Buruh PT Maruwa Indonesia Ungkap Kondisi Perusahaan Mulai Tak Stabil Sejak 2023, DPRD Batam Panggil Manajemen

Buruh PT Maruwa Indonesia Ungkap Kondisi Perusahaan Mulai Tak Stabil Sejak 2023, DPRD Batam Panggil Manajemen

Perwakilan buruh PT Maruwa Indonesia akhirnya angkat bicara di hadapan anggota DPRD Kota Batam dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar pada Rabu (29/5/2025).

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Perwakilan buruh PT Maruwa Indonesia akhirnya angkat bicara di hadapan anggota DPRD Kota Batam dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar pada Rabu (29/5/2025). Dalam forum tersebut, mereka mengungkap bahwa kondisi perusahaan mulai tidak stabil sejak pertengahan tahun 2023, hingga puncaknya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan tidak dibayarkannya hak-hak karyawan.

Salah satu perwakilan buruh mengatakan, sejak akhir 2023 hingga awal 2024, produksi perusahaan mulai melambat drastis. Sejumlah pesanan dari klien luar negeri berkurang, sementara gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) tidak lagi dibayarkan tepat waktu.

“Kami sudah mulai merasakan gejala tidak sehat sejak tahun lalu. THR tidak dibayar, gaji ditunda. Dan yang lebih menyakitkan, pesangon pun tidak ada kejelasan,” ungkap perwakilan buruh di hadapan Komisi IV DPRD Batam.

Pihak buruh juga menyebut bahwa Yutaka Shibata, yang dikenal sebagai Komisaris Utama PT Maruwa, merupakan pemegang saham mayoritas. Saat unjuk rasa beberapa waktu lalu, Shibata bahkan terlihat berdiri kaku di tengah kerumunan buruh tanpa memberikan jawaban atas tuntutan pekerja.

“Kami minta kepastian hukum. Jangan sampai kami terus digantung, sementara manajemen hilang tanpa tanggung jawab,” kata salah satu buruh perempuan yang hadir.

Menanggapi keluhan tersebut, Komisi IV DPRD Batam menyatakan akan menindaklanjuti persoalan ini dan meminta pihak manajemen PT Maruwa hadir secara resmi dalam rapat lanjutan.

“Kami minta manajemen datang menjelaskan. Kalau memang bangkrut, harus ada pertanggungjawaban kepada buruh,” ujar salah satu anggota dewan.

PT Maruwa Indonesia diketahui bergerak di sektor manufaktur elektronik dan selama ini menjadi salah satu perusahaan Jepang yang cukup lama beroperasi di Kawasan Industri Batamindo, Muka Kuning.

Namun dalam setahun terakhir, perusahaan tersebut menghadapi gejolak finansial serius yang berdampak pada ratusan buruh. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen terkait kondisi perusahaan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :