Warga Tangkap Buaya Lepas Pulau Bulan, BBKSDA: Jangan Salah Tangkap, Mereka Tak Suka Air Asin
Tim gabungan yang terdiri dari BBKSDA, Polsek Bulang, TNI, pihak penangkaran, dan masyarakat masih melakukan pencarian dan evakuasi yang direncanakan berlangsung hingga seminggu ke depan. (Foto: istimewa)
Batam, Batamnews - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Batam BBKSDA Riau, Tommy, mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk tidak sembarangan memburu buaya yang baru-baru ini lepas dari penangkaran PT Perkasa Jagat Karunia (PJK).
Tommy menekankan pentingnya membedakan antara buaya penangkaran dan buaya liar. Ia mengkhawatirkan jika masyarakat justru memburu buaya liar yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem setempat.
"Jangan sampai masyarakat asik berburu tetapi malah menangkap buaya yang memang menjaga ekosistem. Artinya buaya liar bukan yang milik perusahaan," ujar Tommy.
Baca juga: Waspada Buaya: Polsek Bulang Pasang Spanduk Imbauan di Lima Titik Strategis
Dalam penjelasannya, Tommy menyebutkan bahwa buaya dari penangkaran memiliki karakteristik berbeda dengan buaya liar. Buaya penangkaran cenderung lebih jinak dan tidak membahayakan manusia karena sudah terbiasa diberi makan secara rutin.
"Mereka sudah jinak. Kalau terlalu jauh mereka lepas, kemungkinan akan kembali lagi," jelasnya.
Untuk membedakan buaya penangkaran dengan buaya liar, terdapat tanda khusus berupa bekas potongan di bagian sirip. Tommy juga menambahkan bahwa buaya penangkaran hidup di air tawar dan tidak dapat bertahan lama di air asin.
Tim gabungan yang terdiri dari BBKSDA, Polsek Bulang, TNI, pihak penangkaran, dan masyarakat masih melakukan pencarian dan evakuasi yang direncanakan berlangsung hingga seminggu ke depan. Berdasarkan laporan perusahaan, terdapat 10 buaya yang lepas dari penangkaran.
Baca juga: Muhammad Rudi Apresiasi Gerak Cepat Tim Terpadu Tangkap Buaya Lepas Pulau Bulan
Namun, menurut Safet, warga Pulau Buluh, hingga Sabtu, 18 Januari 2024, sudah 23 buaya berhasil diamankan di sekitar pulau.
"Semua sudah diserahkan lewat posko penanganan buaya dalam hal ini pos TNI AL di Mengkadah," ungkapnya.
Situasi ini berdampak pada aktivitas nelayan setempat yang harus lebih waspada saat melaut, terutama di tengah masa panen ikan dingkis untuk kebutuhan perayaan Tahun Baru Imlek. Para nelayan terpaksa melaut secara berkelompok dan membagi hasil tangkapan mereka.
Komentar Via Facebook :