Polda Kepri-KBRI Bahas Pemulangan Jenazah WNI Korban Penembakan Aparat Malaysia

Ilustrasi.

Bintan - Kepolisian Daerah Kepulauan Riau mengirimkan perwakilan menemui Kedutaan Besar RI di Malaysia untuk membahas pemulangan jenazah Firman Bahtiar Amin, WNI yang tewas ditembak aparat Negeri Jiran karena diduga terlibat dalam penyelundupan burung.

Kapolres Bintan, AKBP Bambang Sugihartono, mengatakan kasus telah ditangani oleh Polda Kepri karena menyangkut masalah hukum lintas negara. 

"Polisi sudah membantu untuk upaya proses pemulangan jenazah Amin. Semoga saja bisa segera terlaksanakan," kata Bambang, Rabu (26/8/2020).

Sementara mengenai dua WNI lainnya hingga saat ini masih ditahan oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM). Mereka adalah Cecep dan Made yang diketahui merupakan warga Kabupaten Bintan.

Baca: Kuasa Hukum Ajukan Uji Materil Insiden Penembakan oleh APMM Malaysia

Bambang mengatakan ada tiga WNI yang diamankan di Malaysia karena melakukan penyeludupan Burung Murai. Satu diantara mereka dinyatakan meninggal dunia karena ditembak oleh APMM sedangkan dua orang lagi masih ditahan.

Dari laporan yang diterima, Firman (almarhum) merupakan warga Kampung Bugis, Kelurahan Tanjunguban Utara, Kecamatan Bintan Utara (Binut). Sedangkan dua orang lagi yaitu Cecep dan Made berdomisili di Kecamatan Teluk Sebong. 

"Cecep dan Made tinggal di Bintan. Namun salah satu diantara mereka masih ber KTP Batam," katanya.

Sebelumnya, Urip Santoso, kuasa hukum Amin mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kejadian itu ke Polres Bintan. "Sudah menyampaikan ke pihak kepolisian, kalau informasi dari Malaysia korban (Amin) ditembak karena ingin merampas senjata (petugas APMM), itu yang perlu di uji secara materil," sebutnya.

Ia menyebutkan, berdasarkan informasi dari pihak keluarga, bahwa Amin sehari-hari bekerja secara serabutan. Ia berangkat ke Malaysia bersama temannya pada Minggu (23/8/2020).

"Hanya dua orang temannya lah yang tahu bagaimana kronologi kejadian itu," jelasnya.

(ary)