Negara Ini Mau Cabut Lockdown di Tengah Lonjakan Covid-19 Demi Idul Adha

Negara Ini Mau Cabut Lockdown di Tengah Lonjakan Covid-19 Demi Idul Adha

Foto: AFP/Munir Uz zaman

Batam, Batamnews - Bangladesh bakal mencabut lockdown nasional demi dapat merayakan rangkaian acara di hari raya Idul Adha 1442 H/2021 M, meski di tengah lonjakan Covid-19.

Melalui pernyataan pada Selasa (13/7/2021), kabinet pemerintahan Bangladesh mengumumkan bahwa mereka bakal mencabut lockdown itu mulai Kamis (15/7/2021), beberapa hari menjelang rangkaian Idul Adha pada 20-22 Juli mendatang.

Sebagaimana dilansir AFP, pemerintah Bangladesh menyatakan bahwa pencabutan lockdown itu akan "menormalisasi aktivitas ekonomi" menjelang perayaan Idul Adha.

Sebagian warga menyambut baik keputusan pemerintah ini karena mereka dapat berkumpul dengan sanak saudara.

Saat aturan lockdown berlaku, para warga memang dilarang keluar rumah kecuali untuk keperluan darurat dan membeli keperluan sehari-hari. Transportasi publik, toko, dan kantor-kantor pun tutup.

Baca juga: Filipina Berencana Susul 6 Negara Lainnya Tutup Pintu Masuk untuk RI

Namun, sejumlah warga lain dan para pakar menentang keputusan pemerintah ini karena Bangladesh sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa waktu belakangan.

Pada Senin (12/7/2021) saja, Bangladesh menembus rekor kasus Covid-19 harian dengan 14 ribu infeksi virus Corona dalam waktu 24 jam. Para pakar bahkan memperkirakan angka tersebut sebenarnya jauh lebih tinggi.

Kepala komite kesehatan yang bertugas memberikan masukan kepada pemerintah, Mohammad Shahidullah, mengatakan bahwa timnya juga tak sepakat dengan keputusan ini.

"Pendapat komite adalah lockdown ketat ini harus dilanjutkan hingga ada tren penurunan infeksi. Selama lockdown, justru masih ada tren peningkatan infeksi dan kematian. Tingkat penularan masih sangat tinggi," ujar Shahidullah.

Sejumlah pihak lain juga mengkhawatirkan keramaian di pasar ketika warga membeli hewan kurban juga dapat berpotensi menjadi sumber penularan Covid-19.

"Ini bisa menjadi bencana. Situasi corona sudah sangat mengkhawatirkan," ujar mantan penasihat kawasan Asia Tenggara untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Muzaherul Huq.

(ruz)