Tes BRCA Bantu Kenali Gen Pembawa Kanker Payudara
dr Joshua Partogi Saing, spesialis bedah konsultan Onkologi, Rumah Sakit Awal Bros Batam. (Foto: Dyah Asti/batamnews)
Batam - Kanker payudara merupakan musuh yang paling sering menyerang perempuan. Walaupun bisa disembuhkan, namun tak sedikit kasus penyakit ini yang merenggut nyawa penderitanya.
Menurut dokter spesialis bedah konsultan Onkologi, Rumah Sakit Awal Bross, dr Joshua Partogi Saing, kanker payudara bisa diturunkan melalui gen.
Menurut dia, seorang pasien yang terserang kanker payudara berpotensi keluarga lainnya juga akan mengalami hal serupa, seperti terjadi pada artis Hollywood Angelina Jolie.
"Kasus kanker payudara 5-10% diturunkan dari keluarga.90 persennya tidak diketahui penyebabnya," kata Joshua.
Walaupun angkanya terbilang kecil, namun penyakit ini cukup diwaspadai. Pasien bisa mengetahui keluarga lainnya juga berpotensi kanker payudara atau tidak dengan tes BRCA.
Tes BRCA adalah tes genetik kanker payudara, menggunakan tes darah untuk memeriksa mutasi dalam gen.
BRCA merupakan teknologi kesehatan baru bagi Indonesia karena baru dikenalkan pada 2015. Untuk di Batam sendiri BRCA baru pertama kali masuk di rumah sakit Awal Bross Batam
BRCA merupakan bagian pencegahan primer. Namun tidak untuk dilakukan pada bukan penderita dancer. BRCA justru dilakukan oleh pasien kanker payudara untuk mengetahui potensi keluarga lainnya terserang kanker payudara.
"Pemeriksaan si penderita dulu kalau dia positif baru ditelusuri generasi selanjutnya ke anak atau orang tuanya," jelasnya.
Jika dalam pemeriksaan pasien dinyatakan BRCA positif. Maka dokter akan melakukan pemetaan risiko terhadap keluarga lainnya.
Pemeriksaan BRCA dilakukan kepada anggota keluarga lainnya jika ada riwayat keluarga positif BRCA. Hal ini tidak hanya bisa menyerang perempuan saja tetapi juga laki-laki.
"Positif seseorang mewarisi mutasi Barca memiliki peningkatan resiko kanker tertentu," ucapnya
Namun jika hasilnya negatif belum tentu orang tersebut terbebas dari kanker hal ini menurut Joshua justru lebih sulit dipahami.
Persentase penderita kanker payudara yang tidak diketahui penyebabnya lebih besar dari gen kanker itu sendiri.
Oleh karena itu pemeriksaan rutin setiap tahun seperti mamografi, atau MRI, dan uji klinis secara rutin tetap perlu dilakukan. Termasuk pada mantan pasien kanker payudara, karena penyakit ini juga memiliki kemungkinan kambuh
(das)

Komentar Via Facebook :