Trump Tarik 5.000 Tentara dari Jerman, Iran Siaga Perang: Proposal Damai 14 Poin Terganjal

Trump Tarik 5.000 Tentara dari Jerman, Iran Siaga Perang: Proposal Damai 14 Poin Terganjal

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Facebook)

Nurjali

Batam, Batamnews – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui bahwa pihaknya tengah mengkaji proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran. Namun, dengan gaya bicaranya yang khas, ia langsung memperingatkan bahwa Washington bisa kembali melancarkan serangan udara jika Teheran dianggap "berulah".

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Florida, Minggu, 3 Mei 2026, sebelum dirinya menaiki pesawat kepresidenan Air Force One. Ia mengonfirmasi telah menerima pengarahan mengenai "konsep kesepakatan" yang diajukan Iran.

Meski ada celah diplomatik, Trump tak segan menyebut kemungkinan perang kembali meletus. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 7 April lalu, aktivitas militer memang sempat terhenti.

Baca juga: ART asal Indonesia di Hong Kong Ditangkap Usai Masukkan Bocah 2 dan 3 Tahun ke Kandang Anjing

"Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan itu (serangan udara) akan terjadi," ujar Trump ketika ditanya apakah pengeboman akan dilanjutkan.

Ia pun mengklaim bahwa posisi AS saat ini sangat kuat. Menurutnya, Iran berada dalam posisi terdesak akibat konflik berbulan-bulan dan blokade laut yang dilakukan AS.

"Iran hancur," tegasnya.

Namun, dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut proposal Iran sulit diterima. Alasannya, menurut dia, Iran "belum membayar harga yang cukup besar atas perbuatan mereka terhadap kemanusiaan dan dunia dalam 47 tahun terakhir."

Adapun isi proposal 14 poin dari Iran, dikabarkan mencakup tiga tuntutan utama: pencabutan blokade laut AS, pembayaran ganti rugi perang, dan pencairan seluruh aset Iran yang dibekukan. 
Iran juga menginginkan tenggat waktu 30 hari untuk merampungkan syarat-syarat perdamaian. Jangka waktu ini dinilai terlalu cepat oleh AS yang menginginkan masa transisi lebih panjang.

Situasi diplomatik ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang rapuh, yang menghentikan sementara perang AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu.

Baca juga: Cara Daftar Friendster Terbaru: Harus Tap Ponsel dengan Pengguna Lama Baru Tersedia di IOS

Di sisi lain, Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan masih dalam "siap siaga penuh" untuk kembali berperang. Mereka meragukan komitmen AS terhadap perjanjian-perjanjian sebelumnya. Ketegangan semakin memanas setelah Trump menyebut blokade laut AS sebagai "bisnis yang sangat menguntungkan".

Kementerian Luar Negeri Iran langsung merespons keras. Mereka menyebut pernyataan Trump sebagai "pengakuan atas tindakan pembajakan".

Kebuntuan ini semakin rumit karena adanya hambatan teknis untuk membuka kembali Selat Hormuz, seperti keberadaan ranjau laut Iran, serta meregangnya hubungan dengan sekutu NATO setelah Trump memutuskan menarik 5.000 tentara AS dari Jerman.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :