Bukan Sayur atau Buah, Pasar di Bulgaria Ini Justru `Menjajakan` Calon Istri
Ilustrasi.
Bulgaria, Batamnews – Bayangkan sebuah pasar di mana barang yang ditawarkan bukanlah komoditas harian, melainkan masa depan dalam ikatan pernikahan. Di sebuah kota kecil bernama Stara Zagora, Bulgaria, pemandangan unik sekaligus kontroversial tersaji setiap musim semi. Namanya: "Pasar Pengantin Gypsy".
Saat hari Sabtu dalam penanggalan Kristen Ortodoks tiba, sebuah lapangan luas akan dipadati oleh warga dari etnis Kalaidzhi Roma. Komunitas yang berjumlah sekitar 18.000 orang ini memiliki tradisi turun-temurun yang mungkin terasa asing bagi dunia modern, yakni mencarikan jodoh bagi anak-anak mereka melalui proses tawar-menawar terbuka.
Gaun Indah dan Adu Tawar
Di pasar ini, para gadis muda tampil dengan riasan maksimal dan gaun-gaun terbaik mereka. Mereka sengaja "dipamerkan" oleh orang tua untuk menarik perhatian para pria yang sedang mencari pendamping hidup.
Sekilas, suasananya mirip pasar tradisional pada umumnya. Namun, yang menjadi objek negosiasi adalah nilai mahar yang harus dibayar oleh keluarga pria kepada orang tua sang wanita. Semakin cantik dan menarik seorang gadis menurut standar komunitas tersebut, maka harganya pun akan semakin melambung tinggi.
Mahalnya Harga Sebuah Kesucian
Velcho Krustev, seorang etnografer dari Akademi Sains Bulgaria, menyebutkan bahwa fenomena ini sebenarnya memiliki makna mendalam bagi komunitas tersebut. Menurutnya, para pria di sana bukan sekadar "membeli" istri, melainkan membayar untuk sebuah "keperawanan" atau kesucian yang sangat dijunjung tinggi dalam adat mereka.
Angka yang berputar di pasar ini pun tidak main-main. Ambil contoh Hristos Georgiev, seorang pemuda berusia 18 tahun. Ia harus merogoh kocek antara Rp189 juta hingga Rp300 juta untuk meminang Donka Dimitrova. Nilai ini jauh melampaui rata-rata gaji tahunan karyawan di Bulgaria.
"Jika dia sangat cantik, harganya bisa tembus Rp350 juta lebih," ujar Georgiev yang mengaku harus menabung bertahun-tahun demi momen ini.
Tradisi vs Polemik Kemanusiaan
Meski dianggap biasa oleh komunitas Kalaidzhi, keberadaan pasar ini memicu polemik hebat di Bulgaria. Banyak warga lokal yang menilai aktivitas ini merendahkan martabat perempuan karena memosisikan mereka layaknya barang dagangan.
Namun bagi etnis Kalaidzhi—yang selama ini hidup terpinggirkan dan kerap mendapat stereotipe negatif—pasar ini adalah cara mereka menjaga eksistensi dan memastikan anak-anak mereka menikah di lingkungan etnis yang sama.
Di tengah desakan modernisasi, Pasar Pengantin Gypsy tetap berdiri kokoh sebagai simbol benturan antara tradisi kuno yang kental dan nilai-nilai kemanusiaan masa kini.

Komentar Via Facebook :