada operator sesuai jasa yang diterima.
"Transformasi ini bertujuan menciptakan sistem pelayanan yang lebih sederhana, terbuka, terdokumentasi dengan baik, serta memberikan kepastian layanan," kata Basori.
Sosialisasi kali ini juga dimanfaatkan ALFI untuk mendidik anggotanya soal teknis registrasi, simulasi pembayaran, dan cara mengatasi kendala di lapangan. Yasser mengatakan mereka masih menunggu keputusan final dari terminal soal waktu peluncuran resmi sistem tersebut.
"Diskusi ini lebih membahas proses teknis agar teman-teman tidak kaget saat *direct billing* diterapkan," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, mengungkapkan sejumlah indikator operasional pelabuhan menunjukkan tren positif sepanjang Semester I 2025.
Realisasi penerimaan kepelabuhanan mencapai Rp219,75 miliar, atau 55 persen dari target tahunan Rp401,86 miliar. Angka itu naik 16 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Baca juga: Batam Jadi Pilot Project, Pemko Dukung Penuh Digitalisasi Bansos Lewat Portal Perlinsos
Kunjungan kapal barang dan penumpang tercatat 54.876 call, tumbuh 15 persen. Total bobot kapal meningkat 18 persen menjadi 34,87 juta GT. Volume peti kemas yang ditangani mencapai 359.944 TEUs, naik 15 persen, dengan ekspor-impor mendominasi sebesar 273.004 TEUs. Arus barang umum mencapai 5,42 juta ton atau naik 12 persen, sementara jumlah penumpang ferry mencapai 4,64 juta orang, meningkat 8 persen.
BP Batam optimistis kombinasi modernisasi fasilitas, digitalisasi layanan, dan penerapan direct billing akan meningkatkan daya saing logistik Batam di pasar internasional. Ke depan, kapasitas Terminal Peti Kemas Batu Ampar ditargetkan mampu menampung hingga 2 juta TEUs seiring penambahan fasilitas dan alat bongkar muat secara berkelanjutan.

Komentar Via Facebook :