Sosiolog Nilai Perayaan OTT Bupati Cianjur Mirip Jatuhnya Orba
Warga Cianjur tumpah ruah merayakan OTT Bupati mereka di alun-alun kabupaten (Foto:net/detik)
Jakarta - Warga Cianjur berbondong-bondong ke area alun-alun kabupaten pada Jumat (14/12/2018) siang, untuk merayakan OTT yang dilakukan KPK terhadap Bupati mereka, Irvan Rivano Muchtar. Irvan ditangkap KPK pada Rabu (12/12/2018), ia diduga memangkas Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan.
Melihat hal demikian, warga Cianjur pun berkumpul sambil pesta liwet untuk merayakan penangkapan Irvan. Terlihat serombongan emak-emak menggelar daun pisang dan mengeluarkan panci berisi liwet.
Menanggapi hal itu, Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Imam B Prasodjo menilai, perayaan yang dilakukan warga Cianjur atas penangkapan Irvan mirip dengan peristiwa mahasiswa 'duduki' DPR usai kejatuhan rezim Orde Baru (Orba). Namun, skala peristiwa perayaan di Cianjur itu lebih kecil dibandingkan saat tumbangnya Orba.
"Jadi sistem kekuasaan di sana (Cianjur) rontok, terus orang meluapkan kepuasannya seperti terbebas dari rasa takut. Persis kaya Orde Baru, tapi Orde Baru itu kan dalam lingkup yang lebih luas," kata Imam, Jumat (14/12/2018).
Ia melihat, pesta penangkapan Irvan seperti suatu ekspresi rakyat yang sebelumnya tidak bisa diluapkan. Dia mengibaratkan, Bupati Cianjur sebagai bendungan, sementara warga diibaratkan sebagai air yang dibendung.
"Nah ini ada suasana kebatinan seperti sebuah bendungan yang kuat, yang menahan air bah yang tidak memungkinkan air itu tumpah. Ini kelihatannya ada sebuah suasana di mana bendungan yang selama ini menyumbat itu hancur, jebol, sehingga emosi-emosi yang selama ini tertahan itu seperti kaya mendapatkan jalan keluar," ujarnya.
Imam yakin, ada sesuatu terkait kepemimpinan Irvan yang dipandang negatif oleh warga Cianjur. Irvan sendiri menjabat sebagai Bupati Cianjur mulai tahun 2016. Sementara ayahnya, Tjetjep Muchtar Soleh pernah juga menjabat sebagai Bupati Cianjur sejak 2006-2016.
"Dugaan saya ini pasti ada sebuah rasa, ketidakpuasan yang terakumulasi. Dan memang cerita panjang di balik itu semua. Tapi saya tidak punya kredibilitas untuk bercerita," katanya.
Diketahui, Irvan diduga memangkas Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan. Dari total anggaran itu senilai Rp46,8 miliar, Irvan memotong 14,5 persen untuk dibagi-bagi ke anak buahnya dan 7 persen atau sekitar Rp3,2 miliar masuk ke koceknya.
(*)

Komentar Via Facebook :