Menjadi Manusia Beradab
Fatmawati. (Foto: istimewa)
Oleh: Fatmawati, S.Pd.I
Kemajuan teknologi kerap dijadikan tolok ukur utama peradaban. Kecepatan informasi, kecanggihan gawai, dan luasnya akses pengetahuan dianggap sebagai bukti bahwa manusia modern semakin maju. Namun, kemajuan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas relasi antarmanusia. Di ruang publik, terutama di media sosial, kita justru menyaksikan kemerosotan cara berbicara, mudahnya orang saling merendahkan, serta kecenderungan menghakimi pihak yang berbeda. Baru -baru ini kita baru saja menyaksikan kasus viral seorang oknum dosen perguruan tinggi yang meludahi kasir karena ditegur tak mau mengantri. Sungguh ironi memang. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan tentang keberadaban manusia menjadi relevan dan mendesak.
Keberadaban sejatinya bukan konsep yang rumit. Ia tampak dalam sikap sederhana, seperti kemampuan menghormati orang lain, menahan diri dalam perbedaan, dan menyadari bahwa kebebasan selalu mengandung tanggung jawab. Dalam tradisi etika, sebagaimana dijelaskan oleh pemikir seperti Kees Bertens dan Franz Magnis Suseno, manusia disebut bermoral bukan hanya karena mampu berpikir, tetapi karena mampu mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain. Etika, dengan demikian, adalah fondasi kehidupan bersama yang manusiawi.
Persoalannya, kecerdasan intelektual tidak otomatis melahirkan kedewasaan moral. Kita sering menjumpai orang yang pandai berargumentasi, tetapi miskin empati. Ada pula mereka yang merasa benar secara logika, namun abai terhadap perasaan dan martabat sesamanya. Dalam konteks ini, keberadaban menjadi pembeda antara kecerdasan yang mencerahkan dan kecerdasan yang melukai. Tanpa adab, pengetahuan justru dapat menjadi alat pembenaran ego.
Dalam khazanah Islam, konsep adab menempati posisi yang sangat fundamental. Syed Muhammad Naquib al Attas menegaskan bahwa inti krisis manusia modern bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab. Karena itu, para ulama klasik selalu menekankan bahwa adab harus mendahului ilmu. Imam Malik, misalnya, dikenal menasihati murid muridnya agar mempelajari adab sebelum memperdalam pengetahuan. Pesan ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa akhlak berpotensi menimbulkan kerusakan sosial.
Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa misi utama kenabiannya adalah menyempurnakan akhlak manusia. Pernyataan ini sejalan dengan gambaran Al Quran tentang manusia beriman, yaitu mereka yang menjaga lisan, tidak merendahkan orang lain, dan menegakkan keadilan bahkan terhadap pihak yang tidak disukai. Quraish Shihab dalam berbagai karyanya menekankan bahwa pesan moral Al Quran bersifat universal dan relevan bagi masyarakat majemuk, termasuk dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia.
Keberadaban dalam Islam juga mencakup kesadaran hidup bersama dalam perbedaan. Nurcholish Madjid berulang kali mengingatkan bahwa agama seharusnya menjadi sumber etika publik yang menumbuhkan sikap inklusif, bukan alat legitimasi untuk menyingkirkan pihak lain. Dalam masyarakat plural, keberadaban menuntut kesediaan untuk berdialog, menghargai keyakinan orang lain, dan menolak segala bentuk pemaksaan.
Indonesia, sebagai bangsa yang dibangun di atas keberagaman, sangat membutuhkan fondasi adab semacam ini. Tanpa adab, perbedaan agama, budaya, dan pandangan politik mudah berubah menjadi sumber konflik. Namun, dengan adab, perbedaan justru dapat dikelola sebagai kekayaan bersama. Pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh H A R Tilaar, tidak cukup hanya mencetak manusia cerdas, tetapi harus membentuk manusia yang berbudaya dan berkeadaban.
Tantangan keberadaban hari ini semakin kompleks di era digital. Media sosial membuka ruang ekspresi yang luas, tetapi sering kali tanpa kendali etis. Banyak orang merasa bebas melontarkan kata kata kasar karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicaranya. Dalam kondisi ini, adab justru diuji. Manusia beradab tidak hanya santun di dunia nyata, tetapi juga di ruang virtual. Ia sadar bahwa di balik setiap akun ada manusia nyata dengan martabat yang harus dihormati.
Polarisasi sosial dan politik juga memperberat ujian tersebut. Perbedaan pilihan sering diperlakukan sebagai garis pemisah yang kaku. Relasi sosial menjadi dingin dan penuh kecurigaan. Padahal, dalam etika politik modern, seperti dikemukakan Magnis Suseno, perbedaan pandangan adalah keniscayaan demokrasi yang harus dikelola dengan sikap saling menghormati. Keberadaban justru tampak ketika seseorang mampu berbeda tanpa harus memusuhi.
Menjadi manusia beradab di era ini menuntut kesadaran reflektif. Kita perlu belajar berhenti sejenak sebelum berbicara, berpikir sebelum membagikan informasi, dan mendengarkan sebelum menghakimi. Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan moral. Dalam pandangan Al Ghazali, pengendalian diri dan penyucian hati merupakan jalan utama untuk menjaga keseimbangan antara ilmu dan akhlak.
Pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari kemegahan teknologi atau kecepatan informasi, melainkan dari kualitas manusia yang menghidupinya. Menjadi manusia beradab adalah ikhtiar terus menerus untuk menjaga martabat diri dan orang lain. Jika adab runtuh, kemajuan hanya akan melahirkan kegaduhan. Namun, jika adab ditegakkan, perbedaan dapat dirawat, dan kehidupan bersama menemukan maknanya.
------------
Penulis adalah Ibu Empat Anak dan Founder Bintan Islamic Parenting (BIP)

Komentar Via Facebook :