Rekonstruksi Pembunuhan Dwi Putri: Adegan 70-80 Ungkap Siksaan Hingga Korban Sekarat di Batuampar
Suasana Rekontruksi Dwi Putri Aprilian Dini, di Perumahan Jodoh Permai blok D 28, Batuampar, Kamis (15/1) sore. Foto : Tommy Purniawan.
Batam, Batamnews – Rekonstruksi kasus kematian Dwi Putri Aprilian Dini, yang dilakukan di Perumahan Jodoh Permai, Kamis, 15 Januari 2026 sore, berhasil mengungkap adegan-adegan kritis yang dialami korban sebelum meninggal.
Reka ulang yang direncanakan mencapai 97 adegan ini, hingga pukul 15.00 WIB baru mencapai 50 adegan.
Adegan paling kritis, yaitu mulai urutan ke-70 hingga 80, secara detail memperagakan penganiayaan berat yang mengakibatkan korban tak sadarkan diri. Menurut penyelidikan di lapangan, rentetan adegan inilah yang membuat kondisi korban semakin lemah akibat penyiksaan.
Baca juga: Rekonstruksi Pembunuhan Dwi Putri di Batam: Polisi Ungkap Motif dan Kronologi 3 Hari Penyiksaan
Kapolsek Batuampar, Kompol Amru Abdullah, menjelaskan motif pelaku utama, Wilson. “Wilson terpancing emosi setelah melihat video yang sebenarnya rekayasa. Ia tidak tahu video itu palsu dan langsung marah saat melihat pacarnya seakan-akan dicekik oleh korban,” ujar Amru.
Seluruh rekonstruksi dilakukan di rumah Wilson, tanpa mengunjungi Rumah Sakit Elisabeth dengan pertimbangan waktu dan keamanan. Tujuh orang saksi wanita dari Agency MK turut serta, memperagakan berbagai adegan bersama para pelaku secara bergantian.
Penyidikan mengungkap siksaan brutal yang berlangsung selama tiga hari. Korban berulang kali dipukul, ditendang, ditampar, dan dibenturkan ke dinding.
Alat penyiksaan yang digunakan antara lain sapu lidi dan kayu. Korban juga diikat dengan lakban dan borgol, serta disemprot air dalam keadaan telanjang.
Salah satu tindakan paling kejam terungkap saat penyidik menemukan fakta bahwa hidung korban disemprot air selama hampir dua jam dalam kondisi mulut tertutup lakban. Diduga, tindakan inilah yang menjadi penyebab utama korban kehilangan kesadaran dan akhirnya meninggal.
Kekejaman ini tidak hanya melibatkan Wilson. Tiga perempuan lain, yaitu Anik, Putri Angelina alias Papi Tama, dan Salmiati alias Papi Charles, turut serta. Mereka tidak hanya mengetahui, tetapi juga ikut mengawasi penyiksaan, membeli lakban, dan mengikat korban.
Baca juga: 97 Adegan Reka Ulang Bongkar Detik-detik Pembunuhan Dwi Putri Aprilian Dini di Batam
Kepanikan melanda para pelaku ketika korban tidak lagi memberikan respons. Mereka berusaha menyelamatkan dengan memanggil seorang bidan. Wilson bahkan membeli tabung oksigen. Namun, upaya itu sia-sia.
Dalam upaya mengaburkan kejahatan, korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Elisabeth Sei Lekop dengan menggunakan identitas palsu “Mr. X”. Rekonstruksi ini diharapkan dapat melengkapi bukti dan memperjelas kronologi kejadian menuju proses hukum yang menyeluruh.

Komentar Via Facebook :