Imigrasi Batam Selidiki WNA Tiongkok Pengendali Judi Online dan Love Scamming
Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Imigrasi Batam, Kharisma Rukmana. (foto. batamnews.co.id).
Batam, Batamnews – Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam turun tangan membongkar jaringan kejahatan digital yang beroperasi dari Batam. Seorang warga negara asing (WNA) asal Tiongkok berinisial AH alias HR diduga menjadi otak di balik praktik judi online dan love scamming yang meresahkan.
Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Imigrasi Batam, Kharisma, memastikan pihaknya segera bergerak setelah informasi ini mencuat ke publik. Ia menyebut timnya kini tengah mengumpulkan bahan keterangan atau pulbaket untuk mendalami kebenaran laporan tersebut.
"Kami akan dalami apakah benar ada WNA Tiongkok yang terlibat dalam aktivitas yang diberitakan media," ujar Kharisma saat dikonfirmasi, Kamis, 12 Maret 2026.
Baca juga: Mobil Sedan Terbakar di Depan SPBU Codo Batu Aji, Dua Pria Luka Bakar
Ia menegaskan, jika ditemukan pelanggaran keimigrasian, pihaknya tidak akan ragu mengambil tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku.
"Kami masih dalami bersama bidang penindakan. Kalau terbukti, pasti kami tindak. Hasilnya nanti kami sampaikan," kata dia.
Informasi yang dihimpun, AH diduga menggunakan paspor palsu Guinea-Bissau untuk keluar-masuk Indonesia. Dokumen itu disebut dibuat oleh orang kepercayaannya di Batam dengan biaya fantastis mencapai Rp3 miliar.
Berdasarkan penelusuran, AH bukan nama baru dalam catatan kejahatan siber di Batam. Ia pernah menjadi buronan Interpol dan dicari Polda Kepri serta Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri akibat kasus love scamming.
Meski sempat diburu, belakangan AH disebut masih bebas bergerak. Ia diduga tidak hanya menjalankan penipuan daring, tetapi juga merambah bisnis judi online berbasis aplikasi, hiburan malam, perdagangan minuman keras, hingga properti.
Dokumen perjalanan AH menjadi sorotan. Foto paspor yang diperoleh Batamnews menunjukkan identitas Guinea-Bissau dengan kode GNB dan berbahasa Portugis. Namun sejumlah kejanggalan visual, seperti kualitas font dan tanda tangan pejabat yang tampak seperti tulisan tangan, mengindikasikan dokumen tersebut palsu.
Baca juga: Terekam CCTV: Pencuri Gasak 40 Kg Bawang di Batam Centre
Sumber penegak hukum menyebut, paspor Guinea-Bissau kerap menjadi incaran pemalsu karena sistem administrasi negara itu dinilai lemah. Dokumen itu bisa masuk kategori blangko asli dengan identitas palsu atau palsu total buatan teknologi cetak tinggi.
"Banyak jaringan internasional memanfaatkan paspor Afrika Barat untuk mobilitas pelaku kejahatan digital, pencucian uang, hingga migrasi ilegal," ujar sumber tersebut.

Komentar Via Facebook :