Pengungsi Afghanistan Unjuk Rasa di DPRD Batam Pertanyakan Kejelasan Nasib

Pengungsi Afghanistan Unjuk Rasa di DPRD Batam Pertanyakan Kejelasan Nasib

Pengungsi Afghanistan berunjuk rasa mempertanyakan kejelasan nasib mereka ke DPRD Batam. (Foto: Margaretha/batamnews)

Batam, Batamnews - Puluhan pengungsi asal Afganistan mendatangi Kantor DPRD Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (22/9/2021).

Mereka mempertanyakan nasib dan meminta agar badan PBB yang menangani pengungsi, yakni UNHCR, agar dapat segera memindahkan para pengungsi ke sejumlah negara tujuan. 

Salah seorang pengungsi, Ali Akbar (24) mengatakan pihaknya meminta kepada DPRD Batam untuk membantu agar proses kepindahan mereka ke negara tujuan bisa dapat dipercepat.

“Kami minta agar nasib kami jadi jelas,” ujar Ali.

Hingga kini, sebutnya, pihak UNHCR belum juga merespons permintaan mereka untuk segera dipindahkan ke negara tujuan. 

Ia menyampaikan sejumlah negara tujuan pengungsi asal Afghanistan ini yaitu Australia, Kanada, New Zealand, dan Amerika Serikat.

Baca: Pengungsi Afghanistan Lahirkan Bayi Perempuan di Pesawat Turkish Airlines

Ali sendiri sudah mulai mengungsi sejak tahun 2013, saat itu usianya baru 16 tahun. Saat itu, Ia tiba di Jakarta, kemudian pindah ke Tanjungpinang, hingga akhirnya ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Sekupang.

“Sudah 8 tahun di Indonesia, saya belum juga tahu kapan bisa dipindah,” ujar Ali yang sudah fasih berbahasa Indonesia.

Mereka menuntut untuk segera dipindahkan dengan tujuan demi keselamatan jiwa mereka, lantaran takut depresi. Selama ini mereka tidak dapat bekerja dan hanya mengandalkan uang saku dari International Organization for Migration (IOM).

Uang saku yang diberikan hanya sebesar Rp 1,1 -1,2 juta per orang setiap bulan untuk orang dewasa, sedangkan anak kecil diberikan Rp 500 ribu per anak setiap bulan.

“Sama sekali tidak bisa bekerja, ini yang buat berat,” katanya.

Baca: Singapura Tawarkan Bantuan ke AS Angkut Pengungsi dari Afghanistan

Selain itu, ia juga mengkhawatirkan pihak keluarganya yang masih tinggal di Afganistan. Anggota keluargnya yang terdiri dari kedua orang tua, adik dan abang hingga kini belum dapat diajak berkomunikasi.

“Semenjak Taliban berkuasa, komunikasi sulit, saya tak tahu kabar mereka,” ucapnya.

Komentar Via Facebook :