Nasib Lembaga Penyiaran di Perbatasan Terancam

Yanti Larasati, station manager Batam FM tengah memulai siaran radio (Foto:Batamnews)

Batam - Berada di perbatasan, lembaga penyiaran terus terancam dengan siaran luar negeri yang masuk lancar sebagai pesaing terberat. Setiap hari lembaga penyiaran harus bersaing dengan penyiaran yang terbatas dan susah dijangkau oleh masyarakat lokal sendiri.

Sedangkan siaran dari Singapura bisa ditemukan dengan mudah melalui antena rumah masyarakat baik siaran radio maupun televisi.

Dalam acara diskusi ringan Batamnews, berjudul Efektivitas Undang-undang Penyiaran di perbatasan di Begawan Kupie, Rabu (30/10/2019), lembaga penyiaran radio yang ada di Batam sepakat mengatakan kendala mereka untuk bersaing adalah pada biaya operasional.

Salah satunya adalah faktor biaya listrik yang cukup tinggi. Pelaku lembaga siaran radio juga mengeluhkan biaya listrik yang naik secara perlahan.

Semakin jauh jangkauan siaran, semakin tinggi pula biaya yang harus dikeluarkan. Hal ini juga di akui oleh Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Batam, bahwa jangkauan terpanjang radio di Batam hanya 5 kilo.

"Permasalahan ketertinggalan kita bukan infrastruktur tidak bisa bangun, tapi balik lagi ke biaya personal. Apalagi sekarang pengiklan juga semakin kurang," kata Hengki.

Untuk mengatasi persaingan ini, Hengki berharap lembaga penyiaran lebih kreatif dalam mengolah konten terutama konten lokal.

Terlebih lagi lembaga penyiaran mendapat syarat 10 persen konten lokal yang harus disiarkan setiap harinya. Konten lokal ini diharapkan bisa diolah menjadi hal menarik tidak hanya untuk pemenuhan kuota berita.

"Kita mengaharapkan radio lokal mengangkat kearifan lokal. Dan radio lebih banyak menyisir masyarakat pesisir karena mereka konsumen terbesar," ujarnya.

Praktisi Hukum, Surya Makmur Nasution setuju dengan apa yang disampaikan KPID Kepri. Tak hanya masalah penyajian yang kurang menarik. Tetapi sering kali konten lokal disajikan di jam-jam yang minim pendengar untuk memenuhi kuota tersebut.

"Penyiaran lokal sering kali menampilkan konten lokal hanya sebagai pengingat tapi coba lebih dalami. Garap konten ini lebih serius untuk diangkat menjadi informasi publik," pungkasnya.

Menurutnya, konten lokal tak kalah seksi dengan konten lainnya. Bahkan di tv nasional, konten lokal banyak digemarin penonton karena bisa menyajikan dengan kreatif dan menarik.

(das)

SHARE US :