Viral, Menu MBG Pentol Basi dan Berlendir di Bandarsyah, Natuna
Tangkapan layar postingan menu MBG di Natuna.
Natuna, Batamnews – Warga Kabupaten Natuna kembali dihebohkan dengan postingan menu pentol basi dan berlendir dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pering, Kelurahan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Padahal, makanan tersebut diperuntukkan bagi balita dan ibu hamil.
Postingan yang menunjukkan foto menu pentol bakso berlendir dengan tulisan, "Nang Parah nu MBG kat Pering ni..... Makanan lah basi pun diantar untuk bayi dan ibu hamil," (Bahasa Natuna -Red) kini menuai banyak respons dan komentar dari warganet di Natuna.
Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penyelamat generasi dari ancaman stunting, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi para ibu dan balita di Pering, Kelurahan Bandarsyah, Natuna.
Baca juga: Susahnya Petani Natuna Tembus Dapur MBG: Harus Lewat Perantara, Harga Di bawah Pasaran
Temuan makanan yang diduga basi, berbau, dan berlendir tersebut memicu gelombang kemarahan warga. Mereka merasa nyawa balita mereka seolah dijadikan ajang uji coba.
Keresahan ini meledak setelah sejumlah unggahan di grup Facebook komunitas Natuna viral. Para ibu membagikan pengalaman pahit saat menerima paket makanan yang seharusnya menjadi asupan nutrisi bagi kelompok MBG 3B, yakni Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita.
Salah satu menu yang menjadi sorotan tajam adalah bakso pentol. Bukannya daging yang empuk dan bergizi, para ibu di wilayah SPPG Pering justru mendapati pentol yang sudah berlendir dan berbau.
"Kemarin kami dapat pentol yang penuh dengan tulang untuk bayi dan balita. Semenjak itu kami tidak ambil MBG lagi, daripada anak kita kenapa-kenapa. Habis itu, pas mau lebaran disuruh ambil jam 8 malam, padahal janji awal jam 1 siang. Memang luar biasa," cetus Ika, salah satu warga yang mengaku trauma dengan kualitas distribusi tersebut.
Menanggapi kegaduhan itu, Kepala SPPG Pering, Asih, mengatakan makanan yang dimasak sudah melalui pengecekan. Dirinya pun sampai membawa sampel makanan yang dikeluhkan dan meyakinkan bahwa makanan tersebut masih layak dikonsumsi.
"Ketika laporan masuk mengenai makanan yang berlendir, kami mencoba kembali sampel lauk yang kami simpan dan rasanya masih aman," ujar Asih, Kamis, 14 Mei 2026.
Baca juga: Tanpa Suntik Vaksin, Ribuan Ternak di Natuna Terbukti Bebas PMK Secara Alami
Meski berkilah bahwa sampel internal dalam kondisi baik, Asih tidak menampik adanya masalah pada rantai distribusi ke lapangan. Ia menjelaskan makanan dimasak sekitar pukul 11.00 WIB, namun distribusi yang terlambat diduga menjadi penyebab kualitas makanan menurun drastis saat sampai ke tangan warga.
Meski demikian, saat ini banyak warga yang sudah trauma terhadap pelayanan beberapa SPPG di Natuna, terutama terkait menu yang disiapkan. Kini tak sedikit yang menolak menu tersebut.

Komentar Via Facebook :