Rumah Tekat Mahkota Kelingkan Resmi Terbentuk, Wadah Baru Pengrajin Tudung Manto di Lingga
Ketua serta seluruh pengurus dan anggota Rumah Tekat Mahkota Kelingkan. (Foto: istimewa)
Lingga, Batamnews – Tradisi pembuatan Tudung Manto, kain penutup kepala khas perempuan Melayu yang telah ada sejak zaman Kesultanan Lingga, terus dijaga dan dikembangkan. Kini, upaya pelestarian budaya tersebut diperkuat dengan hadirnya Rumah Tekat Mahkota Kelingkan di Daik Lingga.
Rumah Tekat ini resmi berdiri dan diresmikan pada 15 Mei 2026 lalu. Kehadirannya diharapkan menjadi wadah pelestarian sekaligus pengembangan kerajinan Tudung Manto sebagai identitas budaya Melayu.
Ketua Kelompok Rumah Tekat Mahkota Kelingkan, Emilia atau yang akrab disapa Bunda Emi, menjelaskan filosofi nama Mahkota Kelingkan yang dipilih untuk rumah tekat tersebut.
Menurutnya, Tudung Manto memiliki makna penting bagi perempuan Melayu karena dikenakan di bagian tertinggi tubuh, yakni kepala.
Baca juga: Mengenal Tudung Manto, Warisan Budaya Tak Benda dari Kabupaten Lingga
"Tempat tertinggi bagian tubuh di kepala, sedangkan kelingkan adalah benang emas, perak dan lain lain, sebagai bahan menekat untuk hiasan di kain tudung manto," kata dia kepada batamnews, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, Mahkota Kelingkan memiliki makna kehormatan tertinggi yang dihiasi tekat kelingkan sebagai simbol adab, marwah, dan budi pekerti perempuan Melayu, khususnya dalam adat istiadat masyarakat Melayu di Bunda Tanah Melayu.
"Visi kami adalah melestarikan Tudung Manto sebagai warisan budaya Melayu yang menghasilkan karya berkualitas tinggi, bernilai budaya, berdaya saing serta memberikan kesejahteraan bagi komunitas pengrajin," jelasnya.
Untuk sementara, Rumah Tekat Mahkota Kelingkan berlokasi di kediaman Bunda Emi yang berada di depan RSUD Encek Maryam Daik Lingga.
Baca juga: Lingga Raih Rekor MURI Pemakaian Tudung Manto Terbanyak di Pawai Budaya HUT Ke-20
Rumah Tekat tersebut memiliki sejumlah misi, di antaranya menjaga dan melestarikan nilai filosofis serta motif warisan budaya Melayu agar tidak hilang ditelan zaman. Selain itu, kelompok ini juga berupaya meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan para pengrajin tekat di Lingga.
Tak hanya fokus pada pelestarian, Rumah Tekat Mahkota Kelingkan juga mendorong inovasi dalam pengembangan Tudung Manto tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya.
"Menjadikan Tudung manto sebagai aspirasi serta inovasi untuk berkarya serta mengembangkan bakat untuk menciptakan tudung manto yang beragam bentuk dan coraknya," pungkas Bunda Emi.
Saat ini, kelompok Rumah Tekat Mahkota Kelingkan diketahui telah memiliki 13 anggota pengrajin yang aktif mengembangkan kerajinan Tudung Manto di Lingga.
Baca juga: Pelatihan Pembuatan Tudung Manto di Lingga Resmi Ditutup, Dorong Pelestarian Warisan Budaya

Komentar Via Facebook :