Harapan yang Pupus: Kisah Duka Keluarga Maulana Ihsan Junaidi, Siswa Berprestasi SMAN 3 Batam 2024
Syukron, Ayah dari Maulana Ihsan Junaidi, siswa SMAN 3 Batam, yang meninggal dunia pasca kecelakaan di Taman Raya, Batam Kota, Batam. (Foto. Batamnews.co.id).
Batam, Batamnews - Di sebuah rumah kecil berukuran 4 x 3 meter di Ruli Beverly, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, duka mendalam menyelimuti keluarga kecil Syukron dan Lily.
Putra bungsu mereka, Maulana Ihsan Junaidi (16), siswa kelas 11 IPA SMA Negeri 3 Batam, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis. Kepergiannya menghancurkan harapan dan impian yang selama ini mereka perjuangkan.
Di bawah atap rumah sederhana yang penuh dengan kain jarik yang dijemur, Syukron duduk termenung. Pandangannya kosong, seolah mencari kehadiran sang anak yang tak lagi ada.
"Kami tidak punya firasat apa-apa. Kemarin saya masih memberinya uang jajan sebelum dia berangkat sekolah. Dia pamit akan pulang terlambat karena sore ada les," ujar Syukron dengan mata berkaca-kaca saat diwawancarai Batamnews.co.id, Rabu, 20 November 2024.
Namun kini, janji itu tak akan pernah terpenuhi. Impian besar Maulana untuk masa depannya pun pupus seketika.
Baca juga: Kecelakaan Maut di Taman Raya, Siswa SMAN 3 Batam Meninggal Dunia
Maulana adalah sosok anak penuh harapan. Cita-citanya sederhana namun besar: kuliah di Bandung, membanggakan keluarga, dan membawa kehidupan yang lebih baik untuk orang tuanya.
Setiap hari, ia mengatur waktu dengan rapi—belajar di sekolah, mengikuti les olahraga, hingga membantu kedua orang tuanya mempersiapkan jualan ayam penyet di depan Graha Kepri pada malam hari.
"Dia anak yang rajin dan tak pernah mengeluh," ujar Syukron sambil menyeka air mata yang mulai jatuh.
"Kalau tidak ada kegiatan, dia pasti membantu kami. Dia selalu bilang ingin kami bahagia," lanjutnya.
Di dalam rumah, Lily, sang ibu, tak henti-hentinya menangis. Dengan suara lirih, ia memanggil nama Maulana. Terduduk lemah, ia ditemani putri keduanya yang baru tiba dari Yogyakarta setelah mendengar kabar duka.
"Maulana, Nak... Kenapa cepat sekali pergi?" tangis Lily, memecah keheningan rumah yang hanya ditemani suara kipas angin.
Maulana adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya telah menikah, sedangkan kakak keduanya masih berkuliah di Yogyakarta.
Bagi keluarga ini, Maulana adalah harapan terakhir untuk membawa perubahan. Syukron dan Lily telah bekerja keras, menabung dari hasil berjualan ayam penyet demi masa depan anak mereka.
"Saya dan istri sudah menabung sedikit demi sedikit untuk biaya kuliah Maulana. Dia ingin kuliah di Bandung. Tapi sekarang semuanya hilang, seperti mimpi buruk yang tak pernah kami bayangkan," ungkap Syukron dengan suara bergetar.
Maulana dikenal sebagai sosok yang hangat, ceria, dan penuh semangat. Dalam setiap langkahnya, ia membawa senyum yang mampu menenangkan hati keluarganya. Namun kini, senyuman itu telah tiada.
"Mungkin Tuhan lebih sayang dia," ujar Syukron, mencoba menguatkan diri meski kesedihan terpancar jelas di wajahnya.
Baca juga: Kecelakaan Maut di Taman Raya, Siswa SMAN 3 Batam Meninggal Dunia
Kesedihan ini tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga teman-teman dan guru di SMA Negeri 3 Batam. Maulana, yang dikenal rajin dan aktif di sekolah, meninggalkan banyak kenangan indah bagi mereka yang mengenalnya.
Meski Maulana telah tiada, semangat dan cintanya akan terus hidup di hati keluarganya. Dalam tangisnya, Syukron berharap sang anak diterima di sisi Allah SWT.
"Semoga dia damai di sana. Kami akan selalu mendoakannya," tutup Syukron dengan suara bergetar.
Kepergian Maulana menjadi luka yang tak akan pernah sembuh. Namun, cinta dan harapan keluarga untuknya akan terus hidup, mengiringi Maulana di alam keabadian.

Komentar Via Facebook :