China-Taiwan di Ambang Perang, Senjata Disiagakan

China-Taiwan di Ambang Perang, Senjata Disiagakan

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Taiwan dan China makin memanas sejak kedatangan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi beberapa hari lalu. Terbaru, Taipei menuduh tentara Beijing mensimulasikan serangan ke negaranya pada Sabntu (6/8/2022).

Taipei mengatakan pihaknya mengamati beberapa pesawat dan kapal China yang beroperasi di Selat Taiwan. Sikap ini meyakini bahwa Beijing sedang mensimulasikan serangan terhadap negara demokrasi tersebut.

"Beberapa kelompok pesawat dan kapal Komunis melakukan kegiatan di sekitar Selat Taiwan, beberapa di antaranya melintasi garis median," kata kementerian pertahanan Taiwan dalam sebuah pernyataan, merujuk pada garis demarkasi yang membentang di Selat Taiwan yang tidak diakui Beijing, CNBC Indonesia melansir AFP.

Meski begitu, Taipei tetap menantang dan tak gentar dengan langkah China. Mereka bersikeras tidak akan takut dengan "tetangga jahatnya" tersebut.

Beijing pada Sabtu memang dilaporkan melanjutkan beberapa latihan militer terbesarnya di sekitar Taiwan. Menurut para analis, latihan ini bertujuan mempraktekkan blokade dan invasi akhir ke negara pulau itu.

Dalam upaya untuk menunjukkan seberapa dekat pasukan China telah mencapai pantai Taiwan, militer Beijing merilis video pilot angkatan udara yang merekam garis pantai pulau dan pegunungan dari kokpitnya pada malam sebelumnya.

Beijing juga mengatakan mereka akan mengadakan latihan tembakan langsung di bagian selatan Laut Kuning, yang terletak di antara China dan semenanjung Korea, mulai Sabtu hingga 15 Agustus mendatang.

Penyiar negara China CCTV telah melaporkan bahwa rudal China telah terbang langsung di atas Taiwan selama latihan, menjadi eskalasi besar jika dikonfirmasi.

Selain dengan Taiwan, hubungan China dengan AS juga menukik tajam. Lingkungan menjadi korban terbaru dari pertempuran geopolitik tersebut, karena Beijing mengatakan akan menarik diri dari serangkaian pembicaraan dan perjanjian kerja sama dengan Washington, terutama mengenai perubahan iklim dan kerja sama pertahanan.


Berita Terkait