HET Beras di Batam Rp 14.500, Polisi dan Bea Cukai Awasi Ketat Impor
Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Kepri AKBP Ruslaeni. Foto : Tommy Purniawan
Batam, Batamnews - Kepolisian dan Bea Cukai Batam memperketat pengawasan terhadap impor dan penjualan beras. Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan harga beras stabil dan tidak ada pelanggaran dalam prosedur impor hingga sampai ke tangan masyarakat.
Pengawasannya mencakup tiga hal utama: memastikan harga jual tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp 14.500 per kilogram, memeriksa kelengkapan dokumen impor, dan mengawasi adanya praktik pencampuran beras (beras oplosan) yang merugikan konsumen.
Menurut Kasubdit I Indagsi Polda Kepri, AKBP Ruslaeni, sebagian besar beras yang beredar di Kepri berasal dari luar daerah, seperti Sumatera, Jawa, bahkan diimpor dari negara seperti Vietnam dan Thailand.
Baca juga: Waspada di Batam! Vape Ilegal Disuntik Narkoba Gorila oleh Sindikat Malaysia
Hal ini terjadi karena lahan pertanian di Kepri sangat terbatas, sementara kebutuhan beras masyarakat sangat tinggi.
"Makanya, beras yang ada di Kepri kebanyakan diimpor dari negara tetangga, Sumatera, dan Jawa," ujar Ruslaeni pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Ruslaeni menjelaskan bahwa kuota atau jumlah beras yang boleh diimpor diatur sepenuhnya oleh BP Batam, sementara proses pemeriksaan barang dilakukan oleh Bea dan Cukai. Tugas kepolisian adalah memantau harga di pasar dan menindak pelanggaran di lapangan.
"Kami hanya mengawasi. Soal jumlah kuota dan dokumen impor, itu bukan kewenangan kami," tegasnya.
Kuota impor beras ke Batam juga bersifat khusus dan terbatas. Beras impor ini hanya boleh dikonsumsi di dalam wilayah Kepri dan dilarang keras untuk dipasarkan ke luar daerah.
"Kalau ada beras impor yang masuk lalu keluar dari Kepri, itu tidak boleh. Kuotanya sudah diatur khusus untuk kami di sini," jelas Ruslaeni.
Baca juga: Truk Terguling Diduga Akibat Rem Blong di Turunan Bukit Daeng, Sopir dan Kernet Selamat
Beras-beras premium impor tersebut kemudian didistribusikan oleh perusahaan resmi. Para distributor lalu mengemasnya kembali ke dalam berbagai merek dagang yang populer di pasaran, seperti Anak Ajaib, Padang Raya, Harum Mas, dan lainnya.
Kehadiran beras impor ini dinilai menguntungkan masyarakat Batam. Selain kualitasnya terjamin, harganya juga relatif lebih murah dibandingkan beras premium lokal asal Jawa.
"Wajar masyarakat Batam lebih memilih beras impor. Selain kualitasnya bagus, harganya juga lebih bersaing," pungkas Ruslaeni.
Komentar Via Facebook :