Panas Berkepanjangan, Warga Kampung Senempek di Lingga Bertaruh Peluh Demi Setetes Air Bersih
Salah satu sumur kecil yang terletak diantara jalan kampung Senempek menuju kampung Sambau yang dimanfaatkan warga untuk mengambil air. (Foto: Ruzi/Batamnews)
Lingga, Batamnews – Panas terik yang melanda Kabupaten Lingga belakangan ini bukan sekadar urusan suhu, tapi soal kelangsungan hidup. Di Kampung Senempek, Desa Limbung, Kecamatan Lingga Utara, warga kini harus bertaruh peluh demi setetes air bersih.
Debit air di bak penampungan utama kabarnya makin menipis akibat kemarau panjang. Bagi warga setempat, kondisi ini bak mimpi buruk yang terus berulang setiap tahun.
Mahmur, salah seorang warga, menceritakan betapa sulitnya mendapatkan air saat hujan tak kunjung turun.
"Kami sekarang susah air, karena tidak ada hujan lebat turun. Karena sekarang musim kemarau, kami ambil air di perigi-perigi yang ada di kampung Senempek. Walaupun airnya agak bening, tapi sedikit berbau," kata dia kepada Batamnews, Selasa (10/2/2026).
Kondisi salah satu perigi atau sumur kecil yang dimanfaatkan warga untuk mengambil air untuk mandi atau mencuci. (Foto: Ruzi/Batamnews)
Krisis ini memaksa warga bekerja ekstra keras siang dan malam hanya untuk sekadar mandi, mencuci, atau minum. Harapan Mahmur sederhana, ia ingin pemerintah daerah turun tangan.
"Harapan kami ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lingga untuk masalah air bersih di kampung kami. Karena setiap kemarau datang, kami sangat kesulitan mendapatkan air bersih," pintanya.
Warga lainnya, Ata, mengungkapkan bahwa untuk kebutuhan minum dan memasak, mereka tidak bisa mengandalkan air sumur yang berbau. Mau tidak mau, mereka harus membeli air bersih.
"Masyarakat juga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan. Itu untuk satu tong air biru (sekitar 200 liter) seharga Rp20.000. Harapan kami semoga pemerintah dapat membantu masyarakat kami," ucap dia.
Krisis ini diperparah oleh kerusakan infrastruktur yang belum tertangani. Kepala Dusun II Senempek, Firmansyah, menjelaskan bahwa penderitaan warganya sudah berlangsung cukup lama dan membutuhkan solusi permanen dari pemerintah.
"Kami masyarakat Kampung Senempek hampir tiga bulan sudah kekeringan. Jadi meminta perhatian pemerintah untuk membantu mencari solusi dalam hal ini," tutur Firman.
Menurutnya, masalah distribusi air menjadi kacau bukan hanya karena sumber air yang kering, tetapi juga jaringan pipa yang rusak parah akibat peristiwa masa lalu.
"Selama ini, pipa air yang ada beberapa tahun lalu bekas kebakaran lahan. Jadi itu lah yang membuat kami kewalahan," sebutnya.
Meski warga telah bergotong royong mencoba memperbaiki pipa-pipa tersebut, hasilnya masih nihil. Kini, besar harapan warga agar Pemerintah Kabupaten Lingga segera turun tangan mengatasi kekeringan dan membenahi infrastruktur air, agar warga tidak lagi kesulitan setiap kali musim panas menyapa.

Komentar Via Facebook :