Pemimpin Yang Memprihatinkan
Muhammad Rudi.
Oleh: Abang Mat
Walikota Batam... meski bukan hanya memimpin masyarakat suku Melayu di Batam tapi tetap dipandang sebagai pemimpin Melayu. Sebab Batam adalah daerah Melayu, daerah yang budaya aslinya adalah budaya Melayu. Wilayahnya kesultanan Riau sejak tahun 1511 sampai tahun 1911. Pulau yang dikelilingi Bintan, Lingga, dan Bulang. Walikota Batam yang dibahas dalam artikel ini adalah Tuan Rudi... yang lahir dan besar di Tanjungpinang, berjaya sebagai pengusaha di Batam.
Saya memaklumi keputusannya melebarkan jalan-jalan di Batam, yang membuat jalan-jalan di Batam menjadi lebih lebar daripada jalan-jalan di Jakarta. Saya memaklumi itu sebab dia tak bisa membuat keputusan pembatasan terhadap kepemilikan mobil di Batam. Seperti yang diterapkan di Singapura. Sebab keterbatasan wewenang yang dia miliki sebagai pejabat. Meskipun saya pribadi tak mendukung pelebaran jalan yang dia buat. Karena cenderung membahayakan.
Tapi saya tak bisa memaklumi keputusannya yang menyetujui perobohan Purajaya Resort di Nongsa. Sebab itulah satu-satunya resort yang dimiliki orang Melayu di Batam. Resort mewah yang menjadi kebanggaan bagi suku Melayu. Apa dia tak sadar bahwa dari sekian banyak hotel dan resort di Batam ini, tak ada satu pun yang sekarang dimiliki orang Melayu. Belum lagi dengan kepemilikan-kepemilikan bisnis lainnya. Seperti kawasan industri, pom bensin, dan ferry ke Singapura.
Dengan jabatannya waktu itu yang bukan hanya menjabat walikota Batam, tapi juga pemimpin BP Batam, harusnya dia justru menolong menyelamatkan satu-satunya resort milik suku Melayu. Dengan menyelesaikan masalahnya. Bukan malah sebaliknya. Tanpa rasa bersalah dan berat hati, membiarkan perobohan resort bersejarah itu. Tak ada rasa pedulinya sama sekali. Dia bersikap seolah-olah hotel dan resort di Batam ini rata-rata milik suku Melayu. Padahal kenyataannya, satu pun tak ada.
Harusnya dia menggerakkan semua orang Melayu yang kaya di Batam ini untuk menolong menyelamatkan Purajaya, yang bermasalah di pembayaran UWTO. Mengajak semua orang Melayu untuk menyumbang, daripada hanya menyimpan harta di bank. Dengan masing-masing menyumbang, kemudian diganti dengan kepemilikan saham kepada setiap penyumbang. Menyelesaikan masalah ini kan bukan hal yang sulit sebenarnya. Karena masalah seperti ini biasa terjadi dalam dunia bisnis.
Jangankan mempunyai hotel seperti Hilton dan Novotel, sekedar hotel di daerah sendiri (yang bintang tiga) pun tak ada. Jangankan membuat yang baru, tapi ini malah melenyapkan yang sudah ada. Yang ada dan dilenyapkan itu pun, adalah satu-satunya. Yang artinya sekarang sudah tidak ada lagi satu resort pun yang dimiliki orang Melayu di Batam. Resort-resort lain semuanya bukan punya orang Melayu. Bisa dibayangkan betapa besarnya kesalahan dia. Fatal.
Dia tak bisa mengelak dengan pembelaan, ''Janganlah bawa-bawa suku dalam persoalan ini, kita semua sama-sama Indonesia. Ini murni urusan kerja. Di akhirat tak ditanya malaikat, kamu suku apa dan aku suku apa''. Atau dengan alasan, ''aku ni walikota, bukan ketua suku''. ''Atau, ''kita semua Melayu'', karena dia tak tau dan tak punya ilmu tentang Melayu. Jangan lah penyegan sangat, hanya karena sukunya sedang dalam keadaan tak mujur dan sangking demi nak menyedapkan hati pendatang.
Nyatanya semua suku di negara ini masing-masing menjayakan sukunya. Itu sebabnya ada perkumpulan setiap suku disini. Misalnya orang Jawa dengan Punggowonya dan orang Minang dengan Rumah Gadangnya. Apalagi yang di mancanegara, suku Inggris contohnya. Mereka sudah ditahap bank-bank mereka yang mendunia, ada di semua benua. HSBC dan Standard Chartered contohnya. Kita?... tak lah kita setahap dengan mereka, sekedar kawasan industri di daerah sendiri pun tak ada.
Apalagi ini di Kepulauan Riau, provinsi yang memang jadi tujuan utama pendatang sesumatra dan sejawa. Contohnya Minang ada banda group. Yang didalamnya ada beragam bisnis, mulai dari restoran sampai penyewaan lapangan futsal. Belum lagi dengan Minang-minang yang di Sumatra dan di Jakarta. Kemudian, Batak ada Panbil Group yang disokong China. Yang didalamnya ada mall sampai pembangun perumahan. Nah... Melayu sebagai pribumi ada apa? ... bahkan satu bidang pun tak ada yang dirajai.
Kalau dah tau nak jadi pejabat, janganlah macam orang yang tak berwawasan. Karena ini di Kepulauan Riau. Ini bukan pulau Sumatra dan pulau Jawa yang masih banyak hutan rimbanya. Kalau tak tau, ya jangan tak belajar. Hanya karena sudah merasa tua, bukan artinya tak perlu belajar dan berhenti belajar. Tak ada batas umur untuk belajar, kecuali saat sudah ngantuk. Tak perlu juga anti dengan anjuran-anjuran yang benar, walaupun itu dari orang yang tak berjabatan dan orang yang dibenci.
Sebagai pemimpin seharusnya dia mendorong orang-orang Melayu untuk masuk ke dunia bisnis dan menjayakannya lewat semua kekuatan yang dia punya. Menghasilkan pebisnis-pebisnis Melayu yang baru. Serta mendukung pebisnis-pebisnis Melayu yang sedang lemah. Tentunya sesuai dengan aturan hukum dan tetap dalam rangka saling menjayakan. Apalagi dia memang pernah menjadi pemimpin kekerabatan keluarga besar melayu di batam (KKBM). Menjayakan melayu adalah tugas utamanya.
Apalah artinya puas dan bangga dengan kekayaan kita tapi hanya kita sendiri yang kaya, padahal suku kita banyak yang tak berjaya. Ini baru di dunia bisnis yang dibahas, belum lagi di dunia birokrasi. Seperti di imigrasi, pajak, bea cukai, pertamina, dan BP Batam. Belum lagi di semua MNC yang ada di Batam, petinggi-petinggi di Batamindo misalnya. Berapa persen lah orang Melayu asli (kepulauan) Riau yang ada disana. Padahal ini adalah native rights mereka, apalagi di provinsi tujuan pendatang.
Ini persoalan utama yang saya bahas dalam artikel ini, sebenarnya ada juga yang lain. Di sisi lain saya berterima kasih kepadanya karena mendirikan dua mesjid baru yang merupakan kebanggaan umat muslim, yaitu mesjid raya Sultan Mahmud III dan mesjid bandara. Dia juga memperbaharui mesjid raya Batam Center. Satu lagi yang perlu kita salut darinya adalah selama belasan tahun dia jadi pejabat, tak satu rupiah pun duit negara dia kebas. Hal ini membuatnya layak mendapatkan pujian yang tinggi.
Tiga hal lain yang saya tak setuju selama kepemimpinannya adalah pembangunan jalan layang di simpang jam, pembiaran penutupan jalan di depan Ramayana Jodoh, dan dukungannya kepada Presiden Joko yang merestui penguasaan Pulau Rempang kepada kelompok China untuk dijadikan kawasan baru pembangunan perumahan. Yang awalnya mengatasnamakan pembangunan pabrik kaca. Hanya demi jabatan Bupati Rempang Galang. Ini menampakkan dia tak faham mana yang harus diutamakan.
---
Penulis adalah sosok yang mendambakan perjalanan menjelajahi semua pulau di provinsinya. Kawan lama Intan Telani dan Randi Zulmariadi. Champs Elysees adalah lagu prancis kegemarannya.

Komentar Via Facebook :