Sebuah Refleksi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober
Bersama Pemuda Kita Majukan Indonesia
Raja Dachroni.
Oleh: Raja Dachroni
Setiap bangsa memiliki masa depan yang ditentukan oleh generasi mudanya. Pemuda bukan hanya penerus estafet sejarah, tetapi juga penentu arah perubahan sosial dan pembangunan nasional. Dalam konteks Indonesia, dengan lebih dari 65 juta jiwa penduduk usia muda, peran pemuda menjadi sangat strategis. Mereka adalah sumber energi sosial, kreativitas, dan inovasi yang dapat mempercepat kemajuan bangsa jika diarahkan dengan tepat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemuda Indonesia hari ini menghadapi situasi yang kompleks. Di satu sisi, mereka hidup dalam era digital yang membuka peluang tanpa batas—akses informasi, jejaring global, serta kemudahan dalam berkarya. Tetapi di sisi lain, mereka juga berhadapan dengan tantangan besar: pengangguran, ketimpangan pendidikan, krisis moral, dan penurunan semangat kebangsaan.
Persoalan-persoalan itu bukan sekadar fenomena sosial biasa, melainkan cerminan dari struktur dan sistem yang belum sepenuhnya mendukung tumbuhnya potensi pemuda secara utuh. Banyak anak muda yang memiliki ide besar dan kemampuan luar biasa, tetapi tidak mendapat ruang aktualisasi yang memadai. Akibatnya, sebagian terjebak dalam sikap apatis, sementara sebagian lain justru kehilangan arah idealisme.
Momentum Hari Sumpah Pemuda yang selalu diperingati setiap 28 Oktober menjadi pengingat penting bahwa sejarah bangsa ini dibangun oleh semangat pemuda. Mereka yang dahulu berikrar atas nama “satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa” adalah bukti nyata bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian kaum muda. Oleh karena itu, memperkuat peran dan posisi pemuda dalam pembangunan bangsa bukan hanya kebutuhan moral, tetapi juga strategi nasional untuk memastikan Indonesia tidak kehilangan generasi penggeraknya.
*Tantangan Zaman*
Dalam kehidupan sosial saat ini, pemuda berada di persimpangan antara peluang dan tantangan. Kemajuan teknologi informasi membuat mereka lebih mudah mengakses dunia global, tetapi sekaligus menimbulkan persoalan baru: krisis identitas dan nilai. Banyak pemuda yang hidup di bawah bayang-bayang budaya instan dan gaya hidup konsumtif, sehingga idealisme dan semangat gotong royong yang menjadi ciri bangsa Indonesia mulai terkikis.
Selain itu, persoalan ekonomi juga menjadi tantangan besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran tertinggi masih berada pada kelompok usia muda. Banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi tidak terserap ke dunia kerja karena ketidaksesuaian antara keterampilan dan kebutuhan industri (skill mismatch). Padahal, mereka adalah kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi motor penggerak perekonomian bangsa.
Di sisi lain, partisipasi politik dan sosial pemuda juga menghadapi persoalan. Meskipun mereka aktif di media sosial, keterlibatan mereka dalam kegiatan sosial masyarakat, organisasi, dan politik praktis masih tergolong rendah. Banyak pemuda merasa skeptis terhadap sistem yang ada, sehingga muncul apatisme terhadap isu-isu publik. Ini berpotensi melemahkan proses regenerasi kepemimpinan nasional.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah kesehatan mental dan sosial. Tekanan hidup, ketidakpastian masa depan, serta kompetisi sosial yang tinggi membuat banyak anak muda mengalami stres dan kecemasan. Fenomena burnout, fear of missing out (FOMO), hingga gangguan identitas diri semakin marak, tetapi belum diimbangi dengan sistem pendampingan psikologis yang memadai.
Meski demikian, di tengah segala tantangan itu, masih banyak pemuda yang berprestasi dan memberi inspirasi. Dari bidang teknologi, sosial, hingga lingkungan, generasi muda Indonesia telah menunjukkan kemampuan luar biasa. Gerakan wirausaha sosial, inovasi digital, dan kampanye isu lingkungan yang dipelopori oleh anak muda menjadi bukti bahwa energi positif pemuda tetap menyala. Tantangannya kini adalah bagaimana negara, masyarakat, dan lembaga pendidikan mampu mengarahkan potensi itu agar menjadi kekuatan kolektif untuk memajukan Indonesia.
Pemuda Maju Indonesia Sejahtera
Untuk menjadikan pemuda sebagai penggerak utama kemajuan bangsa, dibutuhkan langkah konkret dan kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan mereka. Pertama, pemerintah perlu memperkuat ekosistem pemberdayaan pemuda dengan menciptakan lebih banyak program pelatihan vokasi, inkubasi wirausaha, dan akses permodalan bagi startup muda. Program seperti Kartu Prakerja atau magang perlu diorientasikan bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui pelatihan inovatif berbasis kebutuhan lokal.
Kedua, dunia pendidikan harus menanamkan pendidikan karakter dan kepemimpinan sosial sejak dini. Sekolah dan perguruan tinggi tidak boleh hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga menumbuhkan nilai tanggung jawab sosial, nasionalisme, dan kepedulian terhadap lingkungan. Organisasi kepemudaan dan mahasiswa harus menjadi laboratorium karakter yang membentuk kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis.
Ketiga, perlu dibangun sistem pendampingan kesehatan mental yang terintegrasi. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas perlu membuka akses konsultasi psikologis yang mudah dan murah bagi pemuda. Kesehatan mental adalah fondasi produktivitas, dan perhatian terhadap hal ini sama pentingnya dengan pembangunan ekonomi.
Keempat, pemuda sendiri harus memiliki kesadaran kolektif untuk terlibat aktif dalam perubahan sosial. Mereka perlu memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk edukasi, kolaborasi, dan advokasi publik. Pemuda yang berdaya bukanlah mereka yang hanya pandai mengkritik, tetapi juga yang mampu menciptakan solusi.
Akhirnya, kolaborasi antara negara, masyarakat, dan pemuda harus menjadi agenda bersama. Tidak ada bangsa besar tanpa pemuda yang kuat, kreatif, dan berkarakter. Di tengah perubahan global yang cepat, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga mampu memimpin perubahan itu sendiri.
Sebagaimana semangat Sumpah Pemuda yang menyatukan keberagaman untuk satu cita-cita, kini saatnya pemuda Indonesia bangkit kembali membawa semangat persatuan, keberanian, dan inovasi. Dengan bekerja bersama, berpikir maju, dan berjuang untuk kepentingan bersama, maka cita-cita “Bersama Pemuda, Kita Majukan Indonesia” bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang bisa kita wujudkan. Semoga!
------------
Penulis adalah Ketua Komunitas Peduli Kampung Sendiri (KPKS) Tanjungpinang

Komentar Via Facebook :