Idul Adha dan Luka Sosial Kita
Raja Dachroni. (Foto: istimewa)
Oleh: Raja Dachroni
Setiap kali Idul Adha datang, selalu ada perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena suasana takbir yang menggema, bukan pula semata karena banyak keluarga mulai sibuk menyiapkan masakan dari daging kurban. Lebih dari itu, Idul Adha selalu membawa ruang sunyi untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita belajar ikhlas?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak mudah dijawab. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa sudah banyak berkorban. Kita merasa sudah lelah bekerja, merasa sudah cukup memberi, merasa sudah banyak membantu orang lain. Namun, Idul Adha mengajak kita melihat lebih dalam: apakah yang kita sebut pengorbanan itu benar-benar lahir dari hati yang ikhlas, atau masih menyisakan harapan untuk dilihat, dipuji, dan dianggap baik?
Di banyak tempat, penyembelihan hewan kurban menjadi pemandangan yang selalu mengharukan. Ada warga yang datang membawa kupon. Ada panitia yang sejak pagi sudah bekerja. Ada anak-anak yang menonton dari kejauhan dengan rasa penasaran. Ada pula keluarga sederhana yang mungkin hanya pada momen seperti inilah bisa menikmati daging lebih banyak dari biasanya.
Pemandangan itu seharusnya membuat hati kita lembut. Sebab di balik sebungkus daging kurban, ada pesan besar tentang persaudaraan. Ada pengingat bahwa hidup tidak boleh hanya berputar pada diri sendiri. Ada orang lain yang harus kita lihat, kita dengar, dan kita pedulikan.
Namun, di tengah semarak Idul Adha, ada satu hal yang patut kita renungkan bersama. Jangan-jangan selama ini kita hanya sibuk menyembelih hewan kurban, tetapi lupa menyembelih ego di dalam diri sendiri.
Ego itu bisa muncul dalam banyak bentuk. Merasa paling berjasa. Merasa paling benar. Merasa lebih mulia karena mampu berkurban. Merasa lebih pantas dihormati karena punya lebih banyak harta. Bahkan, dalam kebaikan pun, manusia bisa tergelincir bila hatinya tidak dijaga.
Padahal, inti kurban bukan tentang siapa yang paling besar sapinya, siapa yang paling banyak kambingnya, atau siapa yang paling terlihat dermawan. Al-Qur’an sudah mengingatkan bahwa bukan daging dan darah hewan kurban yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya. Maka, ukuran paling penting dari kurban bukan pada besarnya hewan, tetapi pada kebersihan niat.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah pelajaran agung tentang cinta, iman, dan kepasrahan. Nabi Ibrahim diuji dengan sesuatu yang sangat beliau cintai. Nabi Ismail pun menunjukkan keteguhan hati sebagai seorang anak yang taat. Dari kisah itu, kita belajar bahwa pengorbanan sejati selalu menuntut keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling kita cintai.
Dalam kehidupan kita hari ini, mungkin yang harus kita lepaskan bukan hanya harta. Mungkin yang perlu kita korbankan adalah kesombongan. Mungkin yang harus kita sembelih adalah rasa iri, dendam, serakah, dan keinginan untuk selalu menang sendiri. Mungkin yang harus kita tundukkan adalah kebiasaan merasa lebih baik dari orang lain.
Idul Adha menjadi sangat penting karena ia datang di tengah masyarakat yang tidak sedang baik-baik saja. Banyak orang terlihat tersenyum, tetapi sebenarnya sedang menanggung beban hidup yang berat. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dapur. Ada orang tua yang memikirkan biaya sekolah anak. Ada pekerja kecil yang penghasilannya habis sebelum akhir bulan. Ada tetangga yang diam-diam menahan malu karena tidak ingin terlihat susah.
Di sinilah makna kurban menjadi sangat nyata. Kurban bukan hanya tentang membagikan daging. Kurban adalah cara Islam mengajarkan kepekaan sosial. Bahwa orang yang punya kelebihan rezeki tidak boleh hidup terlalu jauh dari penderitaan orang lain. Bahwa ibadah tidak boleh berhenti di tempat penyembelihan, tetapi harus berlanjut menjadi kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai seorang ayah dari empat anak, saya sering berpikir bahwa Idul Adha juga menjadi sekolah kehidupan bagi keluarga. Anak-anak tidak cukup hanya diberi nasihat tentang pentingnya berbagi. Mereka perlu melihat langsung bagaimana orang tuanya peduli kepada sesama. Mereka perlu merasakan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menerima, tetapi juga dari memberi.
Di zaman sekarang, anak-anak tumbuh dalam dunia yang serba cepat, serba digital, dan sering kali serba ingin terlihat. Karena itu, nilai keikhlasan harus terus ditanamkan. Mereka perlu diajak memahami bahwa membantu orang lain tidak harus menunggu kaya. Berbuat baik tidak harus menunggu sempurna. Dan berbagi tidak selalu harus besar, yang penting lahir dari hati yang jujur.
Idul Adha juga menjadi pengingat bagi kita semua, terutama mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan, dan kelapangan rezeki. Amanah hidup tidak boleh hanya digunakan untuk memperbesar nama sendiri. Harta, pengaruh, dan kedudukan seharusnya menjadi jalan untuk memperluas manfaat. Semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin luas pula kepeduliannya.
Kita tentu tidak ingin Idul Adha hanya menjadi agenda tahunan yang datang lalu pergi begitu saja. Hari ini menyembelih hewan, besok kembali seperti biasa: abai pada tetangga, keras kepada keluarga, kasar kepada bawahan, tidak peduli pada orang kecil, dan sibuk mengejar pujian manusia.
Jika itu yang terjadi, maka kita hanya mendapatkan suasana hari rayanya, tetapi kehilangan ruhnya.
Idul Adha seharusnya meninggalkan bekas dalam cara kita hidup. Setelah hari raya berlalu, semestinya kita menjadi lebih rendah hati. Lebih mudah menolong. Lebih peka terhadap kesusahan orang lain. Lebih ikhlas dalam memberi. Lebih mampu menahan diri dari kesombongan. Dan lebih sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah.
Pada akhirnya, kurban mengajarkan bahwa manusia tidak dinilai dari seberapa banyak yang ia simpan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan. Hidup yang hanya dipakai untuk diri sendiri akan terasa sempit. Tetapi hidup yang dipakai untuk berbagi akan terasa lebih lapang, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan ridha Allah.
Maka, Idul Adha tahun ini mari kita jadikan sebagai momentum untuk menengok kembali hati kita. Sudahkah kita benar-benar berkurban? Sudahkah kita menyembelih ego, keserakahan, dan ketidakpedulian dalam diri? Ataukah kita baru berhenti pada ritual, tetapi belum sampai pada makna?
Semoga Idul Adha tidak hanya menghadirkan daging kurban di meja makan kita, tetapi juga menghadirkan kelembutan di hati kita. Sebab kurban yang paling indah bukan hanya yang membuat orang lain kenyang, tetapi juga yang membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin peduli kepada sesama.
_______
Penulis adalah Ayah Empat Anak dan Islamic Enthusiast

Komentar Via Facebook :