Mia & Ana Zelu: Rahasia di Balik Influencer AI yang Mirip Manusia dengan Ratusan Ribu Followers
Akun Instagram miazelu dengan ratusan ribu followers
Batam Batamnews – Akun Instagram dengan ratusan ribu followers ini terlihat seperti manusia biasa—padahal mereka sepenuhnya hasil generasi AI. Bagaimana ini memengaruhi persepsi kita tentang realitas di media sosial? Mia Zelu tampaknya telah melakukan segalanya.
Dari duduk di pinggir lapangan tenis Wimbledon bersama selebritas ternama, menikmati konser Coldplay yang spektakuler, hingga bersantai di jalanan Italia yang indah, hidupnya terlihat sempurna di Instagram. Namun, ada satu hal yang tidak biasa: dia tidak benar-benar ada.
Mia adalah seorang AI influencer—sebuah karakter virtual yang diciptakan menggunakan kecerdasan buatan. Dengan lebih dari 167.000 pengikut, banyak yang tidak menyadari bahwa dia hanyalah kumpulan piksel di layar.
Bahkan, "adiknya," Ana Zelu, memiliki pengikut lebih banyak lagi (267.000), dengan banyak orang berinteraksi seolah-olah mereka berdua manusia sungguhan.
Baca juga: Oppo K13 Turbo & Turbo Pro Resmi Dirilis: Smartphone Gaming dengan Kipas Pendingin 18.000 RPM!
Menurut Trevor Long, pakar teknologi dan editor EFTM.com, kesuksesan akun seperti Mia dan Ana terjadi karena AI telah memahami apa yang disukai manusia dan mampu menirunya dengan sempurna.
"Kebanyakan dari kita tidak mengenal influencer di balik akun Instagram yang asli sekalipun. Jadi, mengetahui bahwa seseorang itu nyata atau AI sebenarnya tidak terlalu mengubah persepsi kita terhadap konten mereka," kata Long dikutip dari news.au.
Namun, dia memperingatkan bahayanya: "Jika konten ini dirancang sedemikian rupa untuk memanipulasi, tanpa pertimbangan moral manusia nyata, kita mulai melampaui batas etika dalam budaya influencer."
Kate Roruke, kepala kreatif Getty Images Asia-Pasifik, mengungkapkan penelitian yang mengejutkan: meskipun 65% orang bisa mengenali gambar AI, lebih dari 95% juga mengira foto asli sebagai AI.
"Orang terbiasa melihat gambar sempurna dari influencer manusia—hasil editan, filter, dan fotografi profesional. AI seperti Mia dan Ana dengan mudah meniru kesempurnaan itu: kulit mulus, pencahayaan ideal, dan pose yang selalu tepat," jelas Roruke.
Kemampuan AI yang semakin realistis juga memunculkan masalah serius, seperti deepfake pornografi yang telah menargetkan selebritas seperti Taylor Swift dan atlet NRLW Jaime Chapman.
"Di era di mana teknologi berkembang lebih cepat daripada pemahaman kita, mengetahui mana yang nyata dan mana yang palsu menjadi sangat penting," kata Long.
Long menekankan bahwa perusahaan seperti Meta (Instagram) dan TikTok harus memprioritaskan konten asli dan memberi tanda jelas pada akun AI.
Baca juga: Samsung Galaxy Watch 8: Canggih tapi "Running Coach"-nya Bikin Kecewa?
"Algoritme seharusnya mengutamakan manusia nyata, sehingga kita bisa memutuskan apakah kita percaya pada orang tersebut. Jika tidak, kita mungkin saja mempercayai individu palsu," ujarnya.
Beberapa platform seperti YouTube sudah mulai bertindak, dengan menghentikan monetisasi akun yang sepenuhnya menggunakan konten AI.
Namun, Long menambahkan, "Yang perlu kita khawatirkan adalah konten yang tidak terdeteksi oleh mata biasa. Kita butuh kontrol lebih ketat."
Keberadaan AI influencer seperti Mia dan Ana Zelu membuka pintu bagi masa depan digital yang semakin kabur antara nyata dan virtual. Tantangan terbesarnya? Memastikan teknologi tidak mengikis kepercayaan dan etika di dunia maya.

Komentar Via Facebook :