Isra Mi'raj dan Pelajaran untuk Keluarga Kita
Fatmawati.
Memaknai Peringatan Isra Miraj 27 Rajab 1447 Hijriah / 16 Januari 2026
Oleh: Fatmawati
Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah dalam perjalanan kenabian Muhammad SAW. Ia adalah kisah spiritual yang hidup, melintasi ruang dan waktu, serta terus relevan untuk dibaca ulang dalam konteks kehidupan modern, termasuk kehidupan keluarga kita hari ini. Pada 16 Januari 2026, umat Islam kembali memperingati peristiwa agung ini yang dalam kalender Hijriah jatuh pada 27 Rajab 1447 Hijriah, sebuah momentum tahunan yang seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi ruang refleksi bersama, terutama di lingkup keluarga.
Peristiwa Isra Mikraj terjadi pada fase paling berat dalam hidup Rasulullah SAW. Tahun itu dikenal sebagai Amul Huzn, tahun kesedihan, karena wafatnya dua sosok penopang utama dakwah beliau, Khadijah RA dan Abu Thalib. Secara sosiologis, Rasulullah SAW sedang berada pada titik terendah sebagai manusia. Namun justru pada saat itulah Allah mengundang beliau menembus langit, menyaksikan tanda tanda kebesaran Nya, dan menerima perintah shalat secara langsung. Ini memberi pesan kuat bahwa di balik kesulitan, selalu ada penguatan Ilahi.
Peringatan Isra Mikraj setiap bulan Rajab, termasuk pada 27 Rajab 1447 Hijriah, sesungguhnya mengajak umat Islam untuk berhenti sejenak dari rutinitas duniawi dan menata ulang orientasi hidup. Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah, bulan yang tepat untuk memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah sekaligus hubungan horizontal di dalam keluarga. Momentum ini menjadi pengingat bahwa keluarga pun sering melewati tahun kesedihan versi mereka sendiri, mulai dari ujian ekonomi, kelelahan emosional, konflik komunikasi, hingga tantangan pengasuhan anak di era digital.
Pelajaran paling nyata dari Isra Mikraj adalah perintah shalat. Shalat bukan sekadar ritual individual, tetapi fondasi peradaban dan pendidikan keluarga. Dalam Al Quran, shalat disebut sebagai penjaga dari perbuatan keji dan mungkar. Dalam konteks parenting, shalat berfungsi sebagai jangkar moral dan emosional. Anak anak yang tumbuh dalam rumah yang memuliakan shalat, bukan sekadar memerintahkannya, akan menyerap nilai disiplin, tanggung jawab, dan ketenangan batin.
Momentum peringatan Isra Mikraj pada 16 Januari 2026 seharusnya menjadi titik balik bagi keluarga Muslim untuk meninjau kembali kualitas shalat di rumah. Apakah shalat sudah menjadi budaya keluarga atau masih sebatas kewajiban personal. Apakah anak anak melihat shalat sebagai kebutuhan jiwa atau sekadar rutinitas yang diawasi. Isra Mikraj mengajarkan bahwa shalat adalah mi rajnya orang beriman, sarana dialog intim dengan Allah yang seharusnya hidup di tengah keluarga.
Isra Mikraj juga menyimpan pelajaran penting tentang kepemimpinan ayah dalam keluarga. Dalam peristiwa Mikraj, Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi. Ini adalah simbol kepemimpinan spiritual yang matang, penuh tanggung jawab, dan berlandaskan keteladanan. Dalam keluarga, ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi imam yang memberi arah, menenangkan, dan menguatkan. Peringatan Isra Mikraj menjadi pengingat bagi para ayah untuk kembali meneguhkan peran tersebut, dimulai dari hal paling sederhana, yaitu shalat berjamaah bersama keluarga.
Di sisi lain, peran ibu tercermin dari sosok Khadijah RA, meski beliau telah wafat sebelum Isra Mikraj terjadi. Keteguhan iman dan dukungan emosional Khadijah menjadi fondasi kuat bagi Rasulullah SAW menghadapi ujian berat. Dalam keluarga, ibu adalah pusat kehangatan dan penopang spiritual. Rajab, bulan Isra Mikraj, adalah waktu yang tepat bagi para ibu untuk memperkuat doa, kesabaran, dan keteladanan akhlak, karena pengaruhnya sangat dalam terhadap pembentukan karakter anak.
Pelajaran lain dari Isra Mikraj adalah keberanian menyampaikan kebenaran dan membangun dialog iman. Rasulullah SAW menyampaikan kisah Isra Mikraj secara terbuka, meski menghadapi penolakan dan ejekan. Dalam keluarga, orang tua perlu membangun ruang dialog yang sehat tentang iman dan nilai nilai kehidupan. Anak anak tidak cukup hanya diperintah, tetapi perlu diajak memahami, merasakan, dan mencintai ajaran Islam.
Di tengah tantangan zaman, seperti ketergantungan gawai, krisis keteladanan, dan melemahnya ikatan keluarga, peringatan Isra Mikraj setiap bulan Rajab menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan manusia dengan langit. Justru dari rumah yang menjaga shalat, doa, dan keteladanan, akan lahir generasi yang kuat secara spiritual dan matang secara emosional.
Penting kita garisbawahi, Isra Mikraj bukan hanya peristiwa untuk dikenang setiap 27 Rajab, tetapi pesan untuk dihidupkan setiap hari. Peringatan 16 Januari 2026 hendaknya menjadi awal bagi keluarga Muslim untuk kembali menata rumah sebagai madrasah iman, tempat shalat ditegakkan, nilai ditanamkan, dan cinta kepada Allah ditumbuhkan sejak dini. Dari sanalah perjalanan mi raj keluarga menuju keberkahan dimulai.
-----------
Penulis adalah Ibu Empat Anak dan Founder Bintan Islamic Parenting (BIP)

Komentar Via Facebook :