Pulang Ibadah Haji, Wali Kota Batam Amsakar Achmad Ceritakan Pengalaman Spiritual yang Menyentuh Hati
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad.
Batam, Batamnews — Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, telah kembali ke tanah air setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Setibanya di Batam, ia membagikan berbagai kisah unik, menyentuh, hingga pengalaman spiritual yang dialaminya bersama sang istri selama menjalankan rukun Islam kelima tersebut.
Amsakar mengawali ceritanya dengan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh masyarakat Kota Batam. Ia meyakini bahwa kelancaran ibadahnya merupakan buah dari doa-doa yang dipanjatkan oleh warga.
"Setiap pertemuan saya selalu memohon doa dari seluruh warga Batam agar perjalanan ibadah ini dimudahkan oleh Allah SWT. Dan realitasnya, doa-doa itu betul-betul saya rasakan di Tanah Suci. Semuanya berjalan dengan sangat baik," ungkap Amsakar dengan penuh rasa syukur.
Ia menceritakan bagaimana indahnya kebersamaan antar jemaah. "Bangun pagi, tiba-tiba ada saja teman yang sudah menyiapkan kopi. Saat waktu makan tiba, ada yang mengambilkan nasi bungkus. Bahkan saat berjalan ramai-ramai untuk melempar jumrah, tiba-tiba ada jemaah dari luar negeri berbadan tegap yang berinisiatif memayungi kami. Itu rasanya luar biasa," kenangnya.
Tertinggal yang Aman
Selain pengalaman spiritual, Amsakar juga membagikan cerita menggelitik karena faktor kelelahan fisik. Salah satunya terjadi pada hari ketiga ia mengenakan pakaian ihram.
"Saya bolak-balik dari kamar mandi ke kamar sampai ketua regu (Karu) saya bertanya ada apa. Saya jawab sedang mencari handuk. Ternyata, handuk yang saya cari-cari itu sudah terpasang di pinggang saya sendiri sejak tadi karena masih pakai ihram. Kami semua tertawa," ujarnya sembari terkekeh.
Tak hanya itu, faktor keamanan di Tanah Suci juga membuat Amsakar kagum. Ia sempat lupa meninggalkan ponselnya di atas meja area hotel saat hendak merokok dan mencari tempat kosong. Setelah ditinggal hampir satu jam, ponsel tersebut ditemukan masih utuh di tempat semula.
Kejadian serupa dialami istrinya yang kehilangan jam tangan di toilet Madinah. Meski sempat mengira jam tersebut sudah tidak rezeki karena menginap satu malam, pihak manajemen hotel dengan sigap membantu mencari dan mengembalikannya.
Jam tersebut sangat berharga bagi mereka karena merupakan hadiah ulang tahun dari anak-anak mereka.
Momen yang paling menyentuh bagi Amsakar adalah saat ia mendedikasikan waktu dan tenaganya sepenuhnya untuk mendampingi sang istri. Mengingat kesibukannya sebagai orang nomor satu di Batam yang menyita waktu, momen haji ini ia manfaatkan untuk memberikan perhatian total.
"Di Batam ini waktu kami untuk berkomunikasi sangat sedikit. Jadi, di sana saya sudah tanamkan di dalam hati bahwa ini saatnya saya membantu istri. Saya perlakukan istri saya betul-betul macam 'Tuan Putri' hari itu," kata Amsakar.
Amsakar menceritakan pengalamannya mendorong kursi roda sang istri di tengah lautan jutaan manusia. Menariknya, ia justru merasakan jalan selalu dimudahkan dan diberikan kelapangan setiap kali ia mendorong kursi roda istrinya.
"Kalau suasana sudah agak padat (crowded), saya tinggal bilang 'Haji.. Haji..' atau 'Hajah.. Hajah..' untuk jemaah perempuan, mereka langsung memberikan jalan. Justru dengan mendorong istri, saya merasakan ada kemudahan jalan yang luar biasa dari Allah," jelasnya.
Amsakar juga mengaku takjub dengan stamina fisik yang diberikan kepadanya selama puncak haji. Mulai dari bergerak dari Jabal Arafah, Muzdalifah, menuju Mina untuk melempar jumrah, lalu langsung dilanjutkan dengan Tawaf Ifadah dan Sai dari Shafa ke Marwah sebanyak 7 kali.
Bahkan pada malam harinya sekitar pukul 22.30, ia kembali berjalan kaki menuju Jamarat untuk mabit dan melempar jumrah yang kedua dengan durasi total perjalanan mencapai lebih dari 4 jam.
"Perjalanan itu puluhan kilometer, tapi rasanya biasa-biasa saja. Luar biasa bersemangat. Alhamdulillah, tidak ada pengalaman aneh-aneh, semua berjalan dengan sangat aman, lancar, dan penuh berkah," pungkasnya.
Komentar Via Facebook :