MASA LALU BATAM
Abang Mat di depan perdana Putra.
Oleh: abang Mat
Batam sejak zaman yunani kuno sudah menjadi pusat rempah-rempah dunia, karena letaknya yang sangat menguntungkan, yang terdekat dari jalur pelayaran yang datang dari arah timur di maluku. Kapal-kapal melayu dari arah maluku sebelum sampai ke batam melewati sebelah barat bintan.
Riuhnya kegiatan perdagangan setiap hari di batam yang sangat dekat dengan laut, membuat jalur lautan yang ada di sebelah utara dan timurnya dinamakan dengan nama selat riau.
Sebelum orang-orang melayu menjadikan batam sebagai pusat penjualan rempah-rempah, pelaut melayu biasa membawa rempah-rempah langsung ke oman sejak zaman sumeria. Seiring dengan mengingat waktu perjalanan yang sangat lama melintasi samudra hindia dan semua kemungkinan bahayanya, akhirnya dibuatlah batam sebagai pusat penjualan rempah-rempah dunia sejak 352 SM.
Di batam lah pedagang-pedagang mancanegara, terutama arab dan persia, datang untuk membeli rempah-rempah dari pedagang melayu, sebelum dibawa kembali ke negaranya masing-masing lewat laut.
Orang melayu sejak dulu tersohor sebagai pelaut ulung, dengan jangkauan pelayaran yang sangat luas. Titik terjauh pelaut melayu dimasa lalu di wilayah timur adalah daerah yang sekarang dikenal dengan nama maluku, daerah asal muasal rempah-rempah. Orang melayu dahulu adalah masyarakat bahari, memakai tanah hanya untuk keperluan membuat rumah dan lingkungan.
Batam menjadi pasar utama rempah-rempah karena pelaut-pelaut melayu yang berlayar mencari rempah-rempah langsung dari sumbernya memerlukan satu daerah khusus untuk memusatkan dan memasarkan semua barang bawaannya, daerah itu adalah batam. Pelaut melayu berlayar dari batam, bintan, karimun, dan pulau-pulau lainnya di (kepulauan) riau melintasi sumatra, jawa, kalimantan, sulawesi, mindanao, bali, sumbawa, timor, hingga akhirnya sampai di maluku untuk mendapatkan rempah-rempah.
Setelah dari maluku, pelaut melayu tidak meneruskan pelayaran ke arah yang lebih jauh lagi ke tenggara, yaitu di daerah yang sekarang bernama australia dan new zealand. Karena pelaut-pelaut melayu merasa sudah puas, sudah mendapatkan yang di impikan, sudah sampai di puncaknya sebagai seorang pelaut, yaitu maluku. Meskipun begitu, pelaut-pelaut melayu tetap sampai di ujung barat papua.
Orang melayu zaman dulu berlomba-lomba mencari rempah-rempah karena rempah-rempah adalah barang dagang (komoditas) terpenting pada saat itu, sama dengan minyak pada zaman sekarang. Maluku pada ribuan tahun yang lalu, ibaratnya adalah timur tengah pada hari ini.
Setelah dari maluku, pelaut-pelaut melayu kembali belayar menuju ke kampung halamannya masing-masing, ke batam dan pulau-pulau di sekitarnya di (kepulauan) riau. Tapi saat itu banyak juga kelompok yang singgah menuju ke sumbawa, sulawesi, jawa, kalimantan, bangka, belitung, dan sumatra untuk berdagang disana. Bahkan menetap disana sampai akhir hayat, biasanya yang masih bujang. Hal ini terjadi karena angin yang terlalu kuat sehingga membuat pelaut-pelaut lebih mengutamakan keselamatan.
Itulah awal mula bahasa melayu di pakai di banyak daerah-daerah itu dan lama-lama tercampur dengan bahasa pribumi di daerah-daerah yang didatangi. Seperti di ambon, banda, ternate, kupang, dan manado yang bahasanya tercampur dengan bahasa melayu. Banyak kata-kata melayu yang terserap ke dalam bahasa suku-suku di daerah persinggahan.
Bukan cuma bahasa tapi juga pakaian dan bahkan sampai ada kampung melayu di daerah-daerah itu, termasuk makam-makam kuno yang menandakan telah hidupnya orang melayu pada masa lalu di daerah itu. Inilah sebabnya bahasa melayu menjadi bahasa penghubung di nusantara sampai sekarang.
Batam adalah pusat pengumpulan dan penjualan rempah-rempah sebelum dibawa pedagang arab ke india, persia, arabia, afrika, dan eropa. Daerah yang sekarang bernama venezia adalah pelabuhan terakhir dari seluruh perjalanan rempah-rempah di lautan. Setelah sampai di venezia, barulah rempah-rempah menyebar ke seluruh eropa barat. Sebelum sampai di venezia, rempah-rempah salah satunya dijual di daerah yang pernah bernama constantinopel, setelah dibawa dengan pertolongan unta dan pedagang-pedagang arab dari oman yang melewati yaman, hejaz, dan syria.
Sejak 385 SM pemimpin tertinggi suku melayu di batam saat itu dijabat oleh seseorang yang bergelar tuan besar. Hirarki masyarakat pada saat itu adalah dari tuan besar langsung ke penghulu. Karena pada masa itu masyarakat tidak banyak, hanya sekitar 20.000 jiwa. Tuan besar juga menjabat sebagai panglima dan hakim, tuan besar pada masa itu dijabat oleh awang leman. Kepemimpinan tuan besar juga dilengkapi dengan prajurit untuk melindungi negara dan hulubalang yang menjaga keamanan istana.
Kejayaan batam memunculkan negara-negara baru di sekitarnya, yaitu bintan dan karimun, yang masing-masing juga diketuai seorang tuan besar. Semua negara ini sejak 270 SM terikat dalam satu perserikatan yang bernama perserikatan suku melayu. Negara yang paling tersohor dalam perserikatan ini adalah batam, yang paling dikenal pedagang-pedagang asing karena paling sering dikunjungi. Pasar dan pelabuhannya adalah yang terbaik.
Perserikatan ini berjalan selama ribuan tahun. Aman, mapan, dan makmur. Karena pemimpinnya yang adil, mengutamakan kelancaran perdagangan, dan semua anggota selalu kompak. Awetnya negara-negara ini di dukung keadaan di sekelilingnya yang tak ada banyak negara pada zaman itu (masih banyaknya unorganized territories di nusantara) dan tak ada nya negara besar di nusantara sampai dengan munculnya hindia belanda di abad 19.
Sangking kompaknya, saat bajak laut india datang menyerang karimun pada 75 SM, orang-orang dari batam dan bintan yang diketuai awang jasman, datang bersatu menolong menyelamatkan karimun. Hal ini terjadi berkali-kali dan peperangan selalu dimenangkan pihak suku melayu. Semua pihak di perserikatan ini saling mendukung dan diperkuat dengan hubungan pernikahan.
Dua negara selain bintan dan karimun adalah rempang dan lingga. Rempang yang wilayahnya mencakup galang biasa menyediakan semua keperluan pasokan ke batam, saat persediaan rempah-rempah di batam sudah habis dan pelaut-pelaut melayu yang berlayar dari maluku belum sampai ke batam. Lingga yang wilayahnya mencakup singkep, biasa bertindak sebagai pusat markas tentara untuk menghadang serangan-serangan bajak laut dari selatan sumatra.
Orang-orang batam juga membuat pemukiman di selatan temasek sejak 98 M demi mencari sumber air, saat di batam sedang kekurangan air untuk kapal-kapal yang berlabuh. Dengan semakin banyaknya masyarakat di temasek yang berjumlah sekitar puluhan orang, mereka akhirnya diketuai seorang penghulu. Orang-orang inilah yang menjadi generasi pertama temasek, dan mempunyai hubungan yang erat dengan orang-orang melayu di batam.
Dengan rutinnya hubungan melayu dengan arab, maka membuat orang melayu banyak terpengaruh dengan arab. Terutama pada kata-kata, huruf, seni, penghitungan waktu, bahkan sampai ke nama. Orang melayu menulis dalam tulisan arab tapi tidak memuja dewa dewi arab.
Sejak suku melayu beragama islam, tuan besar juga menjabat sebagai imam besar. Suku melayu di batam sudah memeluk islam sejak zaman khulafaurasyidin. Sop kambing yang biasa dimakan masyarakat arab pada waktu itu, memakai rempah-rempah yang dibeli dan dibawa pedagang-pedagang arab dari batam.
Pedagang-pedagang arab biasa membawa minyak wangi dan minyak zaitun sejak abad pertengahan. Pedagang dari ayodya membawa beras untuk dijual di pasar, yang terletak di utara pulau batam. Selain itu pedagang-pedagang arab juga membawa keramik, permadani, kopi, pedang, sabun, dan papirus-papirus yang berisi banyak tulisan-tulisan plato, socrates, dan aristoteles.
Orang melayu banyak mendapatkan ilmu dari tulisan-tulisan yunani kuno. Yang di terjemahkan oleh pedagang-pedagang arab yang belajar bahasa yunani dari orang persia. Di terjemahkan dari bahasa yunani ke bahasa arab, selanjutnya dari bahasa arab ke bahasa melayu. Inilah yang membuat suku melayu cenderung bijaksana dan berbakat mengurus negara. Karena leluhurnya terbiasa membaca tulisan filsuf-filsuf yunani dan terserap dengan ajaran-ajarannya turun temurun.
Pada abad 9, seiring dengan terus menyebarnya orang melayu dari selat riau, yang berlayar ke sumatra, orang-orang melayu ini seperti biasa membuat pemukiman dan setelah pemukiman semakin banyak mereka mendirikan negara lagi, dengan nama bengkalis. Sebuah city state yang mirip dengan batam, bintan, dan karimun.
Hal ini juga terjadi di semenanjung, tepatnya di sebuah daerah yang pada hari ini dikenal dengan nama melaka. Orang-orang dari perserikatan suku melayu lah yang awal-awalnya menetap disini dan meramaikan daerah ini. Melaka adalah yang paling dikenal dari sekian banyak pemukiman suku melayu di semenanjung. Di luar melaka dan perkampungan-perkampungan yang ada di tepi pantai, kawasan semenanjung tetaplah merupakan unorganized territory dan dianggap sebagai semenanjung aborigin.
Pada zaman melaka baru muncul, orang melayu dari melaka sering datang ke batam karena pamor batam yang saat itu sangat termahsyur sebagai pasar utama rempah-rempah. Orang-orang dari batam dan negara kota lainnya juga biasa ke melaka karena mengingat banyaknya kerabat di melaka.
Setelah perkampungan masyarakat di melaka semakin banyak dan seringnya orang-orang melaka pulang pergi ke batam, serta melihat yang diamalkan di batam, akhirnya masyarakat sepakat untuk diketuai seorang tuan besar. Sejak saat itu pada tahun 1076 berdirilah negara melaka, yang diketuai awang seman. Kedaulatan negara ini diakui oleh batam, bintan, dan karimun. Melaka juga mengirim duta besar ke batam.
Pada abad 12 setelah pulang dari pengelenaan di timur tengah, utusan tuan besar membawa salam dan do'a khusus dari khalifah di baghdad untuk negara melaka, supaya menjadi kerajaan yang penuh berkah. Akhirnya setelah peristiwa itu, rakyat sepakat menjadikan tuan besar sebagai raja melaka. Dengan gelar yang dipertuan besar melaka, hal ini terjadi pada masa khalifah al mustadi.
Karena semakin ramainya kota melaka dari tahun ke tahun dan kepandaian pemimpinnya, lama-lama membuat pasar di batam menjadi sepi. Begitu juga di karimun, bintan, dan negara kota lainnya. Pedagang-pedagang di batam juga banyak yang memilih pindah berdagang di melaka. Hal ini juga dilakukan oleh pedagang-pedagang di bintan dan karimun.
Pedagang-pedagang asing lebih memilih melaka karena pelabuhan melaka tidak mengenakan biaya kepada kapal-kapal dagang asing yang memarkir kapalnya di melaka, dan pedagang yang singgah diperbolehkan menginap gratis di tempat-tempat yang sudah disediakan negara. Hanya urusan perdagangan yang dikenakan pajak.
Pada abad 15, papirus dan semua catatan lama hilang disebabkan angin yang sangat kuat merobohkan rumah-rumah orang melayu dan seisinya, semuanya tercebur di laut. Setelah ini, orang-orang melayu yang selamat kembali memulai peradabannya lagi.
Karena keadaan di batam terus sepi dan tak berubah, akhirnya lama-lama bisnis rempah-rempah perlahan-lahan mati. Dan sejak saat itu batam sudah tidak menjadi daerah yang semarak lagi.
Riwayat negara-negara ini akhirnya berakhir setelah semuanya sepakat bersatu menjadi negara baru, yaitu kesultanan riau. Setelah orang-orang melayu menyelamatkan mahmud syah I dari kejaran tentara portugis. Suku melayu menobatkannya sebagai sultan riau pertama. Masyarakat suku melayu di temasek, setengah semenanjung melaka, dan timur sumatra pun mendukung penyatuan wilayah dengan riau.
Setelah batam jadi sepi karena semakin tumbuhnya city state melaka, akhirnya semakin berkuranglah masyarakat dan kebanyakan masyarakat yang masih ada memilih tak lagi bekerja sebagai pedagang, kecuali segelintir, karena pedagang-pedagang mancanegara sudah tidak datang lagi ke batam.
Batam yang dulunya adalah daerah yang bergelora pada zamannya, berubah menjadi daerah yang hanya disibukkan oleh masyarakat pribuminya saja, yang tetap tinggal di sekitar pantai. Umumnya berkegiatan sebagai nelayan dan penambang. Tinggal lah beberapa tempat yang masih ada, seperti tanjung uma yang tersisa dari peradaban masa lalu.
Pulau Batam mulai hidup lagi, sejak pertengahan abad 19, saat inggris membuat pulau temasek yang dihuni orang melayu menjadi pelabuhan utama di nusantara. Itu pun tak seriuh di puncak kejayaannya dulu, berabad-abad yang lalu. Sejak saat itu orang melayu di batam terbiasa membeli keperluan rumah di singapura.
Penulis adalah seorang kapitalis humanis. Lahir di bidan tini, kampung utama.

Komentar Via Facebook :