Kehadiran Ayah dalam Pengasuhan `Bukan Sekadar Mengantar di Hari Pertama Sekolah`

Kehadiran Ayah dalam Pengasuhan `Bukan Sekadar Mengantar di Hari Pertama Sekolah`

Fatmawati, S.Pd.I. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Fatmawati, S.Pd.I

Setiap tahun ajaran baru datang, ada pemandangan yang mulai sering kita lihat yaitu terlibatnya para ayah ikut mengantar anak-anaknya ke sekolah di hari pertama karena termotivasi edaran negara yang diarahkan BKKBN. Imbauan dari BKKBN untuk mengajak ayah terlibat dalam momen penting ini bukan tanpa alasan. Hari pertama sekolah adalah peristiwa yang penuh emosi bagi anak antara semangat, gugup, dan penasaran bercampur jadi satu. Kehadiran ayah di momen seperti ini bukan cuma soal menemani, tapi tentang hadir secara utuh: menyemangati, menenangkan, dan memberi rasa aman. Sayangnya, bagi banyak anak, momen itu belum tentu datang.

Sebagian besar dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa pengasuhan adalah tugas ibu. Ayah cukup bekerja dan mencukupi kebutuhan rumah. Namun, penelitian dan pengalaman banyak orang menunjukkan hal yang berbeda, anak yang dekat dengan ayahnya cenderung tumbuh lebih percaya diri, lebih tangguh, dan punya kemampuan sosial yang lebih baik. Bahkan, anak laki-laki yang mendapatkan kehadiran emosional dari ayahnya, tumbuh dengan konsep diri dan maskulinitas yang lebih sehat. Ayah, dengan caranya sendiri, punya pengaruh luar biasa dalam pembentukan karakter anak.

Tapi mari kita jujur. Di tengah padatnya kesibukan, tekanan ekonomi, dan budaya patriarki yang masih kuat, tak sedikit ayah yang merasa cukup dengan menjadi "penyedia" saja. Fenomena ini dikenal sebagai fatherless anak-anak tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah. Yang menyedihkan, fatherless bisa terjadi bahkan dalam keluarga yang utuh secara fisik. Ayah ada di rumah, tapi tak benar-benar hadir. Tidak ngobrol, tidak mendengar, tidak tahu apa yang sedang anak rasakan. Dan ketika anak kehilangan sosok panutan di rumah, ia akan mencarinya di luar, di tempat yang belum tentu aman.

Islam sejak dulu sudah memberikan teladan luar biasa soal peran ayah. Rasulullah SAW bukan hanya nabi dan pemimpin umat, tapi juga ayah dan kakek yang lembut, penuh kasih. Beliau bermain dengan cucunya, memeluk, mencium, bahkan rela mempercepat salat ketika mendengar tangisan anak kecil. Sikap beliau membongkar mitos bahwa kelembutan adalah kelemahan. Justru dari kelembutan itulah tumbuh keberanian, keteguhan, dan cinta yang melahirkan generasi mulia.

Menjadi ayah yang hadir bukan berarti harus selalu ada 24 jam. Tapi cukup hadir secara sadar, tulus, dan konsisten. Menyisihkan waktu untuk ngobrol ringan sebelum tidur, mengantar sekolah sesekali, memeluk dan mengatakan “Ayah bangga sama kamu,” adalah hal-hal kecil yang bisa berdampak besar dalam hidup anak. Jangan tunggu sempurna untuk hadir. Kehadiran kita yang mungkin terbatas justru bisa menjadi sangat berarti ketika kita benar-benar meluangkan hati.

Kita juga perlu mulai membangun ekosistem yang mendukung keterlibatan ayah. Lingkungan kerja yang memberi ruang untuk keluarga, sekolah yang melibatkan ayah dalam kegiatan anak, serta media yang menggambarkan sosok ayah sebagai pendidik, bukan hanya pencari nafkah. Kita butuh lebih banyak ruang di mana ayah tidak merasa asing saat bicara tentang emosi, pengasuhan, dan cinta pada anaknya.

Ayah adalah fondasi. Bukan sekadar penopang ekonomi, tapi penyangga jiwa. Mari belajar untuk lebih hadir, lebih mendengar, lebih dekat. Karena ketika ayah hadir  bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Anak-anak tumbuh dengan rasa aman, penuh cinta, dan siap menghadapi dunia.

 

Penulis adalah Founder Bintan Islamic Parenting (BIP).

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :