Batam Bukan Tempat `Nyolong`, Amsakar Dukung Ketegasan Li Claudia: Ke Sini Harus Punya Skill!

Batam Bukan Tempat `Nyolong`, Amsakar Dukung Ketegasan Li Claudia: Ke Sini Harus Punya Skill!

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. (Foto: Asrul/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, akhirnya memecah keheningan. Ia pasang badan sekaligus memberikan penjelasan menohok terkait video viral Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, yang meminta pendatang tak ber-KTP dan tak punya kerjaan jelas untuk segera angkat kaki dari Batam.

Video tersebut bukan sekadar gertakan. Li Claudia merekam pernyataan itu saat melakukan inspeksi mendadak terhadap penambang pasir ilegal di kawasan Bundaran Simpang Bandara, Selasa (28/4/2026).

"Kalau bukan orang Batam, datang ke sini enggak kerja, nyolong-nyolong, suruh pulang aja ke daerahnya," tegas Li Claudia dalam video yang kini menjadi buah bibir masyarakat tersebut.

Amsakar Achmad menilai pernyataan wakilnya adalah refleksi dari kondisi Batam yang kini sedang "sesak". Data tak bisa berbohong; Batam kini menduduki peringkat lima besar kota dengan arus migrasi tertinggi di Indonesia.

Lonjakan penduduk ini sudah di luar kendali. "Volume kedatangan ini, untuk rasio perbandingan antara tahun 2024 dengan 2025, ada pertumbuhan lebih dari 17.000 jiwa. Selama enam bulan terakhir, kita memperkirakan penduduk Batam berada di angka 1,2 juta orang, tetapi data riil saat ini sudah hampir menembus angka 1,4 juta orang," jelas Amsakar.

Selisih 200 ribu jiwa dari perkiraan awal ini membawa dampak domino yang mengerikan bagi infrastruktur kota. Sampah melonjak, angka pengangguran sulit ditekan karena banyaknya pendatang tanpa keahlian, hingga layanan air bersih yang terus dipacu ekstra keras demi mencukupi kebutuhan populasi yang meledak.

Sebagai langkah tegas, Amsakar telah menginstruksikan Li Claudia untuk memimpin langsung "pembersihan" data kependudukan. Pemko Batam kini beralih menggunakan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memastikan bantuan sosial tidak salah sasaran.

"DTSEN membelah penduduk kita atas sejumlah kategori atau Desil. Mereka yang berada di Desil 1 hingga 5 adalah kelompok yang berhak mendapatkan program bantuan pemerintah. Perubahan ini berimplikasi langsung pada kebijakan daerah," ungkap Amsakar.

Ketegasan ini sudah membuahkan hasil dalam proses verifikasi. Contohnya, dari target penambahan 4.000 kuota bantuan lansia, ditemukan sekitar 2.000 penerima lama yang ternyata sudah tidak layak masuk kategori miskin. Pendataan ulang kini dilakukan ketat, memilah mana usia produktif dan mana yang benar-benar lansia membutuhkan.

Di akhir penjelasannya, Amsakar memberikan pesan kuat bagi siapa pun yang bermimpi mengadu nasib di Batam. Batam terbuka bagi siapa saja, namun bukan untuk mereka yang tidak punya modal identitas dan keahlian.

"Ibu Wakil memberikan stressing (penekanan) kepada warga untuk mengurus kelengkapan administrasinya. Beliau juga menyarankan, jika ada tenaga-tenaga yang tidak memiliki competitiveness atau daya saing, sebaiknya berpikir ulang untuk datang ke Batam. Kalau mau masuk ke Batam, lengkapi diri dengan skill," tegas Amsakar.

Kini, para pendatang tanpa KTP dan pekerjaan yang terjaring dalam sidak tersebut tidak lagi dibiarkan liar. Mereka telah diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam untuk menjalani pembinaan sementara. 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :