Tahun Baru Hijriah 1448 H dan Momentum Menata Ulang Arah Kehidupan

Tahun Baru Hijriah 1448 H dan Momentum Menata Ulang Arah Kehidupan

Raja Dachroni. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Raja Dachroni

Setiap tahun, manusia merayakan pergantian waktu. Kalender berganti, angka bertambah, dan lembaran baru seolah terbuka di hadapan kita. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apakah bertambahnya waktu selalu berarti bertambahnya kualitas hidup?


Tahun Baru Hijriah 1448 H hadir membawa pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar pergantian angka. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh, lalu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah arah hidup yang sedang kita tempuh masih sesuai dengan tujuan yang kita yakini?

Dalam sebuah perjalanan jauh, seorang pengemudi yang bijak tidak hanya fokus menekan pedal gas. Sesekali ia berhenti untuk melihat peta, memeriksa rute, dan memastikan bahwa kendaraan yang dikendarainya masih berada di jalur yang benar. Sebab secepat apa pun kendaraan melaju, jika arahnya keliru, maka yang terjadi hanyalah semakin cepat menjauh dari tujuan.

Begitulah makna Tahun Baru Hijriah. Ia bukan sekadar momentum menghitung usia, melainkan kesempatan untuk memeriksa arah kehidupan.

Secara historis, kalender Hijriah bermula dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Menariknya, umat Islam tidak menjadikan kelahiran Nabi atau turunnya wahyu pertama sebagai awal penanggalan. Yang dipilih justru peristiwa hijrah. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, perubahan dan transformasi memiliki makna yang sangat penting.

Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis. Rasulullah SAW dan para sahabat meninggalkan Makkah bukan karena ingin mencari kenyamanan, melainkan demi mempertahankan nilai, keyakinan, dan membangun peradaban yang lebih baik. 

Hijrah adalah keberanian meninggalkan keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih diridhai Allah.
Di era modern, sebagian besar dari kita mungkin tidak perlu berpindah kota atau negara untuk berhijrah. Namun, tantangan yang kita hadapi justru sering kali lebih rumit. Kita hidup di zaman ketika informasi datang tanpa henti, perhatian diperebutkan oleh berbagai aplikasi, dan nilai seseorang sering kali diukur dari jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar di media sosial.

Teknologi telah memberikan banyak kemudahan. Akan tetapi, seperti pisau, teknologi hanyalah alat. Pisau dapat membantu seorang koki menyiapkan makanan untuk keluarga, tetapi juga dapat melukai jika digunakan tanpa kendali. Media sosial pun demikian. Ia dapat menjadi sarana dakwah, pembelajaran, dan silaturahmi.

Namun, tanpa kebijaksanaan, ia juga dapat menjadi ruang penyebaran kebencian, fitnah, iri hati, dan pencitraan yang berlebihan.

Tidak sedikit orang yang setiap hari terhubung dengan ribuan akun, tetapi merasa semakin kesepian. Banyak yang mengetahui berbagai peristiwa di seluruh dunia, tetapi tidak mengenal kondisi tetangganya sendiri. Kita hidup dalam era yang kaya informasi, tetapi sering miskin refleksi.

Di sinilah pesan hijrah menjadi sangat relevan.
Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini mengandung prinsip perubahan yang sangat mendasar. Perubahan besar selalu diawali dari perubahan kecil yang dilakukan secara sadar dan konsisten. Tidak ada kehidupan yang tiba-tiba menjadi lebih baik tanpa adanya ikhtiar memperbaiki diri.

Banyak orang berharap hidupnya berubah, tetapi enggan mengubah kebiasaan. Ingin hubungan keluarga lebih harmonis, tetapi tidak menyediakan waktu untuk berbicara dengan pasangan dan anak-anak. Ingin lebih dekat dengan Allah, tetapi masih menunda salat dan membaca Al-Qur'an. Ingin hidup lebih tenang, tetapi terus membiarkan pikirannya dipenuhi hal-hal yang tidak bermanfaat.

Padahal hijrah sering kali dimulai dari langkah-langkah sederhana.

Hijrah bisa berarti mulai mengendalikan emosi ketika marah. Hijrah bisa berarti mengurangi waktu bergulir di media sosial dan memperbanyak waktu bersama keluarga. Hijrah bisa berarti memperbaiki kualitas salat yang selama ini dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban. Hijrah bisa berarti berhenti menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya."

Hadis ini terasa semakin relevan di era digital. Hari ini, "tangan" tidak hanya berarti tindakan fisik. Jari-jari yang mengetik komentar kasar, menyebarkan fitnah, atau membagikan informasi palsu juga dapat melukai orang lain. Karena itu, hijrah zaman sekarang salah satunya adalah hijrah dalam cara berkomunikasi.

Selain krisis etika, manusia modern juga menghadapi krisis makna. Banyak orang memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan yang cukup, dan berbagai fasilitas hidup, tetapi tetap merasa kosong. Mereka sibuk sepanjang hari, namun tidak benar-benar memahami untuk apa semua kesibukan itu dijalani.

Tahun Baru Hijriah mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, melainkan tentang bertumbuh. Bukan sekadar mengejar pencapaian duniawi, tetapi juga menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih panjang setelah kematian.

Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan pentingnya evaluasi diri. Dalam dunia modern, hampir semua hal dievaluasi. 

Perusahaan mengevaluasi kinerja pegawainya. Sekolah mengevaluasi hasil belajar siswa. Pemerintah mengevaluasi program-program pembangunan.
Ironisnya, manusia sering lupa mengevaluasi dirinya sendiri.

Padahal Rasulullah SAW telah memberikan panduan yang sangat jelas:

"Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Tirmidzi)

Kecerdasan dalam perspektif hadis ini bukan hanya soal kemampuan akademik atau kecakapan teknologi. Kecerdasan sejati adalah kemampuan melihat kekurangan diri sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain. Kecerdasan adalah keberanian mengakui kelemahan dan kemauan untuk memperbaikinya.
Karena itu, Tahun Baru Hijriah dapat diibaratkan seperti jadwal servis berkala bagi kendaraan. Kendaraan yang terus digunakan tanpa perawatan lambat laun akan mengalami kerusakan. 

Mesin mungkin masih menyala, tetapi performanya menurun. Konsumsi bahan bakar menjadi boros. Komponen-komponennya mulai aus.

Demikian pula kehidupan manusia. Kesibukan, tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, dan berbagai tantangan hidup perlahan-lahan dapat mengikis kualitas spiritual dan kemanusiaan kita. Karena itu, setiap pergantian tahun menjadi kesempatan untuk melakukan "servis jiwa": membersihkan hati dari iri dan dengki, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Mari kita renungi, hijrah bukanlah tentang menjadi sempurna dalam semalam. Hijrah adalah keberanian untuk terus bergerak menuju kebaikan, meskipun langkahnya kecil. Hijrah adalah kesediaan mengubah arah ketika menyadari bahwa jalan yang ditempuh selama ini kurang tepat. Hijrah bukan berpindah tempat, melainkan memperbaiki arah.

Ketika kalender Hijriah memasuki tahun 1448 yang kita rayakan pada 16 Juni 2026 Masehi, mungkin yang paling penting bukanlah berapa banyak target yang kita tuliskan, melainkan berapa banyak kebiasaan buruk yang siap kita tinggalkan. Bukan seberapa jauh kita ingin melangkah, tetapi seberapa jujur kita dalam menilai diri sendiri.

Sebab waktu akan terus berjalan tanpa menunggu siapa pun. Tahun demi tahun akan berlalu sebagaimana lembaran kalender yang satu per satu terlepas dari dinding rumah kita. Yang tersisa bukanlah angka-angka itu, melainkan jejak perubahan yang berhasil kita lakukan.

Maka saat gema Tahun Baru Hijriah kembali terdengar, barangkali inilah waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, memeriksa peta kehidupan, lalu bertanya kepada diri sendiri dengan penuh kejujuran: jika Rasulullah SAW berhijrah untuk membangun peradaban, maka hijrah apa yang perlu saya lakukan tahun ini? Karena sesungguhnya perjalanan hidup tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita melangkah, melainkan oleh seberapa benar arah yang kita tuju.

_______

Penulis adalah Seorang Ayah Empat Anak dan Ketua KPKS (Komunitas Peduli Kampung Sendiri) Tanjungpinang

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :