Kronologi Lengkap Dugaan Perundungan Siswa SD di Batam oleh Kakak Kelas hingga Berujung Mimisan
Sekolah Menengah Kejuruan Yehonala, Komplek Aku Tahu I, Sungai Panas, Kec. Batam Kota, Kota Batam. Jumat (17/4/2026). (Foto: Jamaludin/Batamnews)
Batam, Batamnews – Sebuah insiden memilukan terjadi di lingkungan sekolah swasta Yehonala, Sei Panas, Batam Kota, Kamis (16/4/2026). Seorang bocah kelas 3 SD berinisial AH, diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh seorang pelajar SMA berinisial D.
Berdasarkan keterangan keluarga, aksi perundungan ini dipicu oleh persoalan sepele yang berujung pada luka fisik dan trauma.
Kronologi bermula di lantai dua gedung sekolah. Saat itu, AH sedang asyik bermain bersama rekan sejawatnya. Tiba-tiba, pelaku D datang menghampiri dan menanyakan keberadaan kakak korban yang berinisial AK.
“Pelaku bertanya di mana kakaknya, lalu anak saya menjawab tidak tahu. Tapi pelaku menyuruh anak saya untuk mencari kakaknya dengan nada memaksa,” ujar Inka, ibu korban, membeberkan awal mula ketegangan tersebut.
Permintaan dengan nada tinggi itu pun ditolak oleh korban. AH yang merasa tidak tahu-menahu soal keberadaan kakaknya, mencoba membela diri dengan kalimat yang cukup tegas.
“Anak saya menjawab tidak mau, bahkan sempat mengatakan ‘kamu kan punya kaki dan tangan, kamu cari sendiri lah’,” jelas Inka.
Siapa sangka, jawaban spontan tersebut memicu amarah pelaku. Tanpa pikir panjang, D diduga langsung melakukan tindakan kasar terhadap korban yang usianya jauh di bawahnya.
“Setelah itu pelaku mendorong belakang kepala anak saya sampai keluar darah dari hidung atau mimisan,” ungkap Inka.
Tindakan kejam pelaku tidak berhenti sampai di situ. Alih-alih merasa bersalah melihat hidung korban bersimbah darah, pelaku justru diduga mengeluarkan ponselnya dan merekam AH yang sedang menangis kesakitan. Tindakan tersebut sempat memancing reaksi teman-teman korban yang berada di lokasi.
“Ada teman-temannya yang melihat dan sempat bilang ‘jangan digituin’, bahkan ada yang berkata ‘dia sudah menangis, kamu apakan dia’,” tambah Inka menceritakan kesaksian yang didapatnya.
Ketegangan berlanjut saat kakak korban, AK, akhirnya tiba di lokasi. Menyadari kehadiran sang kakak, pelaku D diduga langsung mengubah sikapnya dan bersandiwara seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ketika kakaknya datang, pelaku malah pura-pura bertanya, ‘kenapa adikmu kok dia menangis’, padahal dia sendiri yang membuat anak saya menangis,” ujar Inka lagi.
Kasus ini kini menjadi sorotan tajam. Pihak keluarga menegaskan tidak akan tinggal diam, apalagi mereka telah mengantongi tiga orang saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut.
Keluarga menuntut adanya tindakan tegas dan perhatian serius dari pihak sekolah agar aksi premanisme pelajar SMA terhadap siswa SD ini tidak lagi terulang di kemudian hari.

Komentar Via Facebook :