Buruh Pelabuhan Taman Bunga Karimun Keluhkan Penghasilan Menurun Drastis, Minta Solusi dari Pemerintah
Para buruh di Pelabuhan Bongkar Muat Taman Bunga mengeluhkan penghasilan mereka yang semakin menurun drastis sejak aktivitas bongkar muat di pelabuhan tersebut berkurang. (Foto: Edo/Batamnews)
Karimun, Batamnews – Para buruh di Pelabuhan Bongkar Muat Taman Bunga mengeluhkan penghasilan mereka yang semakin menurun drastis sejak aktivitas bongkar muat di pelabuhan tersebut berkurang. Kondisi ini terjadi setelah pelabuhan mengalami kerusakan akibat ditabrak kapal pada awal tahun 2023 lalu.
Akibatnya, para buruh mendesak Pemerintah Kabupaten Karimun serta instansi terkait untuk segera mencari solusi terbaik agar aktivitas di pelabuhan kembali normal dan ekonomi mereka dapat pulih.
Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Karimun, Parni menyatakan bahwa saat ini pendapatan buruh mengalami penurunan yang sangat signifikan. "Penghasilan mereka, dulu bisa mencapai Rp 3 juta per bulannya, kini hanya Rp 700 ribu," ungkapnya.
Baca juga: DLH Karimun Bersihkan Tumpukan Sampah di Sejumlah TPS, Target Angkut 58 Ton
Parni menjelaskan bahwa kapal barang yang melakukan bongkar muat di Pelabuhan Taman Bunga Karimun kini hanya satu kapal per bulan dengan kapasitas sekitar 500 GT. Hal ini terjadi karena pelabuhan yang dikelola Pelindo tersebut mengalami kerusakan setelah tertabrak kapal barang KM Gloria pada Januari 2023.
Dampaknya, kapal-kapal barang berukuran 1000 GT ke atas kini dialihkan ke Pelabuhan Parit Rempak, Kecamatan Meral.
"Dulunya bisa sampai 6 kapal berukuran 1000 GT bahkan lebih dalam sebulan. Sekarang hanya 1 kapal kecil. Tentu ini berdampak besar pada penghasilan buruh kami. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun," tutur Parni.
Saat ini, sekitar 90 buruh tergabung dalam TKBM Karimun, yang semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat berkurangnya aktivitas bongkar muat.
"Saya minta kapal-kapal barang yang bongkar muat di Pelabuhan Taman Bunga ditambah lagi, minimal 3 kapal dalam sebulan. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak," tegas Parni.
Tak hanya buruh, para sopir lori yang beroperasi di pelabuhan tersebut juga mengalami dampak besar. Ketua Koperasi Petak Jaya Sejahtera Karimun, Zainal, menyebut bahwa penghasilan mereka turun drastis hingga 70 persen.
"Ada 35 sopir lori di pelabuhan bongkar muat Taman Bunga Karimun. Kini penghasilan mereka menurun sebesar 70 persen dari sebelumnya. Kita bukan untuk kaya. Kalau 3 kapal barang berukuran minimal 1000 GT saja dalam sebulan, buruh dan sopir lori tidak menjerit seperti sekarang ini," katanya.
Para pekerja berharap ada kebijakan dari Pemkab Karimun maupun pihak terkait untuk mengembalikan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Taman Bunga. Jika kondisi ini terus berlanjut, semakin banyak buruh dan pekerja sektor transportasi yang kesulitan untuk bertahan hidup.

Komentar Via Facebook :