Hujan Turun di Batam, Ketua MUI Sebut Salat Istisqa Tak Lagi Relevan: Kita Syukuri Rahmat Allah

Hujan Turun di Batam, Ketua MUI Sebut Salat Istisqa Tak Lagi Relevan: Kita Syukuri Rahmat Allah

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, KH. Luqman Rifai. (Foto: Asrul/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews  – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, KH. Luqman Rifai, menegaskan bahwa wacana pelaksanaan Salat Istisqa (salat meminta hujan) di Kota Batam, Kepulauan Riau, tidak lagi diperlukan.

Hal ini menyusul turunnya hujan yang telah membasahi wilayah Batam dalam pada Rabu (17/2/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan KH. Luqman Rifai saat diwawancarai awak media di sela-sela kegiatannya.

Ia menjelaskan bahwa hukum sunah melaksanakan Salat Istisqa berlaku ketika terjadi kemarau panjang, namun gugur kewajibannya saat hujan telah turun.

"Bahwa sunnahnya Istisqa itu ketika lama tak turun hujan. Tapi ketika sudah turun hujan, kesunnahan itu tentu sudah tidak ada lagi," ujar KH. Luqman Rifai.

Luqman menjelaskan bahwa sebelumnya MUI bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam memang sempat merencanakan pelaksanaan salat tersebut. Namun, kesepakatan yang diambil adalah menunggu perkembangan cuaca selama satu hingga dua pekan.

"Kami kan waktu yang lalu di Pemko sudah sampaikan. Kita tunggu seminggu dua minggu, kalau memang tak ada turun hujan, baru Istisqa," jelasnya.

Dengan turunnya hujan saat ini, Luqman mengajak masyarakat untuk bersyukur alih-alih tetap memaksakan menggelar salat minta hujan.

"Karena hari ini sudah turun hujan, tak mungkin Allah sudah kasih rahmat masih juga kita meminta lagi. Berarti (kalau tetap dilaksanakan) enggak mensyukuri yang sudah ada," tambahnya sembari tersenyum.

Selain menanggapi soal cuaca, Ketua MUI Batam juga memberikan imbauan penting terkait persiapan umat Islam menyambut bulan suci Ramadan. KH. Luqman Rifai menyoroti adanya potensi perbedaan penetapan 1 Ramadan pada tahun ini.

Menyikapi potensi perbedaan tersebut, ia meminta seluruh umat Islam di Batam untuk tetap memprioritaskan persaudaraan (ukhuwah) dan tidak saling mencela.

"Ada kemungkinan bahwa Ramadan ini, satu Ramadannya berbeda, mengawali Ramadannya berbeda. Maka kami menghimbau kepada seluruh umat Islam untuk menjaga ukhuwah, persaudaraan, dan silaturahim," tegas Luqman.

Ia berharap perbedaan metode dalam menentukan awal puasa tidak menjadi pemicu perpecahan di tengah masyarakat. Saling menghargai dinilai menjadi kunci agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan tenang dan khusyuk.

"Walaupun kita berbeda, harapan kita tidak ada saling menghujat satu sama lain. Tapi tetap saling menghargai terhadap perbedaan yang ada, demi ketenangan dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadan," pesannya.

Menutup pernyataannya, KH. Luqman Rifai berharap Ramadan tahun 2026 ini dapat menjadi momentum perbaikan diri bagi umat Islam.

"Mudah-mudahan di Ramadan 2026 akan menjadi Ramadan yang lebih baik," pungkasnya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :