Proyek Raksasa Vanda Solar & Battery Berpotensi Tarik Investasi Asing USD50 Miliar, Siap Sulap Kepri Jadi Pusat Energi Hijau Dunia
Ilustrasi PLTS. (Foto. Istock).
Batam, Batamnews – Kepulauan Riau kini tengah bersiap menjadi pemain utama dalam peta energi bersih global. Melalui proyek strategis Vanda Solar & Battery, PT Vanda Energy Indonesia tancap gas membangun infrastruktur energi masa depan yang diproyeksikan bakal mengubah wajah ekonomi Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).
Bukan sekadar proyek biasa, inisiatif ini merupakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) raksasa berkapasitas 2.000 MW yang didukung sistem penyimpanan baterai sebesar 4.400 MWh. Proyek ini menjadi tulang punggung "Koridor Ekonomi Hijau" yang menghubungkan Indonesia dan Singapura.
Dampak ekonominya pun fantastis. Investasi asing langsung (FDI) senilai hingga USD 50 miliar diprediksi akan mengalir deras ke Indonesia. Angka ini bukan hanya soal modal, tapi juga tentang penciptaan lapangan kerja masif dan penguatan industri domestik yang selama ini haus akan energi bersih.
Direktur PT Vanda Energy Indonesia, Enda Ginting, menegaskan bahwa kemandirian energi adalah harga mati bagi keamanan nasional, terutama di tengah gejolak politik dunia yang tak menentu.
“Dampak dari situasi yang sedang berlangsung di Timur Tengah menegaskan kenyataan bahwa, selama kita masih bergantung pada pasar bahan bakar fosil global yang tidak stabil untuk menggerakkan perekonomian kita, kita akan terus rentan terhadap guncangan eksternal. Hal ini menjadi pengingat yang jelas bahwa untuk mencapai keamanan nasional yang sesungguhnya, kita memerlukan kemandirian energi, dan itulah sebabnya kita membutuhkan transisi energi,” ujar Enda, Sabtu (18/4/2026).
Enda menambahkan, proyek lintas batas ini menjadi magnet bagi raksasa teknologi dunia untuk masuk ke Indonesia.
“Inilah tepatnya mengapa inisiatif lintas batas seperti Proyek Vanda Solar & Battery sangatlah penting. Proyek berskala besar semacam ini mendorong masuknya investasi asing langsung ke Indonesia, menarik produsen teknologi ramah lingkungan terkemuka untuk mendirikan pabrik di dalam negeri, serta menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan bagi masyarakat setempat,” lanjutnya.
Saat ini, pihak perusahaan terus bergerak cepat melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat untuk urusan perizinan, termasuk izin ekspor listrik ke Singapura yang menjadi salah satu target utama.
“Kami berkomitmen terhadap pembangunan yang bertanggung jawab untuk mendukung transisi energi di seluruh kawasan ini. Kami terus bekerja sama erat dengan pemerintah Indonesia guna mempercepat penerbitan izin ekspor yang akan memungkinkan kami melanjutkan pengembangan Proyek Vanda Solar & Battery, yang pada gilirannya akan mendukung transisi energi di Singapura dan Indonesia,” tegas Enda.
Ambisi ini tidak dijalankan sendiri. Vanda Energy telah merangkul raksasa teknologi global seperti Trinasolar, LONGi, Black & Veatch, hingga produsen baterai terbesar dunia, CATL.
Menariknya, kemajuan ini juga dipastikan menyentuh masyarakat lokal secara langsung. Warga di Kabupaten Karimun, khususnya di Pulau Sugi, akan merasakan dampak nyata lewat pembangunan infrastruktur publik dan prioritas tenaga kerja lokal.
Melalui komitmen ini, Kepulauan Riau bukan lagi sekadar wilayah perbatasan, melainkan jantung energi hijau yang mandiri dan kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Komentar Via Facebook :